• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Kecanduan Alkohol
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Kecanduan Alkohol

Kecanduan Alkohol

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kecanduan AlkoholKecanduan Alkohol

Kecanduan alkohol adalah kondisi saat tubuh telah bergantung pada alkohol dan sulit untuk mengendalikan konsumsinya. Pola konsumsi alkohol seperti ini dapat menimbulkan masalah dan gangguan serius. Seorang pecandu alkohol tidak akan dengan mudah berhenti mengonsumsi alkohol, meski kebiasaan tersebut menyebabkan masalah pada dirinya. 

Parahnya lagi, kondisi ini dapat memunculkan gejala putus zat, jika pecandu tersebut menghentikan konsumsi alkohol. Kondisi ini juga sangat rentan dialami oleh para remaja. 

Sebanyak 35 persen remaja pun dilaporkan pernah meminum alkohol sejak ia masih berusia 15 tahun. Parahnya lagi, di Ameriksa Serikat, alkohol telah menjadi penyebab seseorang dilarikan ke UGD sebanyak 189.000 orang dan menyebabkan 4.300 kasus kematian setiap tahunnya. 

Penyebab Kecanduan Alkohol

Kecanduan alkohol adalah hasil dari gabungan yang cukup kompleks antara faktor genetik, psikologis, dan lingkungan. Alkoholisme tidak memiliki satu penyebab dan tidak diturunkan dari generasi ke generasi di keluarga. Kondisi ini pun bisa dikatakan sebagai salah satu gangguan kesehatan mental.

Alkoholisme juga bisa dialami oleh siapapun. Mereka yang mengidap kondisi ini akan terus minum walaupun minum alkohol berdampak negatif, seperti kehilangan pekerjaan. Beberapa orang bahkan sudah menyadari bahwa kebiasaan mengonsumsi alkohol dapat berdampak buruk. Sayangnya, hal tersebut sering kali tidak cukup untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Mengutip  Journal of Neuroscience, alkohol memicu otak untuk melepaskan dopamin kimia reward-system. Zat tersebut mengarahkan otak untuk menghubungkan perasaan positif dan memotivasi seseorang untuk minim lebih banyak. Selain itu, kebiasaan ini juga mempengaruhi serotonin, yang berperan dalam hal-hal seperti suasana hati dan tidur. 

Saat kamu minum lebih banyak dan mengalami kecanduan alkohol, kamu akan mengalami kesenangan dan gejala penarikan ketika mencoba berhenti minum. Peminum berat akan mulai minum lebih banyak lagi dalam upaya untuk mencegah penarikan sosial.

Faktor Risiko Kecanduan Alkohol

Beberapa faktor risiko kecanduan alkohol, antara lain:

  • Gelisah atau depresi.
  • Memiliki orang tua pecandu alkohol.
  • Perilaku antisosial.
  • Pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual saat kanak-kanak.
  • Muali minum alkohol pada usia yang terlalu dini.

Gejala Kecanduan Alkohol

Beberapa gejala kecanduan alkohol, antara lain:

  • Konsumsi alkohol berlebih, meningkatnya jumlah atau frekuensi konsumsi.
  • Toleransi tinggi terhadap alkohol.
  • Minum di saat yang tidak tepat (pagi hari atau di tempat kerja).
  • Perubahan pada hubungan pertemanan.
  • Perubahan emosi, seperti depresi dan kelesuan.
  • Ketergantungan terhadap alkohol untuk berkegiatan sehari-hari.
  • Menghindari kontak dengan orang terdekat.
  • Bicara yang melantur.
  • Keseimbangan yang buruk dan kecanggungan.
  • Refleks yang terlambat.
  • Tremor pada pagi hari setelah minum.
  • Kehilangan ingatan setelah minum-minum.
  • Gejala sakau saat tidak minum, seperti gemetar, mual, dan muntah.

Diagnosis Kecanduan Alkohol

Dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan psikologis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan pencitraan jika diperlukan. Dokter mungkin juga menggunakan kuesioner yang menilai gangguan penggunaan alkohol untuk membantu mendiagnosis kondisi pengidap. 

Pengobatan Kecanduan Alkohol

Pengobatan pada mereka yang mengalami kecanduan alkohol bertujuan untuk menghentikan asupan alkohol dan memperbaiki kualitas hidup. Beberapa jenis penanganan yang dapat dilakukan, meliputi:

  • Program detoks dan lepas dari alkohol.
  • Melatih diri menentukan rencana penanganan.
  • Melatih keterampilan tertentu.
  • Konseling dan penanganan untuk masalah psikologis.
  • Pengobatan baik berupa oral maupun suntikan.
  • Dukungan yang berkesinambungan.
  • Penanganan medis untuk kondisi kesehatan.

Ada juga beberapa obat yang dapat membantu seseorang yang kecanduan alkohol, yaitu:

  • Naltrexone (ReVia). Obat ini digunakan hanya setelah seseorang melakukan detoksifikasi dari alkohol. Obat ini bekerja dengan memblokir reseptor tertentu di otak yang berhubungan dengan alkohol “tinggi”. Jenis obat ini digunakan bersamaan dengan konseling, untuk membantu mengurangi keinginan seseorang akan alkohol.
  • Acamprosate. Ini adalah obat yang dapat membantu membangun kembali keadaan kimia asli otak sebelum ketergantungan alkohol. Obat ini juga harus dikombinasikan dengan terapi.
  • Disulfiram (Antabuse). Ini adalah obat yang menyebabkan ketidaknyamanan fisik (seperti mual, muntah, dan sakit kepala) setiap kali seseorang mengonsumsi alkohol.

Komplikasi Kecanduan Alkohol

Beberapa komplikasi akibat kecanduan alkohol, antara lain:

  • Gangguan otak dan saraf.
  • Penyakit liver.
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Masalah pencernaan.
  • Gangguan menstruasi dan fungsi seksual.
  • Masalah kehamilan.
  • Masalah penglihatan.
  • Komplikasi diabetes.
  • Kerusakan tulang.
  • Kanker.
  • Rentan terserang infeksi. 

Pencegahan Kecanduan Alkohol

Beberapa upaya untuk mencegah kecanduan alkohol. Antara lain adalah dengan intervensi dini untuk mencegah masalah konsumsi alkohol pada remaja. Selain itu, pengenalan pola perilaku sejak dini dapat dilakukan, supaya penyalahgunaan alkohol tidak berkepanjangan.

Kapan Harus ke Dokter?

Bila kamu atau memiliki anggota keluarga memiliki masalah kecanduan alkohol dan ingin menghentikannya, segera kunjungi dokter di rumah sakit. Temukan dokter yang tepat di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc agar segera mendapatkan perawatan. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Alcohol Use Disorder.
Healthline. Diakses pada 2022. Alcoholism.
Psychology Today. Diakses pada 2022. Alcohol Use Disorder.
Diperbarui pada 19 Mei 2022.