Keracunan Karbon Monoksida

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Keracunan Karbon Monoksida

Karbon monoksida (CO) berasal dari pembakaran bahan karbon yang tidak sempurna. Sumber-sumber CO banyak dan merupakan polutan yang paling banyak selain CO2. CO tidak berasa, tidak berbau, dan tidak berwarna. Efek keracunan CO pada manusia memiliki gejala yang bervariasi. Banyak kasus keracunan CO bersifat fatal. Keracunan CO adalah penyebab utama kematian korban kebakaran.

Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Gejala keracunan CO dapat berupa sakit kepala, pusing, lemah, dan mual. Denyut jantung dan nafas bisa menjadi lebih cepat , tekanan darah dapat menurun. Kebingungan, penurunan kesadaran, linglung dan kehilangan memori dapat terjadi. Pada penglihatan, gejala keracunan CO dapat berupa perdarahan pada retina hingga kebutaan.  Ginjal juga dapat terpengaruh oleh keracunan CO ini. Orang yang mengalami keracunan CO dapat kehilangan kemampuan koordinasi atas gerakan otot dan juga dapat kehilangan kemampuan untuk menggerakkan otot.

Penyebab Keracunan Karbon Monoksida

Gejala keracunan CO disebabkan karena pengaruhnya terhadap pengikatan oksigen ke molekul hemoglobin. CO mengikat hemoglobin membentuk karboksihemoglobin (COHb) dengan ikatan yang lebih besar terhadap hemoglobin daripada oksigen sehingga oksigen tidak dapat dibawa hemoglobin menyebabkan organ serta sel tubuh kekurangan oksigen.

Faktor Risiko Keracunan Karbon Monoksida

Orang yang terpapar sumber CO dapat berisiko mengalami keracunan CO. Sumber umum  CO adalah mesin, pemanas ruang non-listrik, tungku, dan asap dari kebakaran. Keracunan juga dapat terjadi dari inhalasi atau penyerapan methylene chloride (diklorometana) melalui kulit. Bahan kimia ini yang biasa digunakan dalam pelarut untuk menghilangkan cat. CO juga dapat dihasilkan dari kompor rusak, panggangan arang, dan tungku atau pemanas yang tidak berventilasi atau rusak digunakan di dalam ruangan. Anak-anak dan orang tua dengan masalah kesehatan seperti  penyakit jantung, saraf, dan paru-paru lebih berisiko mengalami keracunan CO karena toleransi tubuh terhadap paparan CO lebih rendah dibanding kelompok usia lain.

Diagnosis Keracunan Karbon Monoksida

Dokter akan menilai kemungkinan keracunan CO dari anamnesa yakni wawancara mengenai kondisi sekitar saat keracunan terjadi dan juga pemeriksaan fisik. Tes lain  yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan darah arteri, pengambilan darah vena untuk analisis hitung darah lengkap, elektrolit, kadar kreatinin dan urea untuk melihat kerusakan ginjal  dan juga troponin, EKG dan rontgen dada juga akan diperiksa.

Pengobatan dan Efek Samping Keracunan Karbon Monoksida

Pengobatan utama untuk keracunan CO adalah terapi oksigen yang harus dimulai sesegera mungkin dan dilanjutkan selama perawatan. Orang yang mengalami keracunan berat dengan gejala kehilangan kesadaran sementara, tanda kekurangan oksigen pada jantung, perubahan kesadaran, denyut jantung yang meningkat, penurunan tekanan darah, bersama dengan peningkatan kadar karboksihemoglobin harus diobati dengan terapi hiperbarik oksigen. Terapi hiperbarik oksigen cukup aman tetapi mungkin memiliki efek samping seperti rabun jauh sementara, kejang, risiko kebakaran, kerusakan telinga tengah, dan kerusakan paru-paru.

Pencegahan Keracunan Karbon Monoksida

Upaya pencegahan keracunan CO yang terutama dilakukan di luar negeri diantaranya pemasangan detektor CO di rumah mengingat CO bisa berasal dari kompor dan alat pemanas ruangan. Jika keracunan CO adalah upaya bunuh diri, konsultasi kesehatan mental harus diperoleh sebelum pasien keluar dari rumah sakit. Termasuk dalam upaya pencegahan keracunan CO adalah edukasi pencegahan dan penanganan awal kebakaran dan korban kebakaran. Berhenti merokok juga merupakan bagian dari pencegahan keracunan CO.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika merasa mungkin terpapar oleh CO dan mengalami gejala keracunan CO sebaiknya  segera mendapat penanganan dari dokter. Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala - gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu di sini.