Kernikterus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Kernikterus

Kernikterus adalah kelainan akibat kelebihan bilirubin merusak otak, terutama bagian ganglia basal, hipokampus, serebelum, dan nukleus dari lantai ventrikel keempat. Pada bayi baru lahir, kadar bilirubin yang sangat tinggi dapat menembus sampai ke otak hingga menimbulkan kerusakan otak. Bilirubin merupakan pigmen berwarna kuning kecokelatan yang ditemukan di dalam empedu, darah, dan tinja. Bilirubin berasal dari pemecahan hemoglobin di sel darah merah dan perombakan zat lain.

 

Faktor Risiko Kernikterus

Risiko kernikterus meningkat jika seseorang memiliki penyakit hemolitik yang tidak diobati dan kadar bilirubin lebih dari 25-30 mg/dL. Kelebihan bilirubin lebih berisiko pada bayi yang mengidap penyakit kuning pada 24 jam pertama kehidupan, riwayat saudara kandung pernah menerima fototerapi, ras Asia Timur, bayi laki-laki, usia ibu lebih dari 25 tahun, dan pengidap diabetes.

 

Penyebab Kernikterus

Penyebab kernikterus bersifat multifaktorial, melibatkan interaksi antara kadar bilirubin dan kadar albumin yang mengikat, perjalanan melewati sawar darah otak, dan kerentanan saraf terhadap cedera. Gangguan sawar darah otak hingga bilirubin dapat menembus ke otak akibat penyakit, kekurangan oksigen (asfiksia), perubahan permeabilitas sawar darah otak, dan faktor lainnya.

 

Gejala Kernikterus

Ketika bayi mengalami sakit kuning, umumnya perubahan warna kulit pada wajah merupakan gejala yang paling mudah dilihat. Jika kadar bilirubin makin meningkat, gejala perubahan warna tersebut akan menyebar ke bagian tubuh lainnya, seperti dada, perut, kaki, dan tangan. Pengamatan terhadap gejala akan sulit untuk dilakukan jika bayi berkulit yang berwarna gelap.

Sementara itu, kadar biliburin yang makin meningkat hingga menembus ke otak dapat menimbulkan gejala kerusakan otak. Kondisi tersebut dikenal dengan ensefalopati bilirubin akut. Tanda yang dapat timbul termasuk refleks yang lambat, postur abnormal yang membuat punggung melengkung karena kejang otot (opistotonus), kontraksi otot berulang, sehingga leher menjadi tertarik ke belakang (retrocollis), otot lemas (hipotonia), muntah, tangisan bernada tinggi, suhu badan tinggi (hiperpireksia), kejang, rewel, sulit minum susu (termasuk ASI), dan kesulitan bernapas.

Dalam jangka waktu yang lama, kondisi ini menyebabkan ensefalopati bilirubin kronis yang ditandai dengan kelenturan, gerakan tidak terkendali (koreoatetosis), kerusakan gigi, gangguan pendengaran, kognitif tidak berfungsi, dan ketidakmampuan belajar.

 

Diagnosis Kernikterus

Bayi kuning didiagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik langsung dan pemantauan dalam minggu pertama lahir. Jika ada tanda yang tidak normal, bayi akan diambil darah untuk mengukur kadar bilirubin. Kadar bilirubin normal pada bayi yang baru lahir di bawah 5 mg/dL.

 

Pengobatan Kernikterus

Kernikterus diobati untuk mencegah kerusakan saraf di otak terkait dengan bilirubin yang menembus ke otak. Pilihan pengobatan antara lain fototerapi dan transfusi tukar. Efek samping fototerapi antara lain tinja lunak, ruam kemerahan, dehidrasi (kehilangan cairan), hipotermia akibat paparan, dan baby bronze syndrome (kulit bayi jadi gelap atau abu kecokelatan). Sedangkan, transfusi tukar dapat mengakibatkan komplikasi berupa asidosis metabolik, kelainan elektrolit, hipoglikemia, hipokalsemia, trombositopenia, volume berlebih, aritmia, infeksi, penyakit graft versus host, hingga kematian.

 

Pencegahan Kernikterus

Pencegahan terhadap kernikterus bisa dilakukan dengan skrining pada bayi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kadar bilirubin pada 24-48 jam pertama setelah lahir. Selain itu, skrining pada bayi juga dilakukan untuk medeteksi apakah bayi memiliki risiko tinggi untuk mengalami kernikterus, atau tidak.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bayi baru lahir sebaiknya selalu dipantau karena kernikterus adalah kondisi gawat darurat. Segera bawa ke dokter jika Si Kecil tidak mau menyusu, demam, terlihat kuning, menangis tanpa alasan jelas, muntah, kejang, dan mengalami gangguan pernapasan. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2019. Kernicterus: Symptoms, Tests, Diagnosis, and Treatment

Diperbarui pada 13 September 2019