Lichen Sclerosus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Lichen Sclerosus

Lichen Sclerosus (LS) adalah penyakit peradangan kronis paling sering mengenai kulit genitalia (Miss V dan Mr P), sekitar anus, tapi dapat terjadi kulit tubuh bagian mana saja (LS ekstragenital). LS menimbulkan bercak putih mengkilap yang lebih tipis dari kulit normal.

Penyakit ini sering pada anak-anak atau dewasa setelah menopause. Penyakit ini lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria.

 

Gejala Lichen Sclerosus

Pada kasus-kasus ringan dari LS terkadang tidak menimbulkan gejala apapun selain dari kulit yang terkena terlihat putih mengkilap, dan agak terangkat dibanding kulit normal disekitarnya. Terlebih lagi jika terkena LS genital, mungkin tidak terlihat, kecuali sudah terdapat gejala lainnya.

Gejala dari LS berdasarkan lokasinya, antara lain :

  1. LS Genital pada wanita. Pada wanita lokasi tersering adalah vulva dan dapat menyebar hingga anus dan perineum (daerah sekitar Miss V dan anus). LS pada wanita tidak mengenai mukosa Miss V. Gejalanya berupa kulit lebih tipis dibandingkan dengan kulit normal disekitarnya, dapat pula berbentuk lepuhan kulit, kulit berkerut, gatal dengan intensitas ringan sampai berat, dan apabila digaruk kulit dapat rusak atau pecah-pecah, terbentuk luka sehingga menimbulkan nyeri dan kadang-kadang berdarah. Pada prosesnya, peradangan kronis LS vulva akan menimbulkan jaringan parut yang menyebabkan pintu masuk vagina menjadi lebih sempit dan mengeras, sehingga menyebabkan rasa sakit saat berhubungan intim dan rasa tidak nyaman saat buang air kecil. Pada LS yang mengenai anus, jaringan parut tersebut membuat ketidaknyamanan saat buang air besar, sehingga membuat kecenderungan sembelit, terutama pada anak-anak dan wanita usia menopause.
  2. LS Genital pada laki-laki. Lesi LS pada pria biasanya terbatas pada kepala Mr P (glans penis) dan kulup (kulit preputium). Keterlibatan batang Mr P, skrotum, dan anus jarang terjadi. Bentuk lesinya sama, hanya saja karena lokasi LS pada pria terdapat di kepala Mr P dan kulit kulup, jaringan parut yang terbentuk di tempat tersebut menyebabkan nyeri saat berhubungan intim, nyeri saat ereksi yang disebabkan kulup tidak elastis karena jaringan parut, dan kesulitan buang air kecil karena jaringan parut mengenai kepala Mr P dan membuat urethra menyempit.
  3. LS Ekstragenital. Lokasi LS ekstragenital dapat terjadi di kulit tubuh bagian mana saja, seperti tangan, kaki, punggung, payudara, dll. Lesi LS ekstragenital sama seperti lesi LS pada kulit genital, yaitu kulit terlihat putih mengkilap, agak terangkat dari kulit normal disekitarnya, kulit terlihat lebih kering, terdapat lepuhan, dan luka. Gejalanya sama yaitu gatal dan dapat menimbulkan nyeri.

 

Penyebab Lichen Sclerosus

Pada LS, terjadi peradangan dan perubahan fungsi dari sel fibroblast pada lapisan kulit dermis yang menyebabkan terbentuknya fibrosis atau jaringan parut. Penyebab pasti kenapa terjadi peradangan tersebut belum diketahui, tapi diduga beberapa faktor dapat menyebabkan seseorang memiliki risiko terkena LS, seperti faktor genetik, autoimun, dan hormonal.

 

Faktor Risiko Lichen Sclerosus

Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan seseorang terkena LS, meliputi:

  1. Jenis Kelamin. Wanita memiliki risiko 6 kali lebih besar terkena LS dibanding pria
  2. Faktor usia. Risiko LS lebih tinggi pada wanita pasca menopause dan pada anak-anak sebelum usia pubertas.
  3. Faktor Genetik. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga mengidap LS memiliki risiko lebih tinggi.
  4. Faktor Autoimun. Seseorang yang memiliki penyakit autoimun seperti penyakit autoimun thyroid, arthritis rheumatoid, vitiligo memiliki risiko mengidap LS lebih tinggi dibanding yang tidak.
  5. Faktor Hormonal. Seperti disebutkan diatas, wanita pascamenopause memiliki kecenderungan lebih tinggi mengidap LS. Pada wanita pasca menopause, hormon estrogen dan hormon androgenik seperti testosteron bebas dan androstenedion menurun. Hal ini menunjukkan status hormonal memegang peranan dalam timbulnya LS.
  6. Faktor Lainnya :
    1. Trauma. Bekas luka lama atau lokasi kulit yang rentan terhadap gesekan terus menerus berisiko tinggi menjadi LS.
    2. Pria yang tidak sunat. Paparan urine yang terus-menerus, seperti pada pria yang tidak disunat, sisa urine dapat terkumpul pada kulit kulup menimbulkan kerusakan kecil pada kulit kulup yang terjadi terus menerus dan hal ini meningkatkan risiko LS.

 

Diagnosis Lichen Sclerosus

Untuk mendiagnosis LS didasarkan pada gejala dan pemeriksaan fisik pada pengidap. Jika diperlukan, pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah biopsi pada lesi kulit LS dan diperiksa di bawah mikroskop.

 

Pencegahan Lichen Sclerosus

Seperti halnya penyebab dari LS yang tidak diketahui secara pasti, maka upaya pencegahan agar seseorang tidak terkena LS belum ada.

 

Pengobatan Lichen Sclerosus

LS merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tapi dapat diobati. Kebanyakan kasus LS pada anak-anak akan sembuh sendiri saat usia remaja. Tujuan pengobatan pada LS adalah mengurangi gatal, memperbaiki kerusakan pada kulit, dan mencegah atau menghilangkan jaringan parut. Pengobatan lesi LS menggunakan krim atau salep kortikosteroid (paling sering dengan clobetasol propionate 0.05 persen) yang berfungsi untuk meredakan peradangan dan mengurangi gejala.

Salep ini dioleskan tipis-tipis pada lesi LS satu kali sehari sampai lesi berkurang atau menyembuh. Biasanya lesi akan berkurang atau menyembuh sekitar 3-6 bulan, tapi tetap harus kontrol ke dokter setiap 2–3 minggu agar dapat dievaluasi efek obat terhadap lesi LS atau ada tidaknya efek samping obat yang muncul. Apabila lesi tidak menyembuh maka dokter akan menambahkan obat-obatan imunosupresi, seperti tacrolimus atau pimecrolimus.

Pengobatan dengan methotrexate, cyclosporine, injeksi steroid, topikal atau oral retinoid dipertimbangkan pada kasus-kasus yang tidak kunjung sembuh dengan pengobatan sebelumnya. Pada LS ekstragenital dapat diberikan terapi sinar ultraviolet.

Pada kasus tertentu dibutuhkan operasi untuk mengatasi LS, seperti jaringan parut sudah terbentuk membuat pintu masuk vagina menyempit, uretra pada pria menyempit menyebabkan gangguan hubungan intim atau kesulitan buang air kecil. Khitan atau sunat disarankan pada semua pria dengan lesi LS pada kulup dengan atau tanpa keluhan saat ereksi dan buang air kecil.

Selain pengobatan di atas, pengidap LS disarankan untuk melakukan perawatan mandiri di rumah, seperti

  • Mengoleskan pelembap yang tepat pada daerah yang terkena
  • Menghindari sabun mandi yang beraroma dan mengandung deterjen karena dapat mengiritasi kulit
  • Mengenakan pakaian yang longgar dan pakaian dalam yang tidak ketat  yang terbuat dari serat alami agar tidak lembab
  • Menghindari menggaruk atau mengusap daerah lesi agar tidak iritasi
  • Menggunakan lubrikan saat hendak melakukan hubungan intim
  • Membersihkan alat kelamin setelah buang air kecil untuk menghindari iritasi kulit oleh urine.



Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat dekat memiliki gejala-gejala tersebut di atas, sebaiknya diskusikan dengan dokter sebelum memulai terapi sendiri. Penanganan yang tepat dan cepat dapat mengurangi risiko terjadinya terbentuknya jaringan parut yang merupakan komplikasi LS. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang diinginkan di sini.