Limfogranuloma Venereum

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Limfogranuloma Venereum

Limfogranuloma venereum, atau disingkat sebagai LGV, merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini dapat menembus kulit dan menyebabkan penyumbatan di sekitar node. Limfogranuloma venereum dapat menyerang node limfa, alat kelamin bagian luar, rektum, dan mulut. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya komplikasi.

 

Gejala Limfogranuloma Venereum

Gejala dari LGV dapat dirasakan beberapa hari hingga sekitar satu bulan setelah bakteri masuk ke dalam tubuh pengidapnya. Beberapa gejalanya, antara lain:

  • Keluar cairan limfe dari kulit, yang berasal dari kelenjar limfe di selangkangan.
  • Keluar darah atau nanah dari rektum.
  • Luka kecil yang tidak nyeri pada genitalia pria atau wanita.
  • Nyeri saat buang air besar.
  • Pembengkakan dan kemerahan pada kulit di area selangkangan.
  • Pembengkakan kelenjar limfe selangkangan pada satu atau dua sisi.
  • Pembengkakan labia pada wanita.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Limfogranuloma Venereum

Limfogranuloma venereum merupakan suatu infeksi kronis sistem limfatik yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis. Bakteri ini ditularkan melalui kontak seksual, meliputi hubungan seks vaginal, anal, dan oral. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada pria dibandingkan pada wanita. Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ini, antara lain:

  • Melakukan seks yang tidak aman (tidak menggunakan kondom, berganti-ganti pasangan, berhubungan seks dengan orang yang riwayat seksualnya tidak jelas).
  • Memiliki penyakit menular seksual lainnya.
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Mengidap infeksi HIV.

 

Diagnosis Limfogranuloma Venereum

Dokter akan mendiagnosis LGV dengan melakukan wawancara medis lengkap, pemeriksaan fisik yang menyeluruh, serta pemeriksaan penunjang yang sesuai, antara lain:

  • Biopsi kelenjar limfe.
  • Pemeriksaan laboratorium darah untuk mengevaluasi adanya bakteri penyebab LGV.
  • Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi klamidia.
  • Kultur Chlamydia trachomatis.
  • CT scan untuk mendeteksi jangkauan dan banyaknya limfadenopati yang terjadi.
  • Kolonoskopi dan sigmoidoskopi untuk mengidentifikasi penyebab gejala anorektal pada tersangka pengidap LGV dan dapat dilakukan bersama dengan biopsi jaringan rektum dan anus.
  • Tes fiksasi komplemen untuk mendeteksi antibodi atau antigen spesifik dalam darah.

 

Pencegahan Limfogranuloma Venereum

Beberapa upaya pencegahan dari LGV, antara lain:

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan seksual secara rutin bagi mereka yang aktif secara seksual.
  • Menggunakan kondom secara konsisten dan tepat saat melakukan hubungan seksual.
  • Menghindari penggunaan sex toys karena dapat meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual.

 

Pengobatan Limfogranuloma Venereum

Metode pengobatan untuk mengatasi LGV, antara lain:

  1. Pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab LGV. Antibiotik yang dapat diberikan, antara lain adalah:
  • Doxycycline, yang merupakan antibiotik primer yang harus diberikan kepada pengidap LGV. Obat ini dapat diberikan kepada pengidap LGV baik yang positif terkena HIV maupun yang tidak terkena HIV. Kendati demikian, Doxycycline tidak boleh diberikan kepada wanita hamil.
  • Erythromycin, yang merupakan antibiotik kategori B pada kehamilan, Obat ini relatif aman diberikan kepada wanita hamil dengan LGV.
  • Azithromycin.
  • Moxifloxacin.
  1. Tindakan pembedahan untuk mengalirkan nanah keluar atau untuk mengangkat kelenjar getah bening yang membesar. Setelah menjalani prosedur ini, pengidap akan diberikan obat pereda nyeri dan pencegah terbentuknya ulkus. Pembedahan juga dapat dilakukan kepada pengidap LGV dengan komplikasi penyempitan rektum.

 

Baik pengidap maupun pasangan hubungan seksualnya, harus menghindari hubungan seksual yang tidak aman hingga keduanya selesai menjalani pengobatan LGV. Evaluasi rutin selama pengobatan LGV dapat berlangsung selama 1-2 minggu bagi pengidap LGV tahap awal, dan 3-6 minggu bagi pengidap LGV tahap lanjut.

 

Kapan harus ke Dokter?

Jika seseorang mengalami beberapa gejala di atas secara terus-menerus, memiliki faktor risiko untuk mengidap LGV, serta memiliki riwayat hubungan seksual yang tidak aman, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu di sini.