Obesitas

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Obesitas

Istilah obseitas adalah suatu kondisi yang menggambarkan seseorang memiliki badan yang sangat gemuk dan mengandung banyak lemak pada tubuhnya. Terdapat bermacam cara untuk melakukan klasifikasi terhadap kegemukan, tetapi metode yang paling banyak digunakan adalah menggunakan indeks massa tubuh (IMT). IMT dilakukan dengan mengukur perbandingan antara berat badan (kilogram) dan tinggi badan (meter) kuadrat.

Baca juga: Pengidap Obesitas Rentan Alami Nyeri Tumit, Benarkah?

 

Faktor Risiko Obesitas

Faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena obesitas adalah genetik, gaya hidup keluarga, tidak aktif, diet tidak sehat, masalah medis tertentu, konsumsi obat-obatan tertentu, masalah sosial dan ekonomi, usia, kehamilan, kurang tidur.

 

Penyebab Obesitas

Obesitas terjadi ketika kadar kalori masuk lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal tersebut menyebabkan energi menjadi berlebihan, sehingga diubah menjadi cadangan dalam bentuk lemak. Selain itu, pengaruh genetik, perilaku dan hormonal pada berat badan juga menjadi salah satu penyebab obesitas.

Obesitas dapat ditelusuri ke penyebab medis, seperti sindrom Prader-Willi, sindrom Cushing, penyakit dan kondisi lainnya. Namun, gangguan ini jarang terjadi. Secara umum, penyebab utama obesitas adalah jarang beraktivitas serta pola makan dan kebiasaan makan yang tidak sehat.

 

Gejala Obesitas

Umumnya obesitas tahap awal tidak memiliki gejala yang berdampak pada tubuh. Pengidap tidak menyadari bahwa berat badannya terus meningkat serta pakaian lama menjadi kekecilan. Pengidap umumnya baru akan menyadari gejala tersebut setelah kerabat atau lingkungan sekitarnya mengingatkan dan memberi tahu. Diagnosis obesitas terjadi ketika indeks massa tubuh (BMI) adalah 30 atau lebih tinggi.

Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Bagi kebanyakan orang, BMI memberikan perkiraan lemak tubuh yang masuk akal. Sayangnya, BMI tidak secara langsung mengukur kadar lemak dalam tubuh, sehingga beberapa orang, seperti atlet, memiliki BMI dalam kategori obesitas meskipun mereka tidak memiliki kelebihan lemak tubuh.

 

Diagnosis Obesitas

Anamnesis akan ditanyakan mengenai riwayat berat badan sebelumnya, upaya penurunan berat badan, kebiasaan olahraga, pola makan, kondisi lain apa yang miliki, obat-obatan, tingkat stres, dan masalah lain tentang kesehatan.

Riwayat kesehatan keluarga juga ditinjau untuk melihat adanya faktor resiko. Pemeriksaan fisik umum termasuk mengukur tinggi badan, memeriksa tanda-tanda vital, seperti denyut jantung, tekanan darah dan suhu, mendengarkan hati dan paru-paru, dan memeriksa abdomen.

Hal ini harus dilakukan paling tidak setahun sekali. Setelahnya, untuk menentukan tingkat obesitas, maka berat badan dan tinggi badan diukur guna memeriksa indeks massa tubuh (BMI). Pengukuran tersebut harus dilakukan minimal setahun sekali.

BMI juga membantu menentukan risiko kesehatan keseluruhan dan perawatan apa yang mungkin sesuai. Selanjutnya, mengukur lingkar pinggang atau lemak visceral. Kemudian, memeriksa masalah kesehatan lainnya, seperti tekanan darah tinggi dan diabetes. Tes darah penting dilakukan untuk melihat faktor risiko dan gejala yang dapat dialami. Tes mungkin termasuk tes kolesterol, tes fungsi hati, glukosa puasa, tes tiroid dan lain-lain. Mungkin juga direkomendasikan tes jantung tertentu, seperti elektrokardiogram.

Baca juga: Obesitas Bisa Picu Obstructive Sleep Apnea, Ini Alasannya

 

Pengobatan Obesitas

Memiliki pola makan sehat, diet rendah kalori, dan olahraga secara teratur adalah cara terbaik untuk mengobati obesitas. Lakukan diet berisi makanan seimbang, mengontrol kalori, dan juga melakukan aktivitas fisik untuk meningkatkan pembakaran energi dan cadangan energi.

Pada pengidap obesitas berat tanpa adanya penyakit lain dapat dipertimbangkan obat sindroma metabolik Metformin dan penurun nafsu, seperti Orlistat. Meskipun jarang terjadi, tetapi pembedahan lambung dapat dilakukan. Kamu bisa temukan berbagai obat diet lainnya di Halodoc untuk menangani obesitas.

 

Pencegahan Obesitas

Langkah-langkah untuk mencegah kenaikan berat badan, yaitu dengan olahraga harian, diet sehat, dan komitmen jangka panjang untuk mengawasi apa yang dimakan dan minum.

Berolahraga secara teratur berupa aktivitas intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit seminggu untuk mencegah penambahan berat badan. 

Kegiatan fisik yang cukup intens termasuk berjalan cepat dan berenang. Ikuti rencana makan sehat, dengan fokus pada makanan rendah kalori, makanan padat nutrisi, seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan biji-bijian. Hindari lemak jenuh dan batasi permen dan alkohol. Makan tiga kali sehari dengan camilan terbatas.

Awasi dan pelajari makanan sehari-hari dan selalu berat badan secara teratur dan konsisten. Proses menurunkan berat badan tidak mudah dan singkat, serta penerapan pola hidup sehat juga tidak boleh dijadikan sementara. Hal yang terpenting adalah memiliki pola pikir bahwa gaya hidup sehat harus dilakukan terus-menerus, bila berat badan menurun itu adalah bonus dari tubuh yang sehat.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu memiliki berat badan berlebih dan sulit bergerak dalam aktivitas sehari-hari, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kamu dapat melakukan janji temu dengan dokter di rumah sakit yang terbaik dan dekat dengan tempat tinggalmu melalui Halodoc.  

Baca juga: Kebiasaan Melewatkan Sarapan Bisa Sebabkan Obesitas

Referensi:
NHS.uk (di akses pada 2019). Obesity

Diperbarui pada 13 Agustus 2019