Penyakit Hashimoto

Pengertian Penyakit Hashimoto

Penyakit hashimoto atau dikenal juga dengan istilah tiroiditis hashimoto merupakan salah satu jenis penyakit autoimun yang menyerang kelenjar tiroid. Penyakit ini menyebabkan kelenjar tiroid meradang, terdestruksi, dan akhirnya kelenjar tersebut tidak mampu lagi menghasilkan hormon tiroid.

 

Gejala Penyakit Hashimoto

Pengidap penyakit hashimoto menunjukkan gejala hipotiroidisme. Gejala yang sering ditemukan adalah mudah lelah, berat badan cenderung makin bertambah meskipun tidak makan banyak, dan kulit cenderung kering.

Selain itu, gejala lain yang dapat terjadi adalah:

  • Tidak tahan dingin
  • Terdapat benjolan di leher yang merupakan tanda pembesaran kelenjar tiroid
  • Gangguan konsentrasi dan mudah lupa
  • Kram pada tulang dan otot
  • Rambut mudah rontok
  • Nyeri atau kesemutan pada tangan dan kaki
  • Haid tidak teratur dan gangguan kesuburan
  • Mengorok saat tidur

 

Penyebab Penyakit Hashimoto

Penyebab pasti dari penyakit hashimoto belum diketahui dengan jelas. Namun pada kebanyakan pengidap penyakit ini ditemukan antibodi yang menghambat reseptor tirotropin (hormon dari otak yang merangsang keluarnya hormon tiroid). Hal ini menyebabkan ‘kekacauan’ pada kelenjar tiroid, sehingga kelenjar tiroid tak lagi mampu menghasilkan hormon.

Penyakit hashimoto lebih banyak dialami oleh kaum wanita. Usia terbanyak pengidap berkisar antara usia 30–50 tahun.

 

Faktor Risiko Penyakit Hashimoto

Penyakit Hashimoto 8 kali lebih umum terjadi pada wanita usia 40-60 tahun.Selain itu, orang dengan kondisi tertentu juga lebih berisiko terkena penyakit ini, di antaranya:

  • Hepatitis autoimun (penyakit di mana sistem kekebalan tubuh menyerang hati)
  • Penyakit celiac (gangguan pencernaan)
  • Lupus (gangguan kronis yang dapat memengaruhi bagian tubuh)
  • Anemia pernisiosa (suatu kondisi yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12)
  • Rheumatoid arthritis (gangguan yang mempengaruhi sendi)
  • Sindrom Sjögren (penyakit yang menyebabkan mata dan mulut kering)
  • Diabetes tipe 1 (gangguan insulin dalam menjaga kadar gula darah)
  • Vitiligo (kondisi kulit yang tidak berpigmen)
  • Pernah menjalani operasi pada area sekitar kelenjar tiroid atau mendapatkan terapi radiasi di sekitar dada.

 

Diagnosis Penyakit Hashimoto

Pada pemeriksaan awal, dokter akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik. Bila terdapat dugaan penyakit hashimoto, sebagai pemeriksaan laboratorium awal, dokter akan menganjurkan pengidap untuk melakukan pemeriksaan hormon tiroid, berupa pemeriksaan TSH (thyroid stimulating hormone) dari darah dan T4 bebas. Pada pengidap hashimoto, akan ditemukan kadar TSH yang meningkat dan kadar T4 bebas yang rendah atau normal.

Setelah itu, akan dilakukan pula pemeriksaan antibodi yaitu anti-TPO (anti thyroid peroxidase). Sebagian besar pengidap hashimoto memiliki anti-TPO yang positif di dalam darahnya. Untuk memastikan diagnosis, biopsi kelenjar tiroid perlu dilakukan. Hasil biopsi penyakit hashimoto akan menunjukkan banyaknya sel limfosit pada kelenjar tiroid.

 

Pencegahan Penyakit Hashimoto

Hingga saat ini belum ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit hashimoto.

 

Pengobatan Penyakit Hashimoto

Pengidap penyakit hashimoto akan berada dalam kondisi hipotiroid (kadar hormon tiroid dalam tubuh yang rendah) seumur hidupnya. Namun, hal ini dapat diatasi dengan pemberian obat levotiroksin yang dikonsumsi seumur hidup. Levotiroksin merupakan “pengganti” hormon tiroid. Konsumsi levotiroksin akan membuat kadar hormon tiroid tetap normal, sehingga metabolisme tubuh berjalan baik.

Pengobatan penyakit ini dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam, terutama yang memiliki keahlian dalam bidang endokrin metabolik. Pengidap penyakit hashimoto harus kontrol ke dokter dan memeriksa kadar hormon tiroid di dalam darahnya secara rutin. Hal ini penting untuk mencegah kekurangan atau kelebihan levotiroksin yang dikonsumsi.

Pada tahap awal pengobatan, pemeriksaan hormon tiroid umumnya dilakukan tiap 1–2 bulan sekali. Bila kadar hormon tiroid sudah stabil, pemeriksaan dan kontrol ke dokter umumnya dilakukan setiap 6–12 bulan sekali.

Mengonsumsi levotiroksin berlebihan tanpa pengawasan yang baik dari dokter berisiko menyebabkan osteoporosis, menambah beban kerja jantung, menambah ketebalan otot jantung, dan menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh.

Sementara itu, tidak mengonsumsi levotiroksin akan menyebabkan kondisi hipotiroid yang bisa menyebabkan komplikasi berupa koma miksedema, yaitu penurunan kesadaran dan bengkak di seluruh tubuh akibat hormon tiroid yang terlalu rendah.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas atau memiliki pertanyaan apapun, diskusikan dengan dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang kamu inginkan di sini.