Penyakit Sapi Gila

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila atau juga dikenal dengan istilah bovine spongiform encephalopathy (BSE), merupakan kondisi yang ditandai dengan adanya kerusakan pada otak. Kondisi ini disertai dengan tanda dan gejala neurologis yang fatal yang terjadi pada sapi.

Pada manusia, penyakit ini dikenal dengan istilah penyakit Creutzfeldt-Jakob (CJD), dan banyak ditemukan di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.

 

Gejala Penyakit Sapi Gila

Kebanyakan pengidap penyakit sapi gila meninggal dunia dalam waktu setahun sejak gejala pertama muncul. Umumnya, penyakit sapi gila ditandai dengan kemunculan beberapa gejala di bawah ini:

  • Gangguan ingatan dan fungsi otak lain.
  • Perubahan kepribadian.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Bicara tidak jelas dan penglihatan terganggu.
  • Mengalami gangguan psikologis seperti cemas depresi.
  • Beberapa bagian tubuh kesemutan dan sulit digerakkan.
  • Mengalami insomnia, demensia, dan dapat berlanjut menjadi koma.
  • Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit sapi gila bisa menyebabkan komplikasi pada otak. Jika hal itu terjadi, seseorang akan mengalami kesulitan dalam berpikir, mengingat, mengasingkan diri dari teman serta keluarga, dan umumnya menjadi tidak peduli terhadap diri sendiri. Yang paling parah, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

 

Penyebab Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila Creutzfeldt-Jakob beserta berbagai variannya, merupakan bagian dari kelompok penyakit pada manusia dan hewan yang disebut sebagai transmissible spongiform encephalopathies (TSE). Penyebab dari penyakit Creutzfeldt-Jakob dan TSE lainnya diduga adalah jenis abnormal dari protein yang disebut sebagai prion.

Umumnya, protein ini tidak berbahaya. Namun, bila mengalami perubahan bentuk, protein ini dapat menjadi infeksius dan mengganggu proses biologis normal pada tubuh.

Penyakit ini tidak ditularkan melalui batuk, bersin, sentuhan, atau kontak seksual. Tiga cara penyakit ini dapat terjadi adalah:

  • Secara sporadik. Sebagian besar individu dengan penyakit Creutzfeldt-Jakob yang klasik tidak diketahui secara jelas penyebabnya.
  • Secara keturunan. Sekitar 5 sampai 10 persen orang dengan penyakit Creutzfeldt-Jakob memiliki anggota keluarga dengan penyakit tersebut atau memiliki hasil positif pada pemeriksaan mutasi genetik yang dikaitkan dengan penyakit ini.
  • Secara kontaminasi. Proporsi kecil individu dengan penyakit Creutzfeldt-Jakob mengalami kondisi ini setelah terekspos jaringan manusia tertentu pasca tindakan medis, seperti transplantasi kornea atau kulit.

 

Faktor Risiko Penyakit Sapi Gila

Seseorang berisiko tertular penyakit sapi gila jika mereka memakan bagian otak dan tulang belakang dari hewan yang terinfeksi.

Meski tidak diketahui penyebab pastinya, faktor genetik dan usia diyakini bisa meningkatkan risiko penyakit sapi gila.

 

Diagnosis Penyakit Sapi Gila

Dugaan terhadap penyakit sapi gila ditentukan berdasarkan perkembangan gejala dan riwayat kesehatan pengidap. Satu-satunya jalan untuk mengetahui secara pasti apakah seseorang mengalami penyakit sapi gila adalah dengan biopsi otak melalui otopsi, yang dilakukan apabila pengidap sudah meninggal dunia.

Namun demikian, terdapat berbagai prosedur diagnosis yang dapat membantu menegakkan diagnosa penyakit ini, antara lain:

  • Pemeriksaan neurologis. Pada tahap awal, dokter neurologi (spesialis saraf) akan memeriksa kemungkinan adanya penyakit lain yang memiliki gejala serupa, misalnya penyakit Alzheimer, penyakit Parkinson, atau tumor otak.
  • Electroencephalogram (EEG). Untuk merekam aktivitas otak dan membantu mendeteksi aktivitas elektrik yang tidak normal pada pengidap sporadic CJD.
  • Pemindaian dengan MRI. Menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk mendapatkan gambaran detail tentang kondisi otak pengidap.
  • Pungsi lumbal. Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pengidap untuk diteliti lebih lanjut.
  • Pemeriksaan genetik. Tes darah dilakukan untuk mendeteksi potensi terjadinya mutasi dalam gen dan memastikan adanya faktor keturunan.
  • Biopsi amandel. Pengambilan sampel jaringan amandel untuk melihat kemungkinan adanya prion di amandel pengidap variant CJD.

 

Pengobatan Penyakit Sapi Gila

Tidak diketahui adanya penanganan yang efektif bagi penyakit sapi gila  Creutzfeldt-Jakob dan berbagai variannya. Sejumlah pengobatan telah diuji, termasuk steroid, antibiotik, antiviral, dan sebagainya, tapi tidak menunjukkan manfaat yang berarti.

Oleh sebab itu, para pakar menaruh fokus penanganan untuk menghilangkan rasa nyeri serta gejala lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaga kenyamanan dari individu yang mengalami penyakit ini.

 

Pencegahan Penyakit Sapi Gila

Penyakit sapi gila seringkali terjadi secara spontan, sehingga sulit untuk dicegah. Sterilisasi untuk mencegah agar bakteri dan virus tidak menyebar ke seluruh tubuh juga tidak efektif. Meski begitu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit sapi gila, di antaranya:

  • Memusnahkan sumber infeksi. Salah satu cara meminimalisasi penularan penyakit sapi gila adalah dengan memusnahkan bangkai daging yang berpotensi menularkan penyakit ini, baik ke manusia maupun hewan lainnya.
  • Transfusi darah dengan aman. Orang yang berisiko tertular penyakit sapi gila dilarang melakukan donor darah untuk mengurangi risiko penularan.
  • Membatasi daging impor. Terutama daging impor dari negara-negara yang rawan terhadap penyakit sapi gila, seperti Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.
  • Pengawasan hewan ternak. Cara ini dilakukan mulai dari pengendalian pakan ternak, pengobatan hewan yang sakit, hingga pembatasan konsumsi hewan ternak yang berisiko mengalami dan menularkan penyakit sapi gila

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas atau memiliki pertanyaan apapun, diskusikan dengan dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, ibu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang diinginkan di sini.