• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Persistent Sexual Arousal Syndrome
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Persistent Sexual Arousal Syndrome

Persistent Sexual Arousal Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
persistent-sexual-arousal-syndrome-halodocpersistent-sexual-arousal-syndrome-halodoc

Persistent Sexual Arousal Syndrome

Persistent sexual arousal syndrome (PSAS) atau disebut sindrom gairah seksual persisten, merupakan kondisi ketika seseorang menjadi terangsang secara seksual tanpa aktivitas atau rangsangan seksual. 

Bahkan ketika tidak ada alasan untuk merasa terangsang secara seksual, pengidapnya mungkin merasakan semua gejala gairah seksual. Ini termasuk ereksi atau pembengkakan pada vagina. Kondisi ini juga membuat pengidapnya merasa seperti mengalami orgasme terus-menerus. 

Dalam beberapa kasus, PGAD dapat bertahan selama berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu dan pastinya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. 

Penyebab Persistent Sexual Arousal Syndrome

Persistent sexual arousal syndrome dapat memiliki sejumlah penyebab, tetapi penyebab spesifik sering kali sulit didiagnosis. Tekanan pada saraf yang disebut saraf pudendal, yang membantu merasakan sensasi di sekitar alat kelamin, diduga menyebabkan PSAS. Dalam kasus yang jarang terjadi, priapisme di klitoris, yang terjadi ketika klitoris tetap membesar untuk waktu yang lama, juga dapat menyebabkan PSAS. 

Beberapa kasus PSAS sering terjadi bersamaan dengan kasus masalah kesehatan mental. Kecemasan, depresi, gangguan bipolar I, obsessive compulsive disorder (OCD), dan kondisi serupa lainnya telah diidentifikasi dalam kasus PSAS pada pria dan wanita. Tidak jelas apakah kondisi ini menyebabkan PSAS, tetapi umumnya masalah tersebut disertai dengan PSAS.

Beberapa wanita mengembangkan PSAS karena stroke setelah menghentikan terapi estrogen atau kolesterol. Wanita lain tampaknya mengembangkan PSAS karena berhenti menggunakan SSRI untuk depresi. Sementara itu, pada pria, PSAS dapat berkembang karena komplikasi dari prosedur vasektomi atau infeksi saluran kemih.

Faktor Risiko Persistent Sexual Arousal Syndrome

Selain itu, persistent sexual arousal syndrome juga disebutkan menjadi gejala sekunder dari beberapa kondisi berikut:

  • Sindrom Tourette.
  • Trauma pada sistem saraf pusat.
  • Epilepsi.
  • Efek intervensi pasca-bedah untuk kelainan vena di punggung bawah.
  • Menjalani prosedur vasektomi atau memiliki riwayat infeksi saluran kemih pada pria.

Gejala Persistent Sexual Arousal Syndrome

Gejala Persistent Sexual Arousal Syndrome yang paling terlihat adalah perasaan gairah seksual tanpa adanya rangsangan seksual. Jika terjadi pada wanita, ini dapat menyebabkan perasaan terangsang di area genital, termasuk pembengkakan klitoris, vagina, dan bibir vagina

Selain itu, perasaan terangsang juga terjadi pada bagian tubuh lainnya, termasuk puting. Sementara itu, jika terjadi pada pria, kelainan langka ini dapat menyebabkan nyeri umum pada penis atau ereksi yang berlangsung beberapa jam. Gejala umum PSAS lainnya meliputi:

  • Wajah dan leher menjadi merah atau memerah.
  • Tekanan darah tinggi yang tidak normal.
  • Detak jantung yang sangat tinggi.
  • Pernapasan cepat.
  • Kejang otot di seluruh tubuh.
  • Penglihatan kabur.
  • Rasa sakit di area genital, terutama klitoris atau batang penis.

Diagnosis Persistent Sexual Arousal Syndrome

Guna memastikan bahwa gejala yang  dialami adalah adalah akibat dari Persistent Sexual Arousal Syndrome dan bukan kondisi lain, dokter mungkin menyarankan beberapa hal berikut ini:

  • Temui terapis atau psikolog untuk penilaian dan pengujian psikologis.
  • Melakukan pemeriksaan fisik dan penilaian lengkap tentang berapa lama mengidap PSAS, obat apa yang kamu konsumsi, dan kondisi lain yang mungkin kamu miliki.
  • Lakukan pemeriksaan fisik pada area genital.
  • Melakukan pemeriksaan yang mengukur aliran darah ke alat kelamin sebelum, selama, dan setelah gairah seksual.
  • Melakukan tes neurologis untuk melihat apakah kerusakan saraf dapat menyebabkan kondisi tersebut.

Satu atau beberapa pemeriksaan ini dapat membantu dokter menyimpulkan jika gejala yang kamu rasakan memang disebabkan oleh PSAS.

Pengobatan Persistent Sexual Arousal Syndrome

Tidak ada perawatan yang dapat menyembuhkan kondisi persistent sexual arousal syndrome. Penanganan hanya dilakukan untuk membantu mengurangi tingkat keparahan gejala yang muncul, sehingga pengidap bisa tetap beraktivitas seperti biasa. Beberapa pilihan penanganan yang dilakukan termasuk:

  • Pemberian obat-obatan. Ini termasuk obat antidepresan, antipsikotik, penstabil suasana hati dan obat untuk nyeri saraf.
  • Intervensi kesehatan perilaku. Ini termasuk terapi perilaku kognitif, terapi kejang listrik, psikoterapi, teknik distraksi dan teknik validasi.
  • Intervensi terapi fisik. Termasuk terapi fisik dasar panggul dan pijat.

Perawatan untuk PSAS bisa dikatakan sangat bervariasi berdasarkan setiap kondisi yang dialami pengidap. Masalah kesehatan ini bisa dikatakan sangat baru sehingga para peneliti masih mempelajari tentang perawatan dan strategi yang paling tepat. 

Komplikasi Persistent Sexual Arousal Syndrome

Komplikasi dari persistent sexual arousal syndrome lebih mengarah pada kondisi kesehatan mental pengidapnya. Beberapa termasuk stres dan depresi yang tentunya dapat berbahaya untuk diri sendiri maupun orang lain.

Pencegahan Persistent Sexual Arousal Syndrome

Oleh karena belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebabnya, tentunya tidak ada cara spesifik yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya persistent sexual arousal syndrome. Kamu hanya perlu melakukan pemeriksaan medis secara rutin, dan berdiskusi dengan dokter bagaimana untuk mengendalikan gejala yang muncul.

Kapan Harus ke Dokter?

Persistent sexual arousal syndrome memang akan membuat pengidapnya merasa tidak nyaman. Segera setelah menyadari bahwa kamu mengalami gejala kelainan langka ini, kamu dapat segera melakukan pemeriksaan dengan menggunakan Layanan Janji Medis di Halodoc. Kamu bisa download Halodoc di ponselmu, gratis dari App Store maupun Play Store. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. What is Persistent Genital Arousal Disorder (PGAD)?
Medical News Today. Diakses pada 2022. What is persistent genital arousal disorder (PGAD)?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Persistent Genital Arousal Disorder.
WebMD. Diakses pada 2022. What Is Persistent Genital Arousal Disorder?