Pneumotoraks

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Pneumotoraks

Pneumotoraks (PTX) merupakan istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan kondisi paru-paru yang kolaps (mengempis). PTX terjadi saat udara memasuki ruangan antara paru-paru dan lapisan pleura yang menyelimuti organ tersebut. Hal ini bisa terjadi karena adanya cedera pada dinding dada atau ruptur pada jaringan paru, sehingga mengakibatkan paru-paru kolaps karena perubahan tekanan udara pada paru-paru (menekan paru-paru).

 

Faktor Risiko Pneumotoraks

Pneumotoraks bisa menyerang seseorang yang tak memiliki riwayat penyakit paru-paru. Kondisi ini biasanya sering terjadi pada pria yang berusia 20-40 tahun, terutama mereka yang memiliki fisik tinggi dan kurus. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya pneumotoraks, antara lain:

  • Merokok.

  • Genetik, beberapa jenis penyakit ini merupakan penyakti keturunan.

  • Mengidap penyakit atau gangguan pada paru-paru.

  • Mengidap Sindrom Marfan.

  • Cedera akibat kontak olahraga, seperti sepak bola.

  • Aktivitas ekstrim yang menyebabkan kerusakan pada dada.

  • Pernah mengalami pneumotoraks sebelumnya.

Baca juga: Jantung Berdetak Sangat Kencang? Waspada Gejala Pneumotoraks

 

Penyebab  Pneumotoraks

Terdapat dua jenis utama dari pneumotoraks, pneumotoraks traumatik, dan pneumotoraks nontraumatik. Kedunya menjadi pneumotoraks (tension PTX). Kondisi ini terjadi jika tekanan udara yang mengelilingi paru-paru meningkat. Hal inilah yang akan mengganggu pengembangan paru.

1. Pneumotoraks Traumatik

Pneumotoraks jenis ini terjadi akibat cedera pada dinding dada maupun paru. Cedera bervariasi dari ringan sampai berat dan merusak struktur dada hingga menyebabkan udara bocor ke dalam ruang pleural. Contoh cedera yang sering menyebabkan PTX adalah:

  • Trauma dada akibat kecelakaan lalu lintas, dapat menyebabkan cedera tertutup maupun terbuka.

  • Patah tulang rusuk.

  • Pukulan keras pada dada akibat olahraga, biasanya menyebabkan cedera tertutup.

  • Luka tusuk atau luka tembak pada dada.

  • Prosedur-prosedur medis yang dapat mencederai paru-paru, seperti pemasangan central line, pemakaian ventilator, biopsi jaringan paru, dan CPR.

  • Menyelam, scuba, dan mendaki gunung juga dapat menyebabkan PTX, karena perubahan ketinggian yang menyebabkan adanya gelembung-gelembung udara pada paru, sehingga dapat menyebabkan ruptur dan kemudian kolaps.

2. Pneumotoraks Nontraumatik

Jenis PTX ini terjadi secara spontan dan terbagi menjadi dua tipe primer dan sekunder. PTX Spontan Primer adalah PTX pada individu tanpa penyakit paru, sedangkan PTX Spontan Sekunder adalah PTX yang terjadi pada individu yang memiliki penyakit paru sebelumnya.

Berikut adalah faktor risiko untuk terjadinya PTX Spontan Primer:

  • Usia muda (10-30 tahun).

  • Kurus

  • Laki-laki.

  • Memiliki penyakit bawaan seperti Sindrom Marfan.

  • Perokok.

  • Terpapar faktor-faktor lingkungan dan pekerjaan, seperti silicosis.

  • Terpapar perubahan tekanan atmosfer dan cuaca yang ekstrem.

Kondisi-kondisi berikut meningkatkan risiko terjadinya PTX Spontan Sekunder:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis.

  • Infeksi akut atau kronis seperti tuberkulosis atau pneumonia.

  • Kanker paru.

  • Sistik fibrosis.

  • Asma.

 

Gejala Pneumotoraks

Gejala-gejala pneumotoraks traumatik dan spontan hampir tidak ada perbedaan, tetapi gejala pneumotoraks traumatik cenderung muncul pada saat trauma terjadi, atau tidak lama sesudahnya. Umumnya, serangan gejala pneumotoraks spontan terjadi ketika pengidapnya sedang beristirahat. Serangan mendadak nyeri dada sering merupakan gejala pertama.

Gejala lain mungkin termasuk:

  • rasa nyeri persisten di dada.

  • sesak nafas, atau dyspnea.

  • keluar dengan keringat dingin.

  • sensasi tertarik (tightness) di dada.

  • membiru (sianosis).

  • takikardia berat (denyut jantung cepat).

Baca juga: Pria Berisiko Lebih Tinggi Terkena Pneumotoraks Dibanding Wanita, Benarkah?

 

Diagnosis Pneumotoraks

Diagnosis dilakukan berdasarkan keberadaan udara pada ruang pleura, yang dapat disimpulkan dari wawancara, pemeriksaan fisik seperti perkusi dan auskultasi paru, sehingga akan ditemukan perubahan suara ketuk paru dan suara napas. Penemuan-penemuan tersebut dikuatkan oleh bukti pencitraan seperti pada rontgen dada pada posisi berdiri tegak, CT scan, USG dada.

 

Komplikasi Pneumotoraks

Pneumotoraks yang dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu kondisi lainnya. Banyak orang yang mengidap satu pneumotoraks bisa mengalami pneumotoraks jenis lainnya dalam satu atau dua tahun kemudian.

Banyak orang yang mengidap satu  dapat mengalami yang lain, biasanya dalam satu atau dua tahun sejak pertama. Terkadang udara terus bocor jika lubang di paru-paru tidak menutup. Pembedahan mungkin diperlukan untuk menutup kebocoran udara.

 

Pengobatan Pneumotoraks

Penanganan bergantung pada tingkat keparahan PTX, mulai dari observasi ketat sampai tindakan operatif.

1. Observasi

Observasi ketat dilakukan untuk individu dengan PTX Spontan Primer yang kecil dan tidak menyebabkan sesak napas. Dokter memonitor kondisi secara berkala dengan cara mengajukan rontgen serial sampai paru terlihat kembali mengembang sempurna. Pada kasus-kasus seperti ini, ketika udara masih dapat diserap oleh jaringan paru, aktivitas fisik rutin tidak terbukti membuat kondisi lebih parah atau memperlambat penyembuhan.

2. Drainase Udara

Drainase udara yang mengokupasi ruang pleura dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu aspirasi menggunakan jarum dan pemasangan chest tube. Kedua prosedur ini dapat dilakukan tanpa menggunakan bius umum.

3. Pleurodesis

Prosedur pengobatan yang satu ini lebih invasif. Umumnya dilakukan pada pengidap yang sudah berkali-kali mengalami pneumotoraks. Pada pleurodesis, dokter akan mengiritasi ruang pleura, sehingga pleura akan menempel pada dinding paru dan akhirnya udara tidak dapat berkumpul. Prosedur ini juga mencegah PTX terulang.

Terdapat dua metode dalam melakukan prosedur ini, yaitu mekanikal (melalui operasi, ketika dokter akan menyisir pleura, sehingga menyebabkan iritasi) dan secara kimia (dokter menggunakan iritan kimia untuk menghasilkan adhesi antara pleura dan dinding paru)

4. Operasi

Pada kasus-kasus tertentu, tindakan operatif perlu dilakukan untuk menangani PTX, terutama pada kasus-kasus saat udara terperangkap dalam volume banyak. Tipe-tipe operasi yang dapat dilakukan termasuk torakotomi, torakoskopi dengan asistensi video, dan lobektomi.

Baca juga: Ketahui Penanganan Pneumotoraks Berdasar Tingkat Keparahannya

 

Pencegahan Pneumotoraks

Pencegahan terbatas pada penghindaran faktor-faktor risiko seperti infeksi, merokok, olahraga berisiko tinggi, dan lain sebagainya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala di atas, segera menemui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Disease and Conditions. Pneumothorax.  Healthline. Diakses pada 2019. Pneumothorax (Collapsed Lung).

Diperbarui pada 18 September 2019