Pneumotoraks

Pengertian Pneumotoraks

Pneumotoraks (PTX) adalah istilah medis untuk paru-paru yang kolaps. PTX terjadi saat udara memasuki ruangan antara paru-paru dan lapisan pleura yang menyelimuti organ tersebut. Hal ini bisa terjadi karena adanya cedera pada dinding dada atau ruptur pada jaringan paru, sehingga mengakibatkan perubahan tekanan yang mengatur inflasi paru.

Gejala Pneumotoraks

Gejala-gejala pneumotoraks traumatik dan spontan hampir tidak ada perbedaan, tetapi gejala Pneumotoraks Traumatik cenderung muncul pada saat trauma terjadi, atau tidak lama sesudahnya. Onset gejala untuk Pneumotoraks Spontan biasanya terjadi saat istirahat. Serangan mendadak nyeri dada sering merupakan gejala pertama.

Gejala lain mungkin termasuk:

  • rasa nyeri persisten di dada.
  • sesak nafas, atau dyspnea.
  • keluar dengan keringat dingin.
  • sensasi tertarik (tightness) di dada.
  • membiru, atau sianosis.
  • takikardia berat, atau denyut jantung cepat.

Penyebab dan Faktor Risiko Pneumotoraks

Terdapat dua jenis utama dari pneumotoraks, pneumotoraks traumatik dan pneumotoraks nontraumatik. Kedua jenis tersebut dapat menjadi pneumotoraks pekanan (tension PTX) jika tekanan udara yang mengelilingi paru-paru meningkat, sehingga mengganggu pengembangan paru.

1. Pneumotoraks Traumatik

PTX traumatik terjadi karena satu atau lebih cedera pada dinding dada maupun dinding paru. Cedera bervariasi dari ringan sampai berat dan merusak struktur dada hingga menyebabkan udara bocor ke dalam ruang pleural. Contoh cedera yang sering menyebabkan PTX adalah:

  • Trauma dada akibat kecelakaan lalu lintas, dapat menyebabkan cedera tertutup maupun terbuka.
  • Patah tulang rusuk.
  • Pukulan keras pada dada akibat olahraga, biasanya menyebabkan cedera tertutup.
  • Luka tusuk atau luka tembak pada dada.
  • Prosedur-prosedur medis yang dapat mencederai paru-paru, seperti pemasangan central line, pemakaian ventilator, dan biopsi jaringan paru, dan CPR.
  • Menyelam, scuba, dan mendaki gunung juga dapat menyebabkan PTX karena perubahan ketinggian yang menyebabkan adanya gelembung-gelembung udara pada paru sehingga dapat menyebabkan ruptur dan kemudian kolaps.

2. Pneumotoraks Nontraumatik

Jenis PTX ini terjadi secara spontan dan terbagi menjadi dua tipe: primer dan sekunder. PTX Spontan Primer adalah PTX pada individu tanpa penyakit paru, sedangkan PTX Spontan Sekunder adalah PTX yang terjadi pada individu yang memiliki penyakit paru sebelumnya.

Berikut adalah faktor risiko untuk terjadinya PTX Spontan Primer:

  • Usia muda (10-30 tahun).
  • Kurus.
  • Laki-laki.
  • Memiliki penyakit bawaan seperti Sindrom Marfan.
  • Perokok.
  • Terpapar faktor-faktor lingkungan dan pekerjaan, seperti silicosis.
  • Terpapar perubahan tekanan atmosfer dan cuaca yang ekstrim.

Kondisi-kondisi berikut meningkatkan risiko terjadinya PTX Spontan Sekunder:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis.
  • Infeksi akut atau kronis seperti tuberkulosis atau pneumonia.
  • Kanker paru.
  • Sistik fibrosis.
  • Asma.

Diagnosis Pneumotoraks

Diagnosis dilakukan berdasarkan keberadaan udara pada ruang pleura, yang dapat disimpulkan dari wawancara, pemeriksaan fisik seperti perkusi dan auskultasi paru, sehingga akan ditemukan perubahan suara ketuk paru dan suara napas. Penemuan-penemuan tersebut dikuatkan oleh bukti pencitraan seperti pada rontgen dada pada posisi berdiri tegak, CT scan, USG dada.

Penanganan Pneumotoraks

Penanganan bergantung pada tingkat keparahan PTX, mulai dari observasi ketat sampai tindakan operatif.

1. Observasi

Observasi ketat dilakukan untuk individu dengan PTX Spontan Primer yang kecil dan tidak menyebabkan sesak nafas. Dokter memonitor kondisi secara berkala dengan cara mengajukan rontgen serial sampai paru terlihat kembali mengembang sempurna. Pada kasus-kasus seperti ini, ketika udara masih dapat diserap oleh jaringan paru, aktivitas fisik rutin tidak terbukti membuat kondisi lebih parah atau memperlambat penyembuhan.

2. Drainase udara

Drainase udara yang mengokupasi ruang pleura dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu aspirasi menggunakan jarum dan pemasangan chest tube. Kedua prosedur ini dapat dilakukan tanpa menggunakan bius umum.

3. Pleurodesis

Pleurodesis adalah prosedur yang lebih invasif dan seringkali dilakukan pada mereka yang sudah berulang kali mengalami PTX. Pada pleurodesis, dokter akan mengiritasi ruang pleura, sehingga pleura akan menempel pada dinding paru dan akhirnya udara tidak dapat berkumpul. Prosedur ini juga mencegah PTX terulang.

Terdapat dua metode dalam melakukan prosedur ini, yaitu mekanikal (melalui operasi, ketika dokter akan menyisir pleura sehingga menyebabkan iritasi) dan secara kimia (dokter menggunakan iritan kimia untuk menghasilkan adhesi antara pleura dan dinding paru)

4. Operasi

Pada kasus-kasus tertentu, tindakan operatif perlu dilakukan untuk menangani PTX, terutama pada kasus-kasus saat udara terperangkap dalam volume banyak. Tipe-tipe operasi yang dapat dilakukan termasuk torakotomi, torakoskopi dengan asistensi video, dan lobektomi.

Pencegahan Pneumotoraks

Pencegahan terbatas pada penghindaran faktor-faktor risiko seperti infeksi, merokok, olahraga berisiko tinggi, dan lain sebagainya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala di atas, segera menemui dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.