Polihidramnion

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Polihidramnion

Polihidramnion merupakan kondisi yang diawali oleh wanita hamil berupa berlebihnya atau adanya penumpukkan cairan ketuban. Pada umumnya, hal ini bisa terjadi dan tidak menyebabkan gangguan atau hanya menyebabkan gangguan ringan pada ibu. Namun, polihidramnion dapat menyebabkan gejala serius seperti kesulitan bernapas dan kelahiran prematur.

 

Faktor Risiko Polihidramnion

Ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya polihidramnion, antara lain:

  • Infeksi bawaan (terjadi saat kehamilan).

  • Janin mengalam kelainan pencernaan yang menghambat saluran cairan.

  • Sindrom transfusi kembar.

  • Janin mengalami gagal jantung.

  • Perbedaan golongan darah atau rhesus darah ibu dan janin.

  • Kurangnya sel darah merah pada janin.

  • Kehamilan kembar.

  • Masalah pada plasenta.

  • Masalah genetik pada bayi.

Baca juga: Benarkah Polihidramnion Bisa Sebabkan Kelahiran Prematur?

 

Penyebab Polihidramnion

Pada dasarnya, volume air ketuban memang akan meningkat seiring bergulirnya waktu, umumnya pada minggu ke-26 kehamilan. Namun, ketika seseorang wanita mengidap polihidramnion, volume cairan ketuban ini bisa meningkat sangat cepat, bahkan mencapai dua liter hingga tiga liter.

Sebenarnya janin punya peran penting terkait cairan ketubahan. Janin akan mengendalikan volume cairan ketuban dengan menelan atau mengeluarkannya kembali dalam bentuk urine. Namun, bila janin tak menelan cukup cairan, maka air ketuban bisa menumpuk. Polihidiramnion ini terjadi ketika keseimbangan cairan ini terganggu.

Banyak faktor yang bisa mengganggu keseimbangan ini, misalnya infeksi selama kehamian, ibu hamil mengidap diabetes, hingga ketidakcocokan darah antara ibu dan bayi.

 

Gejala Polihidramnion

Ketika wanita hamil mengalami polihidramnion, mereka bisa merasakan beberapa keluhan dalam tubuhnya. Gejala yang muncul terjadi karena tekanan yag terjadi pada rahim dan organ-organ di sekitarnya. Sebenarnya polihidramnion yang terbilang ringan biasanya tak memunculkan gejala. Namun, polihidramnion bisa menimbulkan beberapa gejala seperti:

  • Kesulitan bernapas/sesak napas.

  • Bengkok pada kaki dan perut.

  • Kontraksi rahim.

  • Kelainan posisi janin dalam rahim, seperti sungsang.

Baca juga: Ini Perbedaan Kondisi Polihidromnion dan Oligohidramnion pada Ibu Hamil

 

Diagnosis Polihidramnion

Seperti penyakit atau kondisi medis pada umumnya, dokter akan mengawali diagnosis dengan anamnesis atau wawancara medis. Di sini dokter akan menanyakan gejala yang dialami pengidapnya. Setelah itu, barulah doker akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang. Pemeriksaan penunjang berupa USG bisa membantu dokter untuk menegakkan diagnosis polihidramnion.

 

Komplikasi Polihidramnion

Polihidramnion sering kali dikaitkan dengan:

  • Kelahiran prematur.

  • Pecah ketuban terlalu dini.

  • Abruptio plasenta ketika plasenta terlepas dari dinding bagian dalam rahim sebelum waktunya.

  • Melahirkan secara caesar.

  • Pendarahan berat, karena kurangnya tonus otot uterus setelah melahirkan

Semakin dini polihidramnion terjadi, maka semakin besar jumlah kelebihan cairan ketuban, sehingga semakin tinggi pula risiko komplikasi.

Baca juga: Ibu Hamil Idap Diabetes Rentan Terkena Polihidramnion, Benarkah?

 

Pengobatan Polihidramnion

Untuk kasus polihidramnion ringan, biasanya kondisi ini bisa pulih dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Untuk kasus lainnya, mengobati faktor penyebab seperti mengontrol gula darah pada diabetes melitus, dapat membantu mengatasi masalah polihidramnion.

Jika mengalami gejala seperti kesulitan bernapas, nyeri dan kram perut, hingga mengalami kelahiran prematur, pengidap harus segera dibawa ke rumah sakit dan diberikan pengobatan. Hal-hal yang dapat dilakukan berupa:

  • Drainase cairan amnion yang berlebihan.

  • Konsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan sekresi urine dari janin.

 

Pencegahan Polihidramnion

Sayangnya hingga kini cara untuk mencegah polihidramnion belum diketahui dengan pasti. Namun, setidaknya wanita hamil perlu menjauhi faktor risiko yang dapat memicu terjadinya polihidramnion. Misalnya, wanita yang mengidap diabetes, perlu mengontrol kadar gula darah dengan baik. Di samping itu, cara mencegah polihidramnion bisa juga dengan vaksinasi sebelum hamil agar tehindar dari infeksi selama kehamian.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Periksa kandungan selama kehamilan dengan menemui dokte secara teratur agar kesehatan ibu dan janin dapat selalu terjaga.

Referensi:
NHS. Health A-Z. Polyhydramnios (Too Much Amniotic Fluid).
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Disease and Conditions. Polyhidramnios.

Diperbarui pada 18 September 2019