Bulimia

Pengertian Bulimia 

Bulimia atau bulimia nervosa adalah gangguan makan yang serius dan berpotensi mengancam jiwa. Gangguan mental ini bisa terkait dengan rasa rendah diri tingkat ekstrem, kecanduan minuman keras, depresi, serta kecenderungan menyakiti diri sendiri.

Pengidap bulimia akan melahap makanan dalam jumlah berlebihan, kemudian mengeluarkannya dari tubuh secara paksa dengan muntah atau menggunakan obat pencahar. Cara yang tidak sehat ini dilakukan oleh pengidap untuk melenyapkan kalori berlebih yang telah dikonsumsi agar berat badannya tetap terjaga.

Bulimia lebih sering dialami oleh wanita dibandingkan oleh pria, sama halnya dengan gangguan makan pada umumnya. Penelitian memperkirakan terdapat sekitar 8 dari 100 wanita yang mengidap kelainan ini. Sebagian besar dialami oleh wanita pada usia 16-40 tahun.

Risiko Komplikasi Bulimia

Apabila tidak segera ditangani, bulimia bisa memicu komplikasi yang serius dan bahkan berakibat fatal. Frekuensi muntah yang sering terjadi akan merusak gigi (akibat asam lambung) dan memicu pembengkakan kelenjar air liur. Demikian pula dengan sakit tenggorokan serta bau mulut.

Kekurangan nutrisi juga termasuk komplikasi serius akibat bulimia. Komplikasi ini dapat memicu dehidrasi, sulit untuk hamil karena siklus menstruasi yang tidak teratur, kulit dan rambut yang kering, kuku yang rapuh, gagal ginjal, serta gagal jantung.

Sementara penggunaan obat pencahar yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan pada organ-organ pencernaan serta mengganggu keseimbangan kadar senyawa alami tubuh. Ketidakseimbangan ini berpotensi memicu kelelahan, lemas, detak jantung yang tidak teratur, serta kejang.

Gejala  Bulimia

Indikasi utama bahwa seseorang mengidap bulimia adalah mengonsumsi makanan secara berlebihan, meski pengidap tidak merasa lapar. Proses ini dapat terpicu oleh masalah emosional, seperti stres atau depresi. Pengidap kemudian merasa bersalah, menyesal, dan membenci diri sendiri sehingga akan memaksa tubuh untuk mengeluarkan semua asupan kalori yang telah masuk. Cara ini umumnya dilakukan dengan memaksa diri untuk muntah atau menggunakan obat pencahar untuk memicu proses buang air besar. Pengidap bulimia setidaknya mengalami siklus ini lebih dari dua kali dalam seminggu selama minimal tiga bulan.

Selain cara tidak sehat tersebut, terdapat beberapa gejala lain yang menandakan bulimia. Di antaranya adalah:

  • Sangat terpaku pada berat badan serta bentuk tubuh, terkadang hingga terasa tidak masuk akal.
  • Selalu beranggapan negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri.
  • Takut gemuk atau merasa kegemukan.
  • Sering lepas kendali saat makan, misalnya terus makan sampai sakit perut atau makan dengan porsi berlebihan.
  • Enggan makan di tempat-tempat umum atau di depan orang lain.
  • Sering bergegas ke kamar mandi setelah makan.
  • Memaksakan diri untuk muntah, terutama dengan memasukkan jari ke kerongkongan.
  • Memiliki gigi dan gusi yang rusak.
  • Berolahraga berlebihan.
  • Menggunakan obat pencahar, diuretik, atau enema setelah makan.
  • Menggunakan suplemen atau produk herba untuk menurunkan berat badan.

Penyebab Bulimia

Penyebab utama bulimia belum diketahui secara pasti. Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap kelainan ini. Faktor-faktor pemicu tersebut meliputi:

  • Jenis kelamin, bulimia lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.
  • Masalah psikologis, seperti rendah diri, depresi, stres, perfeksionisme, gangguan stres pascatrauma (PTSD), serta gangguan obsesif komplusif (OCD).
  • Usia, bulimia umumnya menyerang remaja hingga dewasa.
  • Faktor keturunan, jika memiliki anggota keluarga inti (saudara kandung atau orang tua) yang mengidap bulimia, maka seseorang berisiko lebih tinggi untuk mengalami kelainan yang sama.
  • Tuntutan sosial, misalnya remaja yang merasa harus menurunkan berat badan karena terpengaruh teman-temannya.
  • Tuntutan profesi, contohnya model yang harus langsing atau atlet yang harus menjaga berat badan dengan ketat.

Pengobatan Bulimia 

Untuk mengatasi bulimia adalah dengan terapi psikologi. Ada dua jenis terapi yang dapat dijalani, yaitu terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal. Melalui CBT, pengidap bulimia akan dibantu untuk mengenali pemicu bulimia, misalnya pendapat dan perilaku negatif, lalu belajar untuk menggantikannya dengan pemikiran yang positif dan sehat.

Sedangkan terapi interpersonal akan membantu untuk mendeteksi masalah dalam berhubungan dengan orang lain, sekaligus meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dan menyelesaikan masalah. Untuk mengurangi gejala, penggunaan penghambat pelepasan selektif serotonin (SSRI) juga terkadang dikombinasikan dengan terapi. Fluoxetine adalah SSRI yang paling sering digunakan dalam menangani bulimia.

Pencegahan Bulimia 

Mulai gaya hidup sehat dan selalu berpikiran positif untuk menerima diri sendiri.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.