• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Skizofrenia

Skizofrenia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
skizofrenia-halodoc

Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan dalam berpikir, dan perubahan sikap. Umumnya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri.

Hal ini yang membuat skizofrenia disamakan dengan psikosis, padahal keduanya ternyata berbeda. Psikosis hanya salah satu gejala dari beberapa jenis gangguan mental, termasuk skizofrenia.

Baca juga: Benarkah Stigma Negatif Tentang Skizofrenia Bisa Memperburuk Kondisi?

 

Penyebab Skizofrenia

Meskipun penyebab utama skizofrenia belum ditemukan, ada beberapa faktor yang disinyalir menjadi penyebab dari masalah kesehatan ini, antara lain:

1. Faktor Genetik

Keturunan dari pengidap skizofrenia memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa. Risiko tersebut meningkat 40 persen lebih besar ketika kedua orangtua sama-sama pengidap skizofrenia. Sementara itu, anak kembar yang salah satunya mengidap skizofrenia akan memiliki risiko hingga 50 persen lebih besar.

2. Komplikasi Kehamilan dan Persalinan

Skizofrenia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang mungkin terjadi ketika hamil dan dampaknya akan terlihat saat anak lahir. Kondisi ini, seperti paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa kehamilan, serta kekurangan nutrisi. 

Selain dari kehamilan, komplikasi yang terjadi ketika persalinan juga dapat menyebabkan seorang anak mengidap skizofrenia. Contohnya, berat badan rendah saat lahir, kelahiran prematur, dan asfiksia atau kekurangan oksigen saat dilahirkan.

3. Faktor Kimia pada Otak

Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin pada otak dapat menjadi salah satu penyebab dan meningkatkan risiko seseorang mengidap skizofrenia. Keduanya merupakan zat kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian dari neurotransmitter.

Selain itu, pengidap skizofrenia juga memiliki perbedaan pada struktur dan fungsi otak dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan mental. Perbedaan tersebut antara lain:

  • Ventrikel otak memiliki ukuran yang lebih besar. Ventrikel sendiri adalah bagian dalam otak yang berisi cairan.
  • Lobus temporalis memiliki ukuran yang lebih kecil. Ingatan dalam otak manusia berkaitan dengan lobus temporalis.
  • Sel-sel pada otak memiliki koneksi yang lebih sedikit.

Baca juga: Deteksi Lebih Dini Gangguan Mental Skizofrenia

 

Faktor Risiko Skizofrenia

Setiap orang bisa saja terkena skizofrenia tanpa mengenal umur, tetapi umumnya kalangan remaja dan orang yang baru menginjak usia 20 tahun awal berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko skizofrenia:

  • Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
  • Beberapa komplikasi kehamilan dan kelahiran, seperti malnutrisi, kekurangan oksigen atau paparan racun atau virus yang dapat memengaruhi perkembangan otak.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan skizofrenia.
  • Kelahiran prematur.
  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.
  • Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin.
  • Mengonsumsi obat-obatan yang dapat mengubah pikiran (psikoaktif atau psikotropika) selama masa remaja dan dewasa muda.


Gejala Skizofrenia

Skizofrenia terbagi menjadi dua kategori, yaitu positif dan negatif. 

1. Gejala Negatif

Gejala skizofrenia negatif muncul ketika sifat dan kemampuan yang dimiliki orang normal, seperti konsentrasi, pola tidur normal, dan motivasi hidup menghilang.

Umumnya, gejala tersebut ditambah dengan ketidakmauan seseorang bersosialisasi dan merasa tidak nyaman saat bersama orang lain. Ciri-ciri orang yang mengidap gejala skizofrenia negatif, yaitu terlihat apatis dan buruk secara emosi, tidak peduli terhadap penampilan diri sendiri, dan menarik diri dari pergaulan.

2. Gejala Positif

Sementara itu, gejala positif dari skizofrenia biasanya berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan adanya perubahan pada perilaku.

Hal yang perlu diwaspadai, gejala skizofrenia biasanya berkembang perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Pengidapnya bisa saja memiliki banyak gejala, atau hanya sedikit gejala yang dialaminya.

Pengidap skizofrenia mungkin kesulitan menjalin hubungan dengan teman dan rekan kerja. Mereka mungkin juga memiliki masalah dengan kecemasan, depresi, dan pikiran atau perilaku untuk bunuh diri.

Gejala awal skizofrenia bisa berupa:

  • Perasaan yang mudah tersinggung atau tegang.
  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Kesulitan tidur.

Saat penyakit berlanjut, orang tersebut mungkin memiliki masalah dengan pemikiran, emosi, dan perilaku, termasuk:

  • Mendengar atau melihat hal-hal yang tidak ada (halusinasi).
  • Isolasi diri.
  • Mengurangi emosi dalam nada suara atau ekspresi wajah.
  • Masalah dengan pemahaman dan pengambilan keputusan.
  • Masalah memperhatikan dan menindaklanjuti aktivitas.
  • Keyakinan yang dipegang kuat pada sesuatu hal yang tidak nyata (delusi).
  • Berbicara dengan cara yang tidak masuk akal.

 

Diagnosis Skizofrenia

Jika gejala skizofrenia terlihat, umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik kepada pengidap. Selain itu, pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga juga akan dilakukan.

Sementara untuk pemeriksaan penunjang seperti tes darah, pemeriksaan CT Scan, atau MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik dari gejala skizofrenia, misalnya tumor otak atau kelainan metabolik yang memiliki gejala halusinasi seperti skizofrenia. 

 

Pengobatan Skizofrenia

Skizofrenia dapat diobati dengan menggunakan beberapa cara, seperti mengombinasikan obat-obatan melalui terapi psikologis. Obat yang diberikan adalah antipsikotik yang memengaruhi zat neurotransmitter dalam otak. Obat ini mampu menurunkan kecemasan, menurunkan atau mencegah halusinasi, dan membantu menjaga kemampuan berpikir.

Dokter umumnya memberikan obat-obatan antipsikotik kepada pengidap skizofrenia untuk mengurangi atau menghilangkan gejalanya. Pengobatan lainnya, yaitu melalui terapi kejut listrik atau elektrokonvulsif (ECT).

Metode ECT dilakukan dengan cara memberikan aliran listrik eksternal ke otak pengidap yang sebelumnya sudah dianestesi atau ditidurkan, sehingga kekacauan listrik pada otak penyebab gejala halusinasi dapat berkurang.

 

Pencegahan Skizofrenia

Saat ini tindakan pencegahan skizofrenia secara spesifik belum tersedia. Namun, pemeriksaan dini bisa membantu mengurangi tingkat keparahan gejalanya. Keharmonisan keluarga juga menjadi hal yang penting untuk dijaga, begitu pula dengan melakukan kegiatan positif dan rutin berolahraga.

Baca juga: Kapan Ciri-Ciri Skizofrenia Mulai Muncul pada Seseorang?

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah temui dokter, psikiatri, atau psikolog bila kamu mengalami gejala-gejala di atas atau gejala lainnya, seperti: 


  • Mendengarkan suara yang menyuruh menyakiti diri sendiri atau orang lain.
  • Memiliki dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
  • Merasa takut atau kewalahan.
  • Melihat hal-hal yang tidak ada di sana atau nyata.
  • Merasa bahwa dirimu tidak dapat menjaga diri sendiri.


Kamu bisa memeriksakan diri ke rumah sakit pilihan. Sebelumnya, buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit. Praktis, kan?



Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2021. What Do You Want to Know about Schizophrenia? 
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Schizophrenia. 
Web MD. Diakses pada 2021. Schizophrenia.
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2021. Schizophrenia. 
National Health Service - UK. Diakses pada 2021. Schizophrenia. 


Diperbarui pada 18 Mei 2021.