Skizofrenia

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, dan juga menunjukan perubahan sikap. Pengidap skizofrenia umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dengan pikiran yang ada pada diri si pengidap.

Baca juga: 5 Faktor Risiko Skizofrenia Paranoid

 

Penyebab Skizofrenia

Meski penyebab utama skizofrenia belum ditemukan, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab dari skizofrenia, antara lain:

Faktor Genetik

Keturunan dari pengidap skizofrenia, memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengidap skizofrenia. Risiko tersebut akan meningkat 40 peren lebih besar ketika kedua orangtua sama-sama pengidap skizofrenia. Sementara itu, anak kembar yang salah satunya menderita skizofrenia, risiko akan meningkat 50 persen lebih besar.

Komplikasi saat Kehamilan dan Persalinan

Skizofrenia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang mungkin terjadi ketika masa kehamilan dan dampaknya akan terlihat ketika anak tersebut lahir. Kondisi tersebut, seperti paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa kehamilan, serta kekurangan nutrisi. Selain dari kehamilan, komplikasi yang terjadi pada masa persalinan juga dapat menyebabkan seorang anak mengidap skizofrenia. Contoh komplikasi yang dimaksud, seperti berat badan yang terlalu rendah saat kelahiran, kelahiran yang prematur, dan asfiksia atau kekurangan oksigen saat dilahirkan.

Faktor Kimia pada Otak

Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin pada otak, dapat menjadi salah satu penyebab dan meningkatkan risiko seseorang mengidap skizofrenia. Keduanya merupakan zat kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian dari neurotransmitter.

Selain itu, pengidap skizofrenia juga memiliki perbedaan struktur dan fungsi otak, bila dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan mental. Perbedaan tersebut antara lain:

  • Ventrikel otak memiliki ukuran yang lebih besar. Ventrikel sendiri adalah bagian dalam otak yang berisi cairan.

  • Lobus temporalis memiliki ukuran yang lebih kecil. Ingatan dalam otak manusia berkaitan dengan lobus temporalis.

  • Sel-sel pada otak memiliki koneksi yang lebih sedikit.

 

Faktor Risiko Skizofrenia

Setiap orang bisa saja terkena skizofrenia tanpa mengenal umur, tetapi umumnya kalangan remaja dan orang yang baru menginjak usia 20 tahun awal memiliki faktor risiko yang lebih tinggi untuk terkena skizofrenia. Beberapa faktor yang menjadi faktor risiko skizofrenia, yaitu:

  • Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.

  • Faktor genetik dari orangtua.

  • Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi dan terkena virus saat didalam kandungan.

  • Lahir dengan kondisi prematur.

  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.

  • Ketidakseimbangan kadar serotinin dan dopamine.

  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.

  • Penyalahgunaan dari obat-obat terlarang.

 

Gejala Skizofrenia

Skizofrenia terbagi menjadi dua kategori, yaitu positif dan negatif. Berikut ini penjelasan dari dua kategori gejala penyakit tersebut:

1. Gejala Negatif

Gejala skizofrenia negatif adalah kondisi ketika sifat dan kemampuan yang dimiliki orang normal, seperti konsentrasi, pola tidur normal, dan juga memiliki motivasi hidup menjadi hilang. Umumnya, gejala tersebut ditambah dengan ketidakmauan seseorang untuk bersosialisasi dan merasa tidak nyaman saat bersama orang lain. Ciri-ciri orang yang mengidap gejala skizofrenia negatif, yaitu terlihat apatis dan buruk secara emosi, tidak peduli terhadap penampilan diri sendiri dan menarik diri dari pergaulan.

2. Gejala Positif

Biasanya berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan adanya perubahan perilaku.

 

Diagnosis Skizofrenia

Jika gejala gangguan kejiwaan skizofrenia terlihat, umumnya dokter kejiwaan akan melakukan pemeriksaan fisik kepada pengidap. Selain itu, pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga juga akan dilakukan. Sementara untuk pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium seperti tes darah, pemeriksaan citra otak dengan CT Scan atau MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik dari gejala skizofrenia, misalnya tumor otak atau kelainan metabolik yang bisa memiliki gejala halusinasi seperti skizofrenia. Jika tidak ditemukan gejala atau indikasi penyakit lain akan gangguan kejiwaan skizofrenia, dokter akan merujuk pasien atau pengidap untuk ditangani oleh psikiater atau dokter spesialis kejiwaan.

 

Pengobatan Skizofrenia

Skizofrenia dapat diobati dengan menggunakan beberapa cara, seperti mengombnasikan obat-obatan melalui terapi psikologis. Obat dengan resep pada pengobatan skizofrenia ini adalah antipsikotik yang dapat memengaruhi zat neurotransmiter didalam otak, yang bisa menurunkan rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan membantu menjaga kemampuan berpikir.

Dokter umumnya akan memberikan obat-obatan antipsikotik kepada pengidap skizofrenia untuk mengurangi atau menghilangkan gejalanya. Pengobatan lainnya dengan terapi kejut listrik atau elektrokonvulsif (ECT). Metode ECT dengan cara memberikan aliran listrik eksternal ke otak pengidap yang sebelumnya sudah di anestesi atau ditidurkan sehingga kekacauan listrik pada otak penyebab gejala halusinasi dapat berkurang.

Baca juga: Seseorang Bisa Mengidap Skizofrenia Bila Mengalami Hal-Hal Ini

 

Pencegahan Skizofrenia

Untuk saat ini tindakan preventif gangguan kejiwaan skizofrenia secara spesifik belum tersedia. Namun, tentu saja faktor risiko atas terjadinya skizofrenia bisa dilakukan dengan diagnosis sedari dini jika ada anggota keluarga yang memiliki indikasi akan adanya gejala skizofrenia.

Keharmonisan keluarga juga menjadi hal yang penting untuk dijaga, serta melakukan kegiatan positif dan rutin berolahraga juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Jika seseorang terdiagnosis mengidap skizofrenia, penanganan medis dan pemberian resep dokter akan sangat berguna. Hal tersebut tentu saja bertujuan untuk menghindari gejala skizofrenia semakin parah.

Baca juga: Alasan Kecanduan Narkoba Dapat Sebabkan Skizofrenia

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami tanda dan gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.

Referensi:
Web MD. Diakses pada 2019. Schizophrenia
Diperbarui pada 13 Agustus 2019