Solusio Plasenta

Pengertian Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta dari tempat implantasi normalnya di rahim sebelum kelahiran dan merupakan salah satu penyebab perdarahan ibu hamil pada trimester ketiga yang terkait dengan kematian ibu dan janin.

Gejala Solusio Plasenta

Berdasarkan gejalanya, solusio plasenta dibagi menjadi 3 kelas:

  • Kelas 0: tidak ada gejala.
  • Kelas 1: gejala ringan (48 persen kasus)
  • Kelas 2: gejala sedang (27 persen kasus)
  • Kelas 3: gejala berat (24 persen kasus)

Kelas 0

  • Tidak ada gejala.
  • Ditemukan pada saat kelahiran dengan ciri terdapat gumpalan darah atau area yang penyok pada plasenta.

Kelas 1

  • Tidak ada perdarahan atau perdarahan vagina ringan.
  • Nyeri rahim ringan.
  • Tekanan darah dan denyut nadi ibu normal.
  • Tidak ada gangguan koagulasi darah.
  • Tidak ada gawat janin.

Kelas 2

  • Tidak ada perdarahan atau perdarahan vagina ringan.
  • Nyeri rahim sedang-berat dengan kontraksi tetanik.
  • Peningkatan denyut nadi ibu dengan perubahan tekanan darah dan denyut nadi orthostatic (dipengaruhi posisi berdiri/ duduk).
  • Gawat janin.
  • Hipofibrinogenemia.

Kelas 3

  • Tidak ada perdarahan sampai perdarahan vagina berat.
  • Kejang rahim (tetanik) yang berat dan sangat nyeri.
  • Syok maternal.
  • Hipofibrinogenemia.
  • Koagulopati.
  • Kematian janin.

Penyebab dan Faktor Risiko Solusio Plasenta

Penyebab solusio plasenta biasanya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor risiko terkait terjadinya Solusio Plasenta, di antaranya:

  • Hipertensi maternal.
  • Trauma maternal seperti jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor.
  • Merokok.
  • Konsumsi alkohol.
  • Penggunaan kokain.
  • Tali pusat pendek.
  • Dekompresi rahim tiba-tiba.
  • Fibromyoma retroplasenta.
  • Perdarahan retroplasenta akibat tusukan jarum, seperti pada amniosentesis.
  • Abnormalitas pembuluh darah rahim.
  • Memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.
  • Korioamnionitis.
  • Ketuban pecah dini.
  • Usia ibu lebih dari 35 tahun.
  • Usia ibu kurang dari 20 tahun.
  • Janin laki-laki.
  • Status ekonomi sosial rendah.
  • Peningkatan serum alpha-fetoprotein ibu.
  • Hematoma subkorionik.

Diagnosis Solusio Plasenta

Diagnosis dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk menemukan adanya perdarahan dengan nyeri yang terjadi spontan atau karena trauma. Pemeriksaan ini diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim dalam beberapa kasus. Diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.

Penanganan Solusio Plasenta

Penanganan meliputi rawat inap, pemberian cairan intravena dan persiapan transfusi darah. Jika disebabkan oleh gangguan koagulasi, dokter akan mengoreksi kondisi tersebut dengan obat-obatan atau juga transfusi faktor koagulan.

Pemberian Rh immunoglobulin diperlukan pada pasien Rh-negatif. Jika usia kehamilan kurang dari 37 minggu, pemberian kortikosteroid untuk pematangan paru janin perlu dilakukan. Jika hemodinamik ibu stabil, dapat dipikirkan kelahiran pervaginam. Namun, jika kondisi ibu tidak stabil, harus dilakukan pembedahan seksio cesaria.

Pencegahan Solusio Plasenta

Dua faktor yang bisa dikoreksi adalah merokok dan penyalahgunaan kokain. Edukasi tentang faktor risiko, program penghentian, atau rehabilitasi ini mencegah berulangnya solusio plasenta di masa depan.

Pasien yang ditemukan memiliki trombofilia dan mengalami solusio berat atau awal, terutama dengan kematian janin, biasanya diobati dengan terapi antikoagulasi heparin selama kehamilan berikutnya dan selama 6 minggu pasca persalinan, meski sedikit bukti menunjukkan tindakan ini mengurangi risiko kekambuhan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu memiliki masalah selama masa kehamilan, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.