Solusio Plasenta

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Solusio Plasenta

Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta dari tempat implantasi normalnya di rahim sebelum kelahiran dan merupakan salah satu penyebab perdarahan ibu hamil pada trimester ketiga yang terkait dengan kematian ibu dan janin.

 

Faktor Risiko Solusio Plasenta

Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta, di antaranya:

  • Hipertensi maternal.

  • Trauma maternal seperti jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor.

  • Merokok.

  • Konsumsi alkohol.

  • Penggunaan kokain.

  • Tali pusat pendek.

  • Dekompresi rahim tiba-tiba.

  • Fibromyoma retroplasenta.

  • Perdarahan retroplasenta akibat tusukan jarum, seperti pada amniosentesis.

  • Abnormalitas pembuluh darah rahim.

  • Memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.

  • Korioamnionitis.

  • Ketuban pecah dini.

  • Usia ibu lebih dari 35 tahun.

  • Usia ibu kurang dari 20 tahun.

  • Janin laki-laki.

  • Status ekonomi sosial rendah.

  • Peningkatan serum alpha-fetoprotein ibu.

  • Hematoma subkorionik.

Baca juga: Hamil Anak Laki-laki Rentan Alami Solusio Plasenta, Benarkah?

 

Penyebab Solusio Plasenta

Penyebab solusio plasenta seringkali tidak ditemukan, tapi kemungkinan trauma atau cedera pada perut karena kecelakaan misalnya, berperan dalam terjadinya kondisi tersebut.

 

Gejala Solusio Plasenta

Berdasarkan gejalanya, solusio plasenta dibagi menjadi 3 kelas:

  • Kelas 0: tidak ada gejala.

Karena tidak menimbulkan gejala gejala, solusio plasenta kelas 0 ini baru ditemukan pada saat kelahiran dengan ciri berupa gumpalan darah atau adanya area yang penyok pada plasenta.

  • Kelas 1: gejala ringan (48 persen kasus), gejalanya antara lain:
    • Tidak ada perdarahan atau perdarahan vagina ringan.

    • Nyeri rahim ringan.

    • Tekanan darah dan denyut nadi ibu normal.

    • Tidak ada gangguan koagulasi darah.

    • Tidak ada gawat janin.

  • Kelas 2: gejala sedang (27 persen kasus), gejalanya antara lain:
    • Tidak ada perdarahan atau perdarahan vagina ringan.

    • Nyeri rahim sedang-berat dengan kontraksi tetanik.

    • Peningkatan denyut nadi ibu dengan perubahan tekanan darah dan denyut nadi orthostatic (dipengaruhi posisi berdiri/ duduk).

    • Gawat janin.

    • Hipofibrinogenemia.

  • Kelas 3: gejala berat (24 persen kasus)
    • Tidak ada perdarahan sampai perdarahan vagina berat.

    • Kejang rahim (tetanik) yang berat dan sangat nyeri.

    • Syok maternal.

    • Hipofibrinogenemia.

    • Koagulopati.

    • Kematian janin.

Baca juga: Harus Tahu, 9 Gejala dari Solusio Plasenta yang Dialami Bumil

 

Diagnosis Solusio Plasenta

Diagnosis solusio plasenta dilakukan dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik untuk menemukan adanya perdarahan dengan nyeri yang terjadi spontan atau karena trauma. Untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan sumber perdarahan vagina, dokter mungkin akan merekomendasikan tes darah dan urin dan USG. Namun, tidak semua solusio plasenta bisa dideteksi melalui USG.

Baca juga: Inilah Langkah Diagnosis Solusio Plasenta

 

Komplikasi Solusio Plasenta

Solusio plasenta dapat menyebabkan masalah yang berakibat fatal bagi ibu dan bayi. Bagi ibu, solusio plasenta dapat menyebabkan komplikasi berikut:

  • Syok karena kehilangan darah.

  • Gangguan pembekuan darah (koagulasi intravascular diseminata).

  • Kebutuhan akan transfusi darah.

  • Gagal ginjal atau organ lainnya akibat kehilangan darah yang signifikan.

Bagi bayi, solusio plasenta bisa menyebabkan masalah:

  • Gangguan pertumbuhan karena tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

  • Lahir prematur.

  • Tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

  • Meninggal saat dilahirkan.

 

Pengobatan Solusio Plasenta

Pengobatan solusio plasenta meliputi rawat inap, pemberian cairan intravena dan persiapan transfusi darah. Jika disebabkan oleh gangguan koagulasi, dokter akan memperbaiki kondisi tersebut dengan obat-obatan atau juga transfusi faktor koagulan.

Pemberian Rh immunoglobulin diperlukan pada pasien Rh-negatif. Jika usia kehamilan kurang dari 37 minggu, pemberian kortikosteroid untuk pematangan paru janin perlu dilakukan. Jika hemodinamik ibu stabil, dapat dipikirkan kelahiran pervaginam. Namun, jika kondisi ibu tidak stabil, harus dilakukan pembedahan seksio cesaria.

 

Pencegahan Solusio Plasenta

Dua gaya hidup tidak sehat yang mesti dihentikan untuk mencegah solusio plasenta adalah merokok dan penyalahgunaan kokain. Masyarakat juga perlu diberi edukasi mengenai faktor risiko, program penghentian, atau rehabilitasi guna mencegah berulangnya solusio plasenta di masa depan.

Pasien yang ditemukan memiliki trombofilia dan mengalami solusio berat atau awal, terutama dengan kematian janin, biasanya diobati dengan terapi antikoagulasi heparin selama kehamilan berikutnya dan selama 6 minggu pasca persalinan. Walau begitu, sedikit bukti menunjukkan tindakan ini mengurangi risiko kekambuhan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu memiliki masalah selama masa kehamilan, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Placental abruption - Symptoms and causes.

American Pregnancy.  Diakses pada 2019. Placental Abruption: Risks, Causes, Symptoms and Treatment.

Diperbarui pada 23 September 2019