• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Stockholm Syndrome
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Stockholm Syndrome

Stockholm Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Stockholm SyndromeStockholm Syndrome

Sindrom stockholm adalah mekanisme koping (coping mechanism) yang biasanya terjadi pada orang yang mengalami penculikan. Korban akan mengembangkan perasaan positif terhadap penculik atau pelaku dari waktu ke waktu. Kondisi ini juga berlaku untuk beberapa situasi lain termasuk pelecehan anak, pelecehan pelatih-atlet, pelecehan hubungan dan perdagangan seks.

Penyebab Stockholm Syndrome

Sejauh ini para peneliti tidak tahu pasti penyebab mengapa beberapa tawanan mengembangkan sindrom ini sedangkan yang lain tidak.  Bisa jadi keberadaan sindrom ini sebagai teknik coping nenek moyang peradaban masa lalu. Di mana pada situasi tertentu, tawanan membangun ikatan emosional dengan penculiknya untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.

Teori lain menyebutkan bahwa situasi tawanan atau pelecehan sangat emosional. Korban bisa “terpaksa” menyesuaikan perasaan dengan pelaku untuk mengamankan keselamatannya. Ketika tidak disakiti oleh pelakunya, korban mungkin merasa bersyukur dan bahkan memandang pelakunya sebagai orang yang penuh belas kasihan. 

Faktor Risiko Stockholm Syndrome

Beberapa faktor yang dapat menempatkan kondisi seseorang mengalami Stockholm Syndrome adalah:

  • Toxic Relationship

Orang yang mengalami hubungan toksik dapat mengembangkan keterikatan emosional dengan pelakunya. Pelecehan seksual, fisik, dan emosional, serta inses, dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, seseorang dapat mengembangkan perasaan positif atau simpati untuk orang yang menyalahgunakannya.

  • Pelecehan Anak

Pelaku sering mengancam korbannya dengan menyakiti, bahkan akan menghabisi nyawanya. Korban mungkin mencoba untuk tidak membuat marah pelaku dengan menjadi patuh. 

Pelaku juga dapat menunjukkan kebaikan yang dapat dianggap sebagai perasaan yang tulus. Hal ini selanjutnya dapat membingungkan anak (korban) dan menyebabkan mereka tidak memahami sifat negatif positif dari hubungan tersebut.

  • Perdagangan Seks

Orang-orang yang diperdagangkan seringkali bergantung pada pelakunya untuk kebutuhan, seperti makanan dan air. Ketika pelaku memberikan itu, korban mungkin mulai mengembangkan perasaan positif terhadap pelakunya.

Mereka mungkin juga menolak bekerja sama dengan polisi karena takut akan pembalasan atau berpikir bahwa mereka harus melindungi pelaku kekerasan untuk melindungi diri mereka sendiri.

  • Pembinaan Olahraga

Terlibat dalam olahraga adalah salah satu cara untuk membangun keterampilan dalam berelasi. Sayangnya, beberapa dari hubungan yang terbangun lewat pembinaan olahraga pada akhirnya berakhir negatif. 

Teknik pelatihan yang keras bisa menjadi kasar. Atlet mungkin mengatakan pada diri sendiri bahwa perilaku pelatih mereka adalah untuk kebaikan mereka sendiri. Ini pada akhirnya dapat menjadi bentuk sindrom Stockholm.

Gejala Stockholm Syndrome

Orang yang memiliki sindrom stockholm memiliki gejala:

  • Perasaan positif terhadap para penculik atau pelaku kekerasan.
  • Simpati untuk keyakinan dan perilaku penculiknya.
  • Perasaan negatif terhadap polisi atau figur otoritas penegak hukum  lainnya.
  • Mengalami gejala lain mirip dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) termasuk; kilas balik, merasa tidak percaya, jengkel, gelisah atau cemas, tidak dapat bersantai atau menikmati hal-hal yang sebelumnya dinikmati, dan kesulitan berkonsentrasi.

Diagnosis Stockholm Syndrome

American Psychiatric Association tidak secara resmi mengakui atau memasukkan sindrom ini sebagai suatu kondisi penyakit atau gangguan kesehatan mental tertentu.  Ini disebabkan karena belum ada penelitian pasti  terkait  kondisi ini. 

Namun, semua penyedia layanan kesehatan mengenali perilaku yang dihasilkan dari situasi traumatis. Kriteria untuk PTSD atau gangguan stres akut dan beberapa perawatan seringkali mirip dengan sindrom stockholm.

Komplikasi Stockholm Syndrome

Sindrom Stockholm yang tidak ditangani dapat menyebabkan masalah emosional yang lebih luas. Orang yang mengalami sindrom ini bisa mengembangkan kondisi PTSD, kondisi traumatis, masalah pada harga diri, dan juga mengembangkan kondisi trust issue.

Pengobatan Stockholm Syndrome

Sindrom ini belum diakui sebagai kondisi psikologis, sehingga tidak ada pengobatan standar. Namun, seperti pengobatan untuk PTSD, pengobatan sindrom ini biasanya melibatkan konseling ke psikiater dan mendapatkan terapi psikologis, termasuk pemberian obat-obatan. 

Pencegahan Stockholm Syndrome

Pencegahan sindrom ini sayangnya tidak dapat dilakukan. Apalagi sindrom ini bisa dibilang langka dan kurang bisa didiagnosis secara pasti. Sindrom Stockholm ini tidak terbatas hanya pada korban penculikan, melainkan juga orang-orang yang mengalami pelecehan fisik dan mental. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami situasi traumatis yang melibatkan kekerasan, penganiayaan, baik secara fisik maupun mental, kamu perlu segera melakukan pemeriksaan kesehatan ke profesional medis.

Informasi selengkapnya mengenai  Sindrom Stockholm bisa kamu dapatkan dengan cara download aplikasi Halodoc melalui App Store atau Google Play. Lewat Halodoc, kamu juga bisa buat janji pemeriksaan di rumah sakit pilihan terkait kondisi kesehatan mental. 

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Stockholm Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2022. What is Stockholm Syndrome and Who Does it Affect?
Medical News Today. Diakses pada 2022. What is Stockholm syndrome?