Stroke Hemoragik

Pengertian Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik merupakan suatu kondisi gawat darurat, yang disebabkan oleh pecahnya salah satu pembuluh darah di dalam otak, yang memicu perdarahan di sekitar otak. Akibatnya, aliran darah pada sebagian otak berkurang atau terhenti, yang kemudian menyebabkan pasokan oksigen ke otak berkurang, sehingga memicu kematian sel otak dan dapat mengganggu fungsi otak secara permanen. Jika perdarahan terjadi di dalam otak disebut dengan perdarahan intraserebral, sedangkan jika perdarahan terjadi pada ruang di antara selaput pembungkus otak bagian tengah dan dalam disebut dengan perdarahan subarachnoid.

 

Faktor Risiko Stroke Hemoragik

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke hemoragik, antara lain:

  • Usia lanjut.

  • Pengguna kokain dan amfetamin.

  • Pengguna alkohol berat.

 

Penyebab Stroke Hemoragik

Penyebab terjadinya stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Beberapa kondisi yang dapat memicu hal ini, antara lain:

  • Aneurisma otak.

  • Cedera kepala berat.

  • Efek samping penggunaan obat pengencer darah, seperti warfarin.

  • Kelainan darah, seperti penyakit anemia sel sabit dan hemofilia.

  • Kelainan pembuluh darah otak sejak lahir (malformasi pembuluh darah arteri dan vena).

  • Penyakit liver.

  • Tekanan darah tinggi (hipertensi).

  • Tumor otak.

 

Gejala Stroke Hemoragik

Gejala stroke hemoragik bervariasi tergantung dari lokasi pecahnya pembuluh darah atau jenis stroke hemoragik yang dialami pengidap.

  1. Perdarahan intraserebral umumnya timbul tanpa peringatan dan memburuk setelah 30 hingga 90 menit. Gejalanya, antara lain:

  • Kelemahan mendadak.

  • Kelumpuhan atau mati rasa di bagian tubuh manapun.

  • Kesulitan berjalan.

  • Ketidakmampuan dalam berbicara.

  • Ketidakmampuan dalam mengontrol gerakan mata yang wajar.

  • Muntah.

  • Pernapasan tidak teratur.

  • Pingsan.

  • Kehilangan kesadaran.

  1. Perdarahan subarachnoid terjadi akibat perdarahan di antara otak dan jaringan yang selaput otak. Gejalanya, antara lain:

  • Sakit kepala yang sangat parah dan tiba-tiba.

  • Kebingungan.

  • Kekakuan leher.

  • Ketidakmampuan dalam melihat cahaya terang.

  • Mual dan muntah.

  • Pusing.

  • Kejang.

  • Koma.

 

Diagnosis Stroke Hemoragik

Dokter akan mendiagnosis stroke hemoragik dengan diawali suatu wawancara medis lengkap dengan kerabat pengidap, dikarenakan saat sampai di rumah sakit umumnya pengidap dalam kondisi tidak sadarkan diri. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologi menyeluruh. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan meminta untuk dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • CT scan, yang merupakan pemeriksaan yang paling cepat dan paling efektif, untuk menentukan lokasi perdarahan otak yang terjadi.

  • MRI scan, yang dapat membantu dalam memberikan informasi mengenai aliran darah ke otak.

  • Angiografi otak, yang dapat dilakukan sebagai pemeriksaan tambahan, untuk mengetahui perkembangan perdarahan yang terjadi.

  • Pemeriksaan cairan serebrospinal, yang dilakukan dengan mengambil cairan dari area otak dan tulang belakang, dapat dilakukan jika hasil CT scan atau MRI belum cukup untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan ini sangat jarang dilakukan.

 

Komplikasi Stroke Hemoragik

Beberapa komplikasi yang dapat disebabkan oleh stroke hemoragik, antara lain:

  • Gangguan dalam proses berpikir dan mengingat.

  • Kesulitan menelan, makan, dan minum.

  • Masalah pada jantung.

  • Kejang hingga kematian.

 

Pengobatan Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik adalah kondisi gawat darurat, sehingga pengidapnya harus segera dilarikan ke unit gawat darurat rumah sakit, untuk mendapatkan penanganan segera. Beberapa pengobatan yang akan diberikan dokter, meliputi:

  1. Obat pengontrol tekanan darah, yang harus diberikan dengan sangat berhati-hati, karena tidak dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah dengan drastis dan dalam waktu yang cepat.

  2. Obat untuk mengurangi pembengkakan otak, seperti mannitol.

  3. Obat untuk menghilangkan sakit kepala.

  4. Obat untuk mengatasi kejang, seperti fenitoin.

  5. Prosedur bedah dapat dilakukan pada beberapa kasus, untuk menghentikan perdarahan, mengurangi tekanan dalam tengkorak, dan meningkatkan kemungkinan pemulihan. Tindakan operasi yang dilakukan tergantung dari penyebab perdarahan itu sendiri, di antaranya:

  • Dekompresi kraniotomi

  • Pengobatan aneurisma dengan pemasangan klip bedah.

  • Pengobatan arteriovenous malformasi (AVM).

  1. Fisioterapi, yang dapat dilakukan jika pengidap sudah dalam kondisi stabil, untuk membantu fungsi fisik dan kemampuan berbicara pengidap, agar dapat pulih sebanyak mungkin. Terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi fisik, terapi okupasi, dan terapi bicara.

 

Pencegahan Stroke Hemoragik

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah stroke hemoragik, antara lain:

  • Melakukan olahraga secara rutin.

  • Melakukan pemeriksaan fisik secara berkala.

  • Menggunakan obat-obat hipertensi yang diresepkan dokter dengan teratur.

  • Mengonsumsi makanan sehat.

  • Berhati-hati dalam berkendara.

  • Menaati aturan dan dosis yang dianjurkan dokter dalam menggunakan warfarin.

  • Menggunakan helm dengan standar yang baik (SNI) saat mengendarai sepeda motor.

  • Menggunakan sabuk pengaman saat mengendarai mobil.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Oleh karena stroke hemoragik merupakan kondisi gawat darurat, penting untuk segera melarikan pengidap ke unit gawat darurat rumah sakit jika terdapat gejala-gejala yang telah disebutkan sebelumnya di atas, untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu di sini.