TBC Tulang Belakang

Pengertian

TBC atau tuberkulosis (TB) tulang belakang dikenal juga dengan nama penyakit Pott, yaitu tuberkulosis yang terjadi di luar paru-paru, dimana menjangkiti tulang belakang. Penyakit ini umumnya menginfeksi tulang belakang pada area toraks (dada belakang) bagian bawah dan vertebra lumbalis (pinggang belakang) atas.

Gejala

Seperti halnya tuberkulosis, keberadaan TBC tulang belakang sulit dideteksi. Pada umumnya, pengidap mengalami nyeri punggung kronis yang tidak diketahui penyebabnya. Maka dari itu, dokter mengalami kesulitan untuk mendiagnosis. Kondisi semacam ini bisa berlangsung sekitar empat bulan.

Selain gejala umum tuberkulosis, TBC tulang belakang juga memiliki gejala-gejala tambahan yang mungkin dirasakan oleh sebagian pengidap, antara lain:

  • Serangan atau gejala yang muncul sifatnya bertahap.
  • Demam.
  • Berkeringat di malam hari.
  • Kehilangan berat badan.
  • Anoreksia (gangguan makan) yang memicu penurunan berat badan.
  • Sakit punggung yang terlokalisir.
  • Memiliki posisi tubuh yang tegak dan kaku.
  • Tulang belakang yang melengkung keluar menyebabkan punggung menjadi bungkuk (kifosis).
  • Pembengkakan pada tulang punggung.
  • Muncul benjolan pada pangkal paha yang menyerupai hernia.
  • Jika mengenai sistem saraf, kemungkinan akan ada gangguan saraf yang memengaruhi organ-organ tubuh.

Penyebab

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri yang bernama mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar melalui percikan air liur pengidap tuberkulosis yang bersin atau batuk. Makin lama atau makin sering seseorang berinteraksi dengan pengidap TBC, maka makin besar pula risiko tertular penyakit ini.

TBC tulang belakang terjadi akibat menyebarnya bakteri tuberkulosis dari paru- paru ke tulang belakang hingga ke keping/sendi yang ada di antara tulang belakang. Kondisi ini menyebabkan matinya jaringan sendi dan memicu kerusakan pada tulang belakang. Beberapa faktor risiko lain yang menyebabkan seseorang terinfeksi TBC tulang belakang, antara lain:

  • Faktor sosial ekonomi yang rendah atau buruk, turut memengaruhi standar kualitas hidup, misalnya orang-orang yang tinggal di area yang kumuh dan padat.
  • Tinggal di area yang memiliki tingkat kasus tuberkulosis tinggi atau endemik.
  • Orang yang kekurangan nutrisi.
  • Orang-orang kelompok lanjut usia.
  • Terinfeksi HIV yang mengakibatkan rendahnya sistem kekebalan tubuh.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh menurun lainnya, misalnya pengidap kanker, penyakit ginjal stadium lanjut, dan diabetes.
  • Pecandu minuman keras atau pengguna obat-obatan terlarang.

Orang-orang yang berisiko terkena penyakit tuberkulosis maupun TBC tulang belakang harus mengenali gejala-gejala dengan baik demi membantu memudahkan penentuan diagnosis setelah menjalani tes.

Pengobatan

Sedikit berbeda dengan kondisi tuberkulosis, pengobatan TBC tulang belakang berkemungkinan memerlukan tindakan operasi sebagai bentuk perawatan tambahan selain antibitiotik yang diberikan untuk mengobati tuberkulosis. Pengidap TBC tulang belakang juga mungkin disarankan untuk tidak menggerakkan tulang belakangnya hingga suatu periode tertentu. Hal ini dilakukan dengan mengenakan bebat atau alat khusus untuk waktu yang lama. Selain itu,
serangkaian terapi fisik akan disarankan untuk diikuti demi mengurangi nyeri serta melatih kekuatan dan fleksibilitas tulang.

Pada pengobatan TBC tulang belakang, pemberian antibiotik tetap dilakukan hingga periode pengobatan yang telah ditentukan dan harus dihabiskan. Beberapa jenis antibiotik yang umumnya digunakan, antara lain rifampicin dan ethambutol. Efek samping yang mungkin timbul dari obat-obatan ini, antara lain sakit kuning, demam, ruam, gatal-gatal, menurunnya nafsu makan, dan urine berwarna gelap. Obat pereda rasa sakit mungkin diresepkan oleh dokter juga. Terapi pengobatan TBC tulang belakang dapat berlangsung hingga lebih dari enam bulan, tergantung kepada tingkat keparahan dan kondisi fisik pengidap.

Walau masa penyembuhan dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, TBC tulang belakang tetap dapat disembuhkan selama segera bisa dideteksi dan ditangani dengan benar. Tujuan lain dari penanganan cepat ini adalah untuk mengurangi risiko pengidap terkena komplikasi, berupa berbagai jenis kelainan atau cacat pada tulang belakang hingga mengalami kelumpuhan.

Pencegahan

Sama dengan langkah pengobatan penyakit tuberkulosis, vaksinasi merupakan tindakan pencegahan TBC tulang belakang yang utama. Vaksin yang diterima adalah vaksin Bacillus Calmette-Guerrin atau BCG. Vaksin ini wajib diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan. Anak-anak, remaja, serta orang dewasa yangbelum menerima vaksin BCG juga dianjurkan untuk menerima vaksin ini secepatnya walau akan berpengaruh kepada penurunan tingkat efektivitas. Beberapa tindakan pencegahan TBC tulang belakang lain yang tidak kalah penting, yaitu:

  • Tutupi mulut atau kenakan masker ketika berada ditempat umum ketika bersin, batuk, atau tertawa.
  • Bagi non pengidap, kenakan masker jika berinteraksi dengan pengidap TBC. Hindari pula terlalu sering berinteraksi dengan para pengidap.
  • Mulailah kebiasaan mencuci tangan secara teratur.
  • Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik demi melancarkan pergantian udara di dalam rumah.