26 April 2019

Ketahui 5 Faktor Risiko Si Kecil Terserang PDA

Ketahui 5 Faktor Risiko Si Kecil Terserang PDA

Halodoc, Jakarta - Patent Ductus Arteriosus atau PDA menjadi masalah kesehatan yang mengincar bayi, biasanya terjadi pada minggu atau bulan pertama setelah kelahiran. Sebelum bayi dilahirkan, darah tidak perlu menuju ke bagian paru-paru untuk bisa mendapatkan asupan oksigen. Peranan ductus arteriosus adalah memungkinkan darah untuk tetap bisa mendapatkan asupan oksigen tanpa perlu melewati paru.

Namun, ketika bayi lahir, darah harus menerima oksigen di paru-paru, dan lubang ductus ini seharusnya menutup untuk memungkinkan proses tersebut terjadi. Jika ductus terbuka atau biasa disebut patent, darah tentu melewati langkah sirkulasi yang diperlukan ini, yang menandakan adanya masalah kesehatan PDA.

Gangguan kesehatan ini hampir selalu terjadi pada bayi yang baru dilahirkan. Pada beberapa kasus, saluran ini tidak menutup. Meski begitu, belum ada alasan pasti hal ini terjadi, ada pendapat yang mengatakan kelahiran prematur menjadi pemicu utamanya. Tetapi, patent ductus arteriosus bisa terjadi dalam kombinasi dengan kelainan jantung lainnya.

Baca juga: Benarkah Bayi Prematur Rentan Idap PDA?

Normalnya, sisi kiri jantung hanya memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh, sementara sisi bagian kanan memompa darah untuk dialirkan ke bagian paru. Pada anak yang mengidap PDA, darah ekstra akan dipompa dari aorta ke arteri paru. Jika PDA terbilang akut, darah ekstra yang dipompa ke arteri paru membuat jantung dan paru bekerja lebih keras. Akibatnya, paru-paru bisa saja mengalami penyumbatan.

Jika patent ductus arteriosus yang dialami anak tidak terlalu parah, tidak akan ada gejala khusus pada jantung, dan paru-paru tidak akan bekerja lebih keras. Gejala khas yang terjadi adalah murmur jantung pada bayi. Namun, jika PDA terbilang besar, anak mungkin akan bernapas lebih cepat dan lebih keras daripada biasanya.

Baca juga: Penanganan yang Dilakukan pada Pengidap PDA

Selain itu, anak mungkin juga mengalami kesulitan ketika makan dan mengalami kesulitan pertumbuhan. Gejala yang muncul pun tidak terlihat sampai beberapa minggu setelah kelahiran. Tekanan yang tinggi bisa terjadi pada pembuluh darah di paru karena lebih banyak darah yang dipompa dari organ ini. Seiring waktu, kondisi ini mengakibatkan kerusakan permanen pada pembuluh darah yang ada di paru.

Apa Saja Faktor Risikonya?

Adapun risiko PDA yang membuat anak rentan mengalami gangguan jantung ini adalah sebagai berikut:

  • Kelahiran prematur. PDA sering terjadi pada bayi yang dilahirkan sebelum waktunya atau lahir dini.

  • Riwayat keluarga dan faktor genetik. Adanya keluarga yang memiliki riwayat kelainan jantung atau kondisi genetik lain, seperti Sindrom Down dapat menyebabkan PDA pada anak.

  • Infeksi rubella selama kehamilan. Apabila ibu hamil mengalami infeksi rubella, risiko terjadinya cacat jantung pada janin akan sangat besar. Virus rubella akan melintasi plasenta dan menyebar melalui sistem peredaran darah bayi, merusak pembuluh darah dan organ, termasuk jantung.

  • Lahir di dataran tinggi. Bayi yang dilahirkan di tempat dengan ketinggian lebih dari 10 ribu kaki atau lebih dari 3 ribu meter menyumbang risiko tinggi terserang PDA.

  • Perempuan. Bayi berjenis kelamin perempuan lebih berisiko mengalami PDA dibandingkan dengan bayi laki-laki.

Baca juga: Benarkah Pengobatan PDA Bisa dengan Alat Amplatzer Ductal occluder (ADO)?

Oleh karena bisa terjadi selama kehamilan, penting untuk ibu memeriksakan kondisi kandungan secara rutin, agar deteksi dini bisa dilakukan dan penanganan pun segera diberikan. Apabila ibu merasakan tanda aneh pada sang janin, jangan ragu untuk langsung bertanya pada dokter. Tidak perlu menunggu jadwal periksa rutin, segera download aplikasi Halodoc di ponsel ibu. Jadi, ibu bisa bertanya setiap saat melalui aplikasi Halodoc ini.