• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 7 Kondisi Bayi yang Membutuhkan Inkubator
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui 7 Kondisi Bayi yang Membutuhkan Inkubator

Ketahui 7 Kondisi Bayi yang Membutuhkan Inkubator

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 05 Agustus 2022

“Inkubator adalah sebuah perangkat yang sering digunakan untuk merawat bayi baru lahir. Alat ini umumnya ditujukan untuk bayi dengan kondisi khusus.”

Ketahui 7 Kondisi Bayi yang Membutuhkan InkubatorKetahui 7 Kondisi Bayi yang Membutuhkan Inkubator

Halodoc, Jakarta – Inkubator adalah alat penghangat berbentuk box yang bisa diatur suhunya. Perangkat ini sering digunakan untuk menghangatkan bayi dengan kondsisi intra uterine growth restriction (IUGR). Kondisi tersebut membuat bayi tidak berkembang sempurna di dalam kandungan.

Tidak sebatas menghangatkan, inkubator memberikan kelembapan, pencahayaan dan jumlah oksigen yang memadai bagi bayi yang punya gejala yang disebutkan di atas. 

Bayi mendapaktan perawatan via inkubator bukan karena kondisi IUGR saja. Tapi, bisa juga karena:

1. Lahir prematur

Organ-organ bayi prematur cenderung belum berkembang sempurna jika dibanding dengan bayi yang lahir normal. Itu sebabnya, mereka butuh waktu tambahan untuk mematangkan organ miliknya.

Selain itu, mereka juga tidak memiliki lemak tambahan yang membantu menghangatkan tubuh secara alami. Karena alasan-alasan ini, bayi prematur perlu dirawat dengan inkubator.

2. Masalah pernapasan

Mekonium atau tinja pertama bayi bisa tertelan selama ia berada dalam rahim. Masalah pernapasan adalah efek samping kondisi di atas. Jika tidak ada tindakan cepat, persoalan ini berisiko menyebabkan infeksi dan membuat Si Kecil sesak napas. Dokter perlu merawat bayi di inkubator untuk memudahkan pemantauan kadar oksigen. 

3. Infeksi

Bayi baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang mumpuni. Karenanya, ia rentan terserang infeksi dan risiko berbagai penyakit. Kegunaan inkubator dapat meminimalisir infeksi pada bayi-bayi yang baru sembuh dari penyakit. 

4. Penyakit kuning

Penyakit kuning disebabkan oleh menumpuknya zat bilirubin dalam darah sehingga membuat kulit dan bagian putih mata kekuningan. Bilirubin adalah pigmen kekuningan yang dihasilkan dari sel darah merah yang telah rusak. 

Hampir semua bayi yang mengidap penyakit kuning memerlukan perawatan inkubator. Pasalnya, alat ini dilengkapi dengan lampu khusus yang bisa menurunkan jumlah bilirubin. 

5. Bayi yang mengalami trauma saat dilahirkan

Pemantauan ketat perlu dilakukan pada bayi-bayi yang mengalami pengalaman traumatis selama proses kelahirannya. Mereka akan di rawat di inkubator yang suasananya mirip seperti rahim. Bayi yang mendapatkan perawatan ini diharapkan merasa lebih nyaman dan bisa pulih dari trauma. 

6. Berat badan lahir rendah

Kelahiran prematur sering dikaitkan dengan bayi yang berat badannya rendah. Padahal, bayi yang lahir cukup bulan juga bisa mengalami hal tersebut. Nah, anak yang lahir dengan kondisi ini kemungkinan punya jumlah lemak alami yang sedikit. 

Seperti dijelaskan sebelumnya, lemak membantu bayi untuk menjaga suhu tubuhnya. Oleh sebab itu, perawatan inkubator dilakukan untuk menjaga kehangatan bayi. 

Selain itu, anak dengan kondisi ini seringkali memiliki masalah kesehatan yang mirip dengan bayi prematur. Inkubator mampu memberikan oksigen ekstra dan lingkungan yang memadai untuk Si Kecil sehingga masalah di atas bisa teratasi.

7. Bayi yang telah menjalani operasi

Jika bayi baru menjalani operasi setelah kelahirannya, mereka perlu dipantau dalam lingkungan yang aman dan terkendali, seperti di dalam inkubator.

Ketiga Jenis Inkubator yang Sering Digunakan

1. Inkubator terbuka

Yang membedakan jenis ini dengan tipe lainnya adalah bagian atasnya yang tidak dilengkapi dengan tabung transparan. Inkubator terbuka juga sering disebut sebagai penghangat bercahaya karena fungsi utamanya untuk menghangatkan dan manyinari bayi. 

Karena sisi atasnya yang terbuka, dokter dan perawat lebih mudah merawat bayi di dalamnya. Kekurangannya, inkubator jenis ini tidak mampu mengontrol kelembapan karena udara dari luar bisa masuk ke dalamnya. 

2. Inkubator tertutup

Tipe ini umumnya lebih ditujukan untuk bayi yang butuh perlindungan ekstra. Paslanya, perangkat di atas dilengkapi dengan sistem penyaringan untuk mencegah kuman masuk ke dalam. 

Salah satu perbedaan terbesar antara inkubator tertutup dan terbuka adalah cara penyebaran panas dan pengontrolan suhunya. Pada jenis ini, suhu panas dihembuskan melalui kanopi-kanopi yang mengelilingi bayi.

Suhu dan kelembaban dapat dikontrol secara manual menggunakan tombol-tombol di bagian luar inkubator. Kontrol tersebut juga bisa disesuaikan secara otomatis berdasarkan sensor kulit yang terpasang pada bayi. 

3. Inkubator portabel

Sesuai dengan namanya, inkubator tipe ini mudah di bawa. Perangkat tersebut sering digunakan untuk bayi yang perlu dipindahkan ke lokasi lain. Inkubator portabel umumnya dilengkapi dengan ventilator mini, monitor pernapasan, pompa infus, oksimeter dan tabung oksigen.

Punya pertanyaan lain seputar perawatan inkubator? Kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan menjawab segala pertanyaan kamu dan memberikan solusi tepat. Download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Incubators for Babies: Why They’re Used and How They Work.
WebMD. Diakses pada 2022. What Is a Baby Incubator.