• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Penyebab Seseorang Dapat Terkena Trombositosis

Ketahui Penyebab Seseorang Dapat Terkena Trombositosis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ketahui Penyebab Seseorang Dapat Terkena Trombositosis

Halodoc, Jakarta -  Trombosit atau platelet adalah sel darah yang penting dalam proses pembekuan sel darah normal. Normalnya, jumlah trombosit dalam sel darah manusia adalah 150.000—450.000 per mikroliter darah. Namun, apa jadinya jika seseorang memiliki jumlah trombosit jauh di atas jumlah tersebut? Kondisi ini disebut juga dengan nama trombositosis

Kondisi ini tidak boleh disepelekan karena jumlah trombosit yang terlalu banyak di dalam darah berisiko menyebabkan pembuluh darah di beberapa anggota tubuh tersumbat. Akibatnya, pengidap rentan terkena stroke atau serangan jantung. 

Lantas, apa yang menjadi penyebab trombosit meningkat tajam sehingga menyebabkan trombositosis?

Baca juga: Punya Gangguan Darah Trombositosis, Coba Ubah Gaya Hidup dengan Cara Ini

 Kenali Penyebab Trombositosis

Trombositosis terjadi ketika jumlah trombosit yang dibentuk dalam sumsum tulang meningkat secara drastis. Berdasarkan penyebabnya, trombositosis dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu trombositosis primer dan trombositosis sekunder.

Trombositosis Primer

Kondisi meningkatnya jumlah trombosit dalam darah dapat disebabkan karena adanya gangguan yang terjadi pada sumsum tulang, sehingga tubuh menghasilkan trombosit secara berlebihan. Jenis trombositosis ini disebut juga trombositosis primer. 

Penyebab trombositosis primer biasanya karena terjadinya mutasi gen, yaitu gen Janus kinase 2 JAK2 yang mendorong produksi sel secara berlebihan. Selain itu, zat seperti thrombopoietin (MPL) atau calreticulin (CALR) memicu meningkatnya aktivitas gen JAK2, sehingga produksi sel megakariosit atau sel muda trombosit semakin banyak.

Trombositosis Sekunder

Selain gangguan yang terjadi di sumsum tulang, kenaikan jumlah trombosit juga bisa disebabkan oleh adanya penyakit lain. Akibatnya, tubuh akan bereaksi terhadap penyakit tersebut dengan cara menghasilkan trombosit yang lebih banyak. Trombositosis jenis ini disebut sebagai trombositosis sekunder.

Lantas, apa saja penyakit atau kondisi medis yang bisa memicu trombositosis sekunder?

  • Perdarahan.
  • Infeksi.
  • Beberapa jenis kanker termasuk leukemia.
  • Defisiensi zat besi.
  • Peradangan usus.
  • Hemolisis. 

Baca Juga: Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Selain itu, seseorang yang pernah menjalani operasi pengangkatan limpa atau mengonsumsi obat-obatan, seperti epinephrine, vincristine, atau heparin sodium berisiko mengalami trombositosis sekunder.

Kenali Gejala Trombositosis

Trombositosis pada umumnya tidak menunjukkan gejala atau tanda yang khusus. Gejala dari trombositosis primer yang terjadi pada seseorang biasanya berhubungan dengan kondisi yang menyebabkan hal tersebut. Sementara itu pengidap trombositosis sekunder kemungkinan menunjukkan tanda dan gejala yang berhubungan dengan pembekuan darah dan perdarahan, seperti:

  • Sakit kepala.
  • Kepala terasa pusing.
  • Sakit di dada.
  • Merasakan kelemahan.
  • Mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki.

 

Cara Mendiagnosis Trombositosis

Terdapat beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosis kondisi ini. Tes darah yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis trombositosis meliputi:

  • Tes apus darah tepi (blood smear), yaitu untuk melihat ukuran dan aktivitas trombosit dalam darah.
  • Pemeriksaan kadar zat besi dalam darah. Pemeriksaan ini penting agar dapat diketahui penyebab trombositosis.
  • Tes penanda peradangan yang bertujuan untuk mencari penyebab trombositosis.
  • Tes genetik. Tes ini untuk melihat apakah ada mutasi pada gen JAK2 atau tidak.

Selain tes darah, aspirasi sumsum tulang juga bisa dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada jaringan sumsum tulang. Pemeriksaan jumlah trombosit penting dilakukan pada pengidap splenomegali atau pembesaran organ limpa. 

Baca Juga: Ketahui Komplikasi yang Disebabkan Trombositosis

Terapi Obat-obatan hingga Transplantasi Tulang

Pengobatan trombositosis bergantung pada jenis trombositosis yang diidap. Bila pengidap trombositosis tidak mengalami gejala dan kondisinya stabil, maka cukup melakukan pemeriksaan secara rutin.

Sedangkan pada pengidap trombositosis sekunder, pengobatan bertujuan untuk mengatasi kondisi yang menjadi penyebab trombositosis. 

Nah, berikut ini cara yang bisa dilakukan untuk mengobati trombositosis:

  • Obat Penurun Jumlah Trombosit

Pengidap trombositosis biasanya diberikan obat-obatan, seperti hydroxyurea yang bermanfaat untuk menekan produksi sel darah pada sumsum tulang, anagrelide, serta interferon alfa yang biasanya diberikan melalui suntikan. Obat-obatan ini perlu dikonsumsi saat terjadi komplikasi pembekuan darah atau perdarahan.

  • Aspirin

Pemberian obat ini bertujuan agar trombosit menjadi tidak terlalu lengket dan mengganggu pembekuan darah. Namun, bagi pengidap yang mengalami perdarahan hebat, aspirin tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.

  • Plateletpheresis

Prosedur ini bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah trombosit dalam darah secara cepat. Plateletpheresis biasanya dilakukan dalam kondisi darurat di mana pengidap sudah sampai mengalami serangan stroke atau pembekuan darah serius lainnya. Prosedur ini dilakukan dengan cara memisahkan trombosit dari aliran darah, kemudian dibuang.

  • Transplantasi Sumsum Tulang

Bila pengobatan di atas sudah tidak mempan untuk mengatasi gejala yang timbul akibat trombositosis, maka prosedur ini dapat dilakukan

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan?

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Thrombocytosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Disease and Conditions. Thrombocytosis
National Heart, Lung, and Blood Institute. Diakses pada 2021. Thrombocythemia and Thrombocytosis.