Ketahui Prosedur Diagnosis Hipogonadisme

Ketahui Prosedur Diagnosis Hipogonadisme

Halodoc, Jakarta - Dari banyaknya masalah yang bisa memengaruhi kehidupan seksual, hipogonadisme merupakan salah satu masalah yang mesti diwaspadai. Hipogonadisme ini merupakan kondisi ketika hormon seksual yang dihasilkan oleh kelenjar seksual berada di bawah jumlah normal.

Hormon seksual ini punya peran untuk mengatur karakteristik seksual sekunder. Contohnya, produksi sperma dan perkembangan testis pada pria. Sedangkan pada wanita, hormon ini berperan dalam pertumbuhan payudara dan siklus menstruasi.

Baca juga: Sindrom Klinefelter Sebabkan Hipogonadisme, Ini Alasannya

Nah, hipogonadisme ini sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu:

  • Hipogonadisme primer, yang terjadi akibat masalah pada kelenjar gonad. Kelenjar gonad sudah mendapatkan sinyal perintah dari otak untuk memproduksi hormon seks, tapi kelenjar tersebut tidak dapat memproduksinya.

  • Hipogonadisme sekunder, yang terjadi akibat masalah pada otak. Kesalahan terdapat pada hipotalamus dan kelenjar pituitary yang mengendalikan kerja kelenjar gonad.

Lalu, bagaimana sih prosedur untuk mendiagnosis hipogonadisme?

Gejala yang Berbeda pada Pria dan Wanita

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, pertama-tama tak ada salahnya untuk berkenalan dulu dengan gejala hipogonadisme. Nah, berikut gejala-gejala yang bisa muncul pada pengidapnya:

Pada pria:

  • Impotensi.

  • Kehilangan gairah seksual.

  • Kehilangan massa otot.

  • Kehilangan rambut di tubuh.

  • Kesulitan konsentrasi.

  • Mandul.

  • Osteoporosis.

  • Payudara membesar.

  • Pertumbuhan Mr. P dan testis terhambat.

  • Tubuh mudah lelah.

Pada wanita:

  • Badan terasa panas.

  • Kekurangan bulu-bulu pada tubuh.

  • Keluarnya cairan putih kental dari payudara.

  • Masa menstruasi berkurang atau tidak terjadi sama sekali.

  • Penurunan gairah seksual.

  • Pertumbuhan payudara berjalan lambat atau tidak tumbuh sama sekali.

  • Perubahan pada energi tubuh dan suasana hati.

Yang perlu digarisbawahi, mungkin saja masih terdapat beberapa gejala yang tak disebutkan di atas. Maka dari itu, diskusikanlah langsung ke dokter bila merasakan beberapa gejala di atas.

Baca juga: Kenali 2 Tipe dari Hipogonadisme

Awasi Penyebab Hipogonadisme

Penyebab hipogonadisme tak hanya menyoal satu-dua hal saja. Sebab, ada banyak hal yang bisa memicu masalah pada hormon seksual ini. Nah, berikut penjelasannya:

Penyebab dari hipogonadisme primer, di antaranya:

  • Hemokromatosis (terlalu banyak zat besi pada tubuh).

  • Infeksi berat.

  • Kelainan genetik, seperti sindrom Turner dan Klinefelter.

  • Operasi pada organ seksual.

  • Penyakit autoimun, seperti hipoparatiroidisme.

  • Penyakit hati dan ginjal.

  • Radiasi.

  • Testis yang tidak turun.

Lain penyebab hipogonadisme, lain pula hipogonadisme sekunder. Nah, berikut penyebabnya:

  • Defisiensi nutrisi.

  • Gangguan kelenjar pituitari.

  • Infeksi, seperti HIV//AIDS.

  • Kecelakaan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus.

  • Kelainan genetik, seperti sindrom Kallmann, di mana hipotalamus tidak berkembang secara normal.

  • Obesitas.

  • Operasi otak.

  • Penggunaan obat steroid dan opiat jangka panjang.

  • Penurunan berat badan yang cepat.

  • Penyakit peradangan, seperti tuberkulosis.

  • Radiasi.

  • Terdapat tumor dekat kelenjar pituitari.

Prosedur Diagnosis Hipogonadisme

Dokter akan mendiagnosis hipogonadisme dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan hormon juga akan dilakukan.

Tes hormon ini bertujuan untuk mengukur kadar hormon estrogen pada wanita dan hormon testosteron pada pria. Tes ini akan dilakukan pada pagi hari ketika kadar kedua hormon tersebut sedang meningkat.

Nah, berikut beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis hipogonadisme

  • Pemeriksaan sperma pada pengidap pria.

  • Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hormon LH dan FSH.

  • Pemeriksaan kadar zat besi.

  • Pemeriksaan kadar hormon prolaktin.

  • Pemeriksaan hormon tiroid.

  • Pemeriksaan genetik.

  • USG untuk mengetahui gangguan pada indung telur, seperti kista ovarium.

  • CT scan atau MRI untuk memeriksa kemungkinan tumor pada kelenjar hipofisis.

Memiliki masalah pada kehidupan seksual? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!