Kenali 2 Tipe dari Hipogonadisme

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Kenali 2 Tipe dari Hipogonadisme

Halodoc, Jakarta - Namanya mungkin masih asing, hipogonadisme merupakan suatu kondisi ketika gonad (kelenjar seks) tubuh memproduksi sangat sedikit atau sama sekali tidak menghasilkan hormon. Pada pria kelenjar ini terletak pada testis, sedangkan pada wanita terletak pada ovarium.

Hormon seks membantu mengendalikan pertumbuhan maskulin dan feminin, misalnya perkembangan payudara pada wanita, perkembangan testis pada pria, dan pertumbuhan rambut kemaluan. Di samping itu, hormon ini juga berperan penting dalam siklus menstruasi dan produksi sperma. Hipogonadisme bisa mulai selama perkembangan janin, sebelum pubertas, atau selama masa dewasa.

Pada pria, gejala hipogonadisme dapat berupa:

  • Alat kelamin abnormal. Termasuk alat kelamin yang kurang berkembang atau alat kelamin yang ambigu.

  • Berkurangnya massa otot.

  • Gangguan pertumbuhan bulu tubuh.

  • Gangguan pertumbuhan Mr P dan testis.

  • Pertumbuhan berlebihan pada lengan dan kaki yang berhubungan dengan batang tubuh.

  • Perkembangan jaringan payudara (ginekomastia).

  • Disfungsi ereksi.

  • Kemandulan.

  • Kehilangan massa tulang (osteoporosis).

  • Kelelahan.

  • Berkurangnya gairah seksual.

  • Kesulitan berkonsentrasi.

  • Merasa panas

Baca juga: Hipogonadisme Dapat Sebabkan Kemandulan, Benarkah?

Sementara itu, jika terjadi pada wanita, gejala hipogonadisme dapat muncul berupa:

  • Berhenti menstruasi.

  • Gairah seksual berkurang.

  • Pertumbuhan payudara berkurang.

  • Mengeluarkan cairan seperti susu dari payudara (dari prolaktinoma).

  • Merasa panas.

  • Perubahan energi dan suasana hati.

Terbagi Menjadi 2 Tipe

Ada dua tipe atau jenis hipogonadisme, yaitu:

1. Hipogonadisme Primer

Jenis hipogonadisme ini berasal dari gangguan pada kelenjar (testis atau ovarium). Gonad masih bisa menerima sinyal dari otak tapi tidak mampu menghasilkan hormon.

2. Hipogonadisme Sekunder

Jenis hipogonadisme ini mengindikasikan gangguan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari (bagian otak yang mengontrol produksi gonad) tapi tidak bekerja dengan benar.

Kedua jenis hipogonadisme mungkin disebabkan oleh kondisi bawaan (kongenital) atau sesuatu yang terjadi nantinya (acquired/didapat), misalnya cedera atau infeksi. Hipogonadisme primer dan sekunder kadang-kadang dapat muncul secara bersamaan.

Penyebab umum hipogonadisme primer meliputi:

  • Kelainan autoimun tertentu macam penyakit Addison dan hipoparatiroidisme.

  • Kelainan genetik dan perkembangan macam sindrom Turner (pada wanita) dan sindrom Klinefelter (pada pria).

  • Infeksi.

  • Penyakit hati dan ginjal.

  • Radiasi.

  • Operasi.

  • Kelebihan zat besi (hemokromatosis)

Baca juga: Waspada, Ini 9 Gejala Hipogonadisme pada Wanita

Sementara itu, penyebab umum hipogonadisme sekunder termasuk:

  • Anorexia nervosa.

  • Pendarahan di area pituitari.

  • Minum obat seperti glucocorticoid dan opiates.

  • Menghentikan penggunaan anabolic steroid.

  • Gangguan genetik termasuk sindrom Kallmann.

  • Infeksi.

  • Kekurangan gizi.

  • Radiasi.

  • Kehilangan berat badan dengan sangat cepat dan drastis (termasuk kehilangan berat badan setelah operasi bariatric.

  • Operasi.

  • Trauma.

  • Tumor.

  • HIV/AIDS.

Pilihan Pengobatan untuk Pengidap Hipogonadisme

Pengidap hipogonadisme mungkin perlu menggunakan obat yang berdasarkan hormon. Estrogen dan progesteron berguna untuk anak perempuan dan wanita. Obat-obatan bisa berbentuk pil atau skin patch. Testosteron berguna untuk anak laki-laki dan pria. Obat dapat diberikan sebagai skin patch, gel kulit, larutan yang dioleskan ke ketiak, patch yang dipasang di gusi atas, atau melalui suntikan.

Bagi wanita yang rahimnya belum diangkat, perawatan kombinasi dengan estrogen dan progesteron mungkin mengurangi peluang berkembangnya kanker endometrium. Wanita dengan hipogonadisme yang gairah seksualnya menurun mungkin juga diresepkan testosteron dosis rendah.

Pada beberapa wanita, suntikan atau pil mungkin berguna untuk merangsang pembuahan. Suntikan hormon pituitari mungkin berguna untuk membantu pria menghasilkan sperma. Orang lain mungkin memerlukan operasi dan terapi radiasi.

Baca juga: Jangan Ditahan, Libido Bisa Pengaruhi Kesehatan Reproduksi

Itulah sedikit penjelasan tentang hipogonadisme. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Talk to a Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!