• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Resesi Seks, Penyebab Angka Kelahiran Merosot di Cina
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Resesi Seks, Penyebab Angka Kelahiran Merosot di Cina

Ketahui Resesi Seks, Penyebab Angka Kelahiran Merosot di Cina

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 19 Agustus 2022

“Fenomena resesi seks sedang marak di Cina, sehingga membuat angka kelahiran menurun drastis. Resesi seks mengacu pada menurunnya keinginan untuk berhubungan seksual, menikah, dan memiliki anak.”

Ketahui Resesi Seks, Penyebab Angka Kelahiran Merosot di CinaKetahui Resesi Seks, Penyebab Angka Kelahiran Merosot di Cina

Halodoc, Jakarta – Pandemi COVID-19 belum selesai, Cina dilaporkan sedang mengalami ‘resesi seks’ yang cukup mengkhawatirkan. Istilah tersebut merujuk pada kondisi di mana banyak pasangan mengalami penurunan gairah untuk berhubungan seks, menikah, dan memiliki anak.

Akibatnya, tingkat kelahiran di Cina menurun ke level terendah sejak tahun 1960-an. Bahkan, dikatakan angka kelahiran di Cina pada tahun 2020 merupakan yang terendah dalam 43 tahun terakhir. 

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab resesi seks di Cina? Simak ulasan selengkapnya di sini.

Penyebab Resesi Seks di Cina

Tingkat kelahiran di Cina anjlok menjadi 8,52 kelahiran per seribu orang pada tahun 2020. Pemerintah Cina mencatat bahwa laju pertumbuhan alami penduduk hanya menyumbang 1,45 per seribu, yang merupakan terendah dalam 43 tahun terakhir. 

Nah, para ahli demografi mengungkapkan bahwa fenomena ini disebabkan oleh rendahnya jumlah wanita yang ingin berhubungan seks, menikah, dan memiliki anak. Berikut adalah beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab resesi seks, antara lain:

1. Ketidaksiapan Finansial

Berdasarkan survei, salah alasan wanita di Cina tidak mau menikah adalah karena mereka tidak bisa membiayai pernikahan, dan tidak mau menanggung beban ekonomi akibat memiliki anak. 

Apalagi selama masa pandemi COVID-19 ini, Cina telah menerapkan kebijakan “Zero COVID” tanpa kompromi, demi mengatasi serangan penyakit tersebut. Hal itu membuat banyak warga di Cina kehilangan pendapatan.

2. Menurunnya Tingkat Pernikahan

Selain masalah finansial, sepertiga responden survei juga mengungkapkan bahwa mereka tidak percaya pada pernikahan. Bahkan, presentase yang sama mengatakan bahwa mereka tidak pernah jatuh cinta.

Mungkin itulah mengapa jumlah pasangan yang menikah di Cina dalam tiga kuartal pertama menurun sebanyak 17,5 persen. 

Pada bulan Oktober lalu, Liga Pemuda Komunis Tiongkok mengeluarkan publikasi yang menyatakan, bahwa hampir setengah atau 50 persen wanita muda yang tinggal di daerah perkotaan negara tersebut tidak mau menikah. 

3. Tingginya Tuntutan Pekerjaan

Alasan lain yang juga berpengaruh besar terhadap resesi seks di Cina adalah adanya budaya kerja 9-9-6. Artinya, pegawai dituntut bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, selama enam hari dalam seminggu. 

Budaya kerja tersebut paling terlihat di perusahaan-perusahaan digital yang besar. Para pekerja di sana merasa tidak bebas untuk memulai sebuah keluarga. Kelelahan dan stres akibat jam kerja yang panjang juga bisa menurunkan gairah seksual.

4. Pandemi COVID-19

Pandemi juga memiliki pengaruh terhadap keinginan wanita untuk memiliki anak. Sebuah laporan terpisah dari PBB Cina mengatakan, bahwa pandemi juga membuat para wanita di Cina memiliki kekhawatiran yang tidak berdasar mengenai vaksin COVID yang bisa memengaruhi janin. Ditambah lagi dengan kesulitan menjalani kehamilan atau merawat bayi, karena aturan pembatasan yang ketat selama pandemi.

Akibatnya, pasangan yang berencana memiliki anak di tahun depan menunda rencana tersebut. Sedangkan pasangan yang masih ragu untuk memiliki anak, sudah menundanya tanpa batas waktu.

Upaya Pemerintah Mengatasi Resesi Seks

Belakangan pemerintah Cina melakukan beberapa upaya untuk mengatasi fenomena resesi seks di negara tersebut. Selain mengizinkan pasangan untuk memiliki tiga anak, Cina akan mencegah aborsi dan mengambil langkah-langkah untuk membuat perawatan kesuburan lebih mudah diakses.

Selain itu, pemerintah Cina juga mengeluarkan kebijakan seperti subsidi, keringanan pajak, asuransi kesehatan yang lebih baik, dukungan pendidikan, perumahan,  hingga pekerjaan untuk keluarga muda. 

Semua negara bagian juga harus memastikan mereka menyediakan layanan pengasuhan anak yang memadai. Terutama untuk anak-anak berusia dua hingga tiga tahun. 

Faktanya, kota-kota kaya di Cina telah membagikan pajak dan pinjaman perumahan, tunjangan pendidikan, dan insentif keuangan untuk mendorong wanita memiliki lebih banyak anak.

Menyangkut budaya kerja 9-9-6, pengadilan Cina sudah mulai mengambil tindakan terhadap perusahaan semacam itu. Majelis hakim mengingatkan perusahaan untuk menghormati hak dan kewajiban karyawan yang bekerja di tempat mereka.

Nah, itulah beberapa penyebab fenomena resesi seks di Cina. Bila kamu mengalami penurunan gairah seksual yang tidak jelas penyebabnya, sebaiknya coba periksakan kesehatanmu dengan buat janji medis di rumah sakit pilihan kamu melalui aplikasi Halodoc

Dengan begitu, penyebabnya bisa diketahui dan diatasi segera. Yuk, download Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

Referensi
News Beezer. Diakses pada 2022. China Is Hitting A Sex Recession, How Is It Happening?.
News Deliver. Diakses pada 2022. After COVID-19, China Now Faces a Sex Recession.
Reuters. Diakses pada 2022. China to discourage abortions to boost low birth rate.
Reuters. Diakses pada 2022. Analysis: More Chinese women delay or give up on having babies after zero-COVID ordeal