• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Awas, Komplikasi yang Diakibatkan Fistula Trakea Esofagus

Awas, Komplikasi yang Diakibatkan Fistula Trakea Esofagus

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Fistula trakea esofagus terjadi ketika esofagus dan trakea saling terhubung. Kerongkongan adalah tabung yang menghubungkan tenggorokan ke perut. Trakea adalah tabung yang menghubungkan tenggorokan ke tenggorokan dan paru-paru. 

Biasanya, kerongkongan dan trakea adalah dua tabung yang tidak terhubung, ketika itu terhubung biasanya disebabkan oleh cacat lahir. Kondisi ini sering terjadi pada bayi selama kehamilan. Bayi dengan kondisi demikian dapat menyebabkan cairan masuk ke paru-paru bayi dan pneumonia. 

Penyebab Fistula Trakea Esofagus

Saat bayi tumbuh selama kehamilan, sistem organnya juga terbangun. Trakea dan kerongkongan mulai terbentuk sebagai satu tabung. Pada 4 hingga 8 minggu kehamilan, dinding terbentuk antara kerongkongan dan trakea. Ini memisahkannya menjadi dua tabung. Fistula trakea esofagus terjadi ketika dinding tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Baca juga: Gejala Fistula Trakea Esofagus pada Bayi

Siapa yang berisiko mengalami fistula trakea esofagus? Bayi yang mengalami Trisomi 13, 18, ataupun 21, punya masalah saluran pencernaan lainnya, seperti diafragma hernia, atresia duodenum, ataupun anus imperforate. 

Memiliki gangguan jantung, seperti defek septum ventrikel, tetralogi Fallot, ataupun paten ductus arteriosus. Punya masalah ginjal dan saluran kemih, misalnya tapal kuda atau ginjal polikistik, tidak adanya ginjal, ataupun hipospadia, Masalah otot atau tulang, sindrom VACTERL, yang melibatkan masalah tulang belakang, anal, jantung, ginjal, dan ekstremitas.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai risiko fistula trakea esofagus, obrolkan saja di Halodoc untuk informasi lebih lengkapnya. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih kapan dan di mana saja mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Dokter dapat menemukan gejala fistula trakea esofagus segera setelah bayi lahir. Gejala dapat terjadi sedikit berbeda pada setiap anak. Ini dapat mencakup:

  1. Berbusa, gelembung putih di mulut.

  2. Batuk atau tersedak saat menyusu.

  3. Muntah.

  4. Warna biru kulit, terutama saat bayi menyusu.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kondisi ini dapat menyebabkan cairan dapat melewati hubungan antara kerongkongan dan trakea. Cairan jadi masuk ke paru-paru bayi dan memicu pneumonia dan masalah lainnya. Selain komplikasi ini, ada juga bentuk komplikasi lainnya, seperti bayi yang tidak bisa mencerna susu atau cairan lainnya.

Kesulitan bernapas, perut menjadi penuh, serta kemungkinan bayi mendapatkan cacat lahir lainnya adalah beberapa komplikasi lain. Perawatan untuk kondisi fistula trakea esofagus tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan umum anak serta seberapa parah kondisinya. 

Terkadang anak-anak dengan fistula trakea esofagus membutuhkan lebih dari satu operasi. Ini tergantung pada seberapa dekat kedua tabung tersebut. Tim ahli bedah dan kesehatan bayi akan memutuskan kapan bayi harus menjalani operasi.

Baca juga: Awas, Fistula Ani Bisa Sebabkan Komplikasi

Anak-anak yang menjalani operasi untuk fistula trakea esofagus dapat mengembangkan jaringan parut. Ini bisa membuat anak kesulitan menelan. Anak mungkin memerlukan operasi lain untuk membuka jaringan parut.

Kesulitan lainnya bisa jadi pada pergerakan makanan dan cairan turun ke kerongkongan (peristaltik). Bekas luka dapat memblokir perjalanan makanan. Beberapa anak mungkin perlu tes khusus untuk memperlebar kerongkongan. 

Dokter bedah anak akan membuka kerongkongan, sehingga makanan bisa masuk ke perut. Sekitar setengah dari anak-anak yang menjalani operasi untuk fistula trakea esofagus akan mengalami penyakit gastrointestinal reflux (GERD). 

GERD menyebabkan asam bergerak naik ke kerongkongan dari lambung. Ini menyebabkan perasaan terbakar atau menyakitkan yang disebut mulas. GERD sering dapat dikelola dengan obat-obatan. 

Referensi:

Stanford Children’s Health. Diakses pada 2019. Tracheoesophageal fistula.
Northwestern Medicine. Diakses pada 2019. Causes and Diagnoses of Tracheoesophageal Fistula and Esophageal Atresia.