Konsumsi Alkohol saat Hamil Picu Kriptorkismus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Konsumsi Alkohol saat Hamil Picu Kriptorkismus

Halodoc, Jakarta – Saat hamil, ada sejumlah kebiasan yang sebaiknya dihindari, termasuk mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung alkohol. Pasalnya, kandungan alkohol bisa memengaruhi kondisi tubuh dan memicu berbagai gangguan kehamilan. Salah satu masalah yang bisa muncul akibat mengonsumsi alkohol saat hamil adalah kriptorkismus. Apa itu? 

Penyakit ini terjadi pada bayi laki-laki dan menyebabkan testis tidak turun ke dalam skrotum saat lahir. Testis tumbuh di dalam abdomen alias rongga perut saat janin berkembang selama di dalam kandungan. 

Normalnya, sekitar dua bulan sebelum kelahiran atau pada trimester ketiga kehamilan, testis sudah turun secara alami melalui saluran bernama inguinal canal lalu menempati skrotum. Namun, hal itu tidak terjadi pada bayi laki-laki yang mengalami kriptorkismus. 

Baca juga: Mitos atau Fakta, Kriptorkismus Akibatkan Infertilitas

Seorang bayi dinyatakan mengalami kondisi ini jika pada saat kelahiran, testis tetap berada di dalam rongga perut atau di saluran inguinal canal. Ini berarti testis tidak berkembang dan tidak berada di tempat seharusnya, yaitu skrotum. Kondisi ini paling sering menyerang bayi laki-laki yang lahir secara prematur. Namun, umumnya testis akan turun dan bisa menempati tempat seharusnya dalam 3–6 bulan setelah kelahiran. 

Dalam kasus yang sedikit, hanya sekitar 1 persen, testis bisa tetap berada di abdomen tanpa berpindah. Kalau itu yang terjadi, mungkin dibutuhkan tindakan operasi untuk membantu menempatkan testis ke skrotum. Kondisi ini tidak menimbulkan nyeri, tapi kriptorkismus bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit kanker testis. Selain kebiasaan mengonsumsi alkohol, merokok selama masa kehamilan juga bisa menjadi penyebab penyakit ini terjadi pada anak.

Kriptorkismus jarang menunjukkan gejala tertentu, dan biasanya baru terdeteksi setelah kelahiran bayi. Sayangnya, hingga kini masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab penyakit ini bisa menyerang. 

Selain kebiasaan konsumsi alkohol dan merokok saat hamil, ada beberapa faktor lain yang disebut bisa meningkatkan risiko kriptorkismus pada bayi, mulai dari kelahiran prematur, riwayat keluarga dengan penyakit yang sama, bayi lahir dengan berat badan rendah, serta gangguan pertumbuhan janin selama di kandungan.  

Baca juga: Bayi Lahir Prematur Berisiko Alami Gangguan Kesehatan Ini

Pengobatan Kriptorkismus

Kondisi ini bisa saja berubah dan testis akhirnya turun dengan sendirinya ke tempat seharusnya, biasanya terjadi saat bayi berusia 1–6 bulan. Namun, dibutuhkan tindakan medis jika hal ini tidak kunjung terjadi sampai usia anak lebih dari 6 bulan. 

Tindakan medis untuk mengatasi kriptorkismus bisa dilakukan pada saat bayi berusia 6–12 bulan dan bertujuan untuk memindahkan testis ke dalam skrotum. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah penyuntikan hormon chorionic gonadotropin (HCG) untuk merangsang proses turunnya testis, hingga menempati skrotum. Namun, cara ini jarang dijadikan pilihan, karena efektivitasnya cenderung rendah. 

Operasi menjadi jenis tindakan medis yang sering dipilih untuk mengatasi penyakit ini. Prosedur operasi yang dilakukan untuk mengatasi kriptorkismus adalah orkidopeksi yang dilakukan dengan cara memindahkan testis kedalam skrotum. 

Namun perlu diketahui, prosedur ini mungkin akan memiliki beberapa risiko, seperti perdarahan, infeksi, testis kembali ke naik, jaringan testis mengecil dan mati (atrofi testis), karena terjadi gangguan suplai darah, serta kerusakan pada saluran testis.

Baca juga: Ibu Hamil di Usia Tua, Bayinya Lebih Mudah Terserang Sindrom Klinefelter?

Cari tahu lebih lanjut seputar kriptorkismus dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Ibu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan bayi dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!