Korea Selatan Melarang Vape, Ini Dampaknya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
korea-selatan-melarang-vape-ini-dampaknya-untuk-kesehatan-halodoc

Halodoc, Jakarta - Pemerintah Korea Selatan melalui Park Neung-hoo Menteri Kesehatan Korea Selatan menghimbau keras warganya untuk tidak menggunakan vape. Himbauan ini diambil menyusul berita menggemparkan dari Amerika Serikat dimana terdapat 1.749 kasus penyakit saluran pernafasan yang diduga disebabkan oleh penggunaan vape dan 33 diantaranya berujung kematian.

Seirama dengan himbauan pemerintah, otoritas terkait juga membatasi pengiklanan vape agar tidak menjadi sorotan masyarakat. Sejumlah toserba dan pasar raya pun mulai menghentikan penjualan sebagian produk vape dan akan menghentikan semuanya jika investigasi pemerintah membuktikan bahwa produk ini berbahaya.

Baca juga: Lebih Bahaya Mana, Menghisap Vape atau Rokok Tembakau

Korea Selatan bukanlah negara pertama yang melarang penggunaan vape. Setidaknya sudah ada 10 negara yang lebih dulu melarang vape yaitu, Australia, Singapura, India, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Turki, Hongkong, Finlandia, Kanada, dan Argentina. Selain itu, Amerika Serikat pun sedang melakukan penelitian lebih lanjut terkait vape dan mempertimbangkan untuk melarangnya di akhir tahun ini.

Rokok listrik beraroma atau vape memang sedang digandrungi anak muda di dunia. Vape katanya tidak berbahaya dan kabarnya menjadi solusi bagi perokok untuk berhenti. Namun, nampaknya slogan tersebut hanya akal-akalan produsen untuk memasarkan barang jualannya. Karena berjalannya dengan waktu mulai diketahui berbagai kasus penyakit saluran pernapasan misterius terkait vape. Maka dari itu, walaupun katanya lebih sehat dari rokok biasa, kamu harus tahu risiko kesehatan yang disebabkan oleh vape.

  1. Menyebabkan Ketagihan

Tak jauh berbeda dengan rokok, vape juga membuat kamu ketagihan! Nikotin dalam cairan vape merangsang otak untuk melepaskan hormon dopamin dengan jumlah banyak yang menyebabkan efek kecanduan. Jika berhenti dari penyebab kecanduan, tubuh akan mengalami beberapa gejala seperti stress, sakit kepala, gelisah, dan sulit tidur.

  1. Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi hingga Jantung

Zat beracun nikotin selain membuat kecanduan juga bisa meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Ketika nikotin diserap melalui aliran darah akan memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin yang menyebabkan tekanan darah meningkat dan mengganggu kerja jantung.

Baca juga: Tanpa Nikotin, Vape Tetap Berbahaya?

  1. Meningkatkan Risiko Kerusakan Paru-Paru

Walaupun tidak terbuat dari tembakau seperti rokok biasa, vape masih memiliki kandungan nikotin yang berbahaya untuk Paru-paru. Nikotin dapat mengurangi kemampuan jaringan pelindung di paru dan meningkatkan resiko peradangan pada paru-paru.

Lebihnya lagi, di balik aroma menggoda yang dihasilkan oleh vape terdapat zat berbahaya yang seperti diasetil dan benzene. Beneze merupakan logam berat yang terdapat pada asap kendaraan. Sementara diasetil merupakan penyebab penyakit paru-paru langka bernama bronkiolitis obliterans yang merusak secara permanen saluran napas terkecil dari paru-paru.

  1. Meningkatkan Risiko Kanker

Vaping juga meningkatkan risiko terjadinya kanker karena mengandung formaldehida. Formaldehida timbul dari beberapa kandungan lainnya seperti propelin glikol dan gliserol yang dipanaskan. Kandungan formaldehida ini bersifat karsinogenik yang jika dihirup dalam jangka waktu lama dapat memicu munculnya sel-sel kanker seperti kanker paru-paru.

Baca juga: Bergaya tapi Berbahaya, Vape bisa Sebabkan Chemical Pneumonia

Jika kamu mengalami masalah kesehatan dan butuh saran dari dokter. Yuk, gunakan apliasi Halodoc dan hubungi dokter spesialis pilihan kamu. Enggak usah khawatir, karena dokter di Halodoc stand by 24 jam. Yuk, unduh aplikasinya di Apps Store atau Google Play sekarang!

Referensi
WebMD. Diakses pada 2019. Is Vaping Bad For You?