Kram Otot saat Olahraga, Awas Gejala Sindrom Kompartemen

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Kram Otot saat Olahraga, Awas Gejala Sindrom Kompartemen

Halodoc, Jakarta – Pernah dengar sindrom kompartemen? Sindrom kompartemen terjadi ketika meningkatnya tekanan dalam kompartemen otot yang disebabkan oleh pembengkakan atau perdarahan setelah bagian tubuh alami cedera. Kondisi ini bisa menyerang beberapa bagian tubuh, seperti tangan, lengan, bokong, tungkai, dan kaki.

Baca juga: Sebelum Terjadi, Ketahui Mencegah Sindrom Kompartemen

Kondisi ini perlu diatasi karena mengakibatkan komplikasi kesehatan, seperti iskemia dan kematian jaringan. Tidak ada salahnya untuk ketahui penyebab dan gejala yang dialami oleh pengidap sindrom kompartemen.

Gejala yang Dialami Pengidap Sindrom Kompartemen

Sebelum mengetahui gejala yang muncul pada pengidap sindrom kompartemen, ketahui beberapa jenis dari sindrom kompartemen. Sindrom kompartemen dibagi menjadi dua jenis, sindrom kompartemen akut dan sindrom kompartemen kronis. 

Lalu, apa perbedaan di antara keduanya? Sindrom kompartemen akut terjadi secara mendadak akibat cedera yang dialami. Sedangkan sindrom kompartemen kronis dapat terjadi akibat olahraga yang melibatkan gerakan berulang dan bisa berhenti setelah olahraga dihentikan.

Gejala yang dialami tentunya berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan tingkat keparahan yang terjadi. Ada beberapa gejala umum yang dirasakan oleh pengidap sindrom kompartemen, seperti nyeri yang cukup hebat ketika menggerakan bagian otot yang alami sindrom kompartemen, pembengkakan pada bagian otot, kesemutan, kram otot saat pengidap melakukan olahraga, warna kulit menjadi lebih pucat di beberapa bagian tubuh. 

Jangan ragu untuk segera kunjungi rumah sakit terdekat ketika kamu mengalami cedera hebat seperti patah tulang khususnya jika disertai gejala sindrom kompartemen yang dialami. Penanganan lebih dini memberikan peluang untuk pulih lebih besar.

Baca juga: Apakah Crush Injury Berbahaya?

Lakukan Ini untuk Mengatasi Sindrom Kompartemen

Sebelum memastikan sindrom kompartemen, ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter. Pemeriksaan fisik bagian tubuh yang mengalami cedera akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter. Selain itu, dokter juga bertanya mengenai riwayat cedera yang pernah dialami oleh pasien.

Selain itu, tes pengukuran tekanan dilakukan untuk memastikan tingkat tekanan pada kompartemen. Jika diperlukan, pemeriksaan lain seperti MRI, rontgen, CT Scan, dan tes darah dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan pasien. 

Tindakan operasi menjadi tindakan yang paling sering dilakukan untuk mengatasi masalah sindrom kompartemen akut. Operasi fasciotomy dilakukan untuk mengurangi tekanan dan mengangkat sel otot yang telah mati. Sedangkan bagi sindrom kompartemen kronis dapat diatasi dengan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid dan melakukan fisioterapi untuk meregangkan otot.

Sindrom kompartemen akut yang tidak diatasi dengan baik dapat mengakibatkan komplikasi, seperti infeksi, jaringan parut pada otot, kerusakan saraf permanen, amputasi hingga kematian.

Baca juga: 5 Cedera yang Butuh Perawatan Fisioterapi

Inilah Pencegahan Sindrom Kompartemen

Sebaiknya lakukan beberapa cara ini ketika kamu alami cedera untuk cegah sindrom kompartemen, yaitu:

  1. Kompres luka dengan es yang dibalut kain lembut untuk menekan pembengkakan;

  2. Tidak memaksa tubuh terus berolahraga ketika merasa lelah;

  3. Gunakan gips atau pembidaian setelah mengalami cedera;

  4. Istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera.

Jangan ragu untuk tanyakan pada dokter mengenai kesehatan jika kamu baru saja mengalami cedera melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, gejalanya bisa mereda dan penanganan bisa dilakukan dengan tepat.

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome

NHS. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome

Web MD. Diakses pada 2019. Compartment Syndrome