Krisis Air Bersih di NTT, Ini Bahayanya Jika Terminum

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
krisis-air-bersih-di-ntt-ini-bahayanya-jika-terminum-halodoc

Halodoc, Jakarta- Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang dilanda krisis air bersih akibat kemarau panjang. Berdasarkan penuturan warga, krisis air ini sudah berlangsung selama tiga bulan terhitung sejak agustus 2019. Hal ini menyebabkan warga terpaksa mengambil air yang tidak bersih dan tidak layak minum dari tengah hutan. Air yang tidak bersih tentu rentan untuk tercemar berbagai kuman, senyawa kimia berbahaya, dan kotoran. 

Meskipun air sangat dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsinya, mengonsumsi air yang tak layak minum sama dengan mengundang penyakit masuk ke dalam tubuh. Jangan anggap sepele, ketahui bahaya yang dapat muncul akibat air yang tidak layak, di sini!

Baca juga: Sering Jajan di Pinggir Jalan Bisa Kena Tipes?

Apa Ciri Air yang Tercemar? 

Air yang tercemar dan tidak layak minum tentu memiliki ciri yang berbeda dengan air bersih yang layak minum. Berikut ini adalah beberapa ciri yang menunjukan air tercemar, antara lain: 

  • Airnya berwarna keruh

Air seharusnya bening dan tidak berwarna, jika warnanya keruh, maka air tersebut tercemar dan tidak layak minum. Keruhnya warna air menunjukan bahwa air tercemar sejumlah partikel mikroba, kotoran, dan mungkin disertai zat kimia lain yang berbahaya.

  • Air berbau dan memiliki rasa aneh

Air yang layak minum, tentu tidak memiliki bau. Jika tercium aroma menyengat, dan ketika diminum terasa aneh, bisa dipastikan bahwa air tersebut tercemar. Aroma menyengat dan munculnya rasa yang aneh pada air tidak layak minum terjadi akibat reaksi dari mineral yang terkontaminasi dengan bakteri, kuman atau senyawa kimia tertentu. 

Risiko Penyakit dari Air Tercemar

Air yang tercemar tentu meningkatkan risiko tubuh terserang berbagai penyakit. Berikut ini adalah penyakit yang dapat timbul akibat air yang tercemar, antara lain: 

  • Diare

Diare adalah kondisi ketika pengidapnya melakukan buang air besar (BAB) dengan intensitas yang tinggi dari biasanya. Diare adalah gejala awal dari reaksi perut yang berlawanan dengan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

  • Tifus

Tifus (tipes) atau demam tifoid adalah penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang menyebar melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Konsumsi air yang tidak layak minum sangat meningkatkan risiko penyakit tifus. 

  • Kolera

Kolera adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholera yang menyerang usus kecil. Penyakit ini sangat berbahaya karena menular dan membuat usus mengeluarkan cairan mineral dan garam dalam jumlah yang banyak. Akibatnya, pengidap kolera bisa mengalami dehidrasi dan berbagai dampak fatal lainnya. Untuk itu, konsumsi air harus berhati-hati karena bisa saja bakteri penyebab kolera hinggap di air tersebut. Selain air yang kurang bersih, kolera juga dapat menular melalui makanan. 

Baca juga: Kolera Dapat Menular Melalui Makanan, Ini Penjelasannya

  • Filariasis (kaki gajah)

Filariasis atau kaki gajah sangat rentan terjadi pada daerah yang banyak memiliki sumber air kotor. Hal ini disebabkan oleh nyamuk penyebab kaki gajah gemar untuk berkembangbiak dalam air tersebut. Selain kaki gajah, demam berdarah, chikungunya, dan malaria juga dapat ditularkan melalui nyamuk yang berkembang biak di air kotor. 

  • Cacingan

Cacingan disebabkan oleh masuknya telur cacing ke dalam tubuh kita. Air yang tercemar dapat menjadi media penyebaran telur cacing tersebut. Telur cacing yang menetas di dalam tubuh, akan memakan sumber gizi tubuh. Akibatnya, penurunan badan yang drastis disertai perut buncit akan terjadi. Umumnya, cacingan banyak menimpa anak-anak dan dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan.

Baca juga: 4 Penyebab Cacingan Alias Ascariasis pada Anak

Konsumsi atau penggunaan air yang tercemar tentu harus dihindari. Air yang tercemar memiliki berbagai risiko penyakit akibat kontaminasi bakteri, kuman, dan senyawa kimia berbahaya. Jika kamu tiba-tiba merasakan mual, muntah, dan buang air besar yang sering setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, kamu dapat bertanya kepada dokter di Halodoc. Penanganan yang cepat dan tepat tentu akan mengurangi risiko berbagai gejala dan komplikasi yang lebih buruk. 

Referensi: 
Who.int. Diakses pada 2019. Water-related diseases
Vestergaard.com. Diakses pada 2019. Waterborne Diseases