• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lansia Rentan Mengidap Neutropenia, Ini Alasannya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lansia Rentan Mengidap Neutropenia, Ini Alasannya

Lansia Rentan Mengidap Neutropenia, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 02 September 2021
Lansia Rentan Mengidap Neutropenia, Ini Alasannya

“Faktor usia yang terus bertambah dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami penyakit, terlebih jika sudah memasuki masa lansia. Salah satu penyakit yang dapat terjadi adalah neutropenia. Masalah ini perlu segera ditangani karena dapat menimbulkan infeksi pada tubuh.”

Halodoc, Jakarta – Lansia adalah usia yang rentan untuk terserang berbagai macam penyakit. Ada banyak penyakit yang rentan terjadi, termasuk juga neutropenia, yang merupakan gangguan pada sel darah putih. Pengidap penyakit ini rentan untuk mengalami infeksi yang biasanya terjadi di mulut atau kulit. Lalu, apa alasannya lansia rentan untuk mengalami neutropenia? Untuk mengetahui jawabannya, baca ulasan berikut ini!

Alasan Lansia Rentan Terserang Neutropenia

Neutropenia adalah suatu kondisi di mana tidak ada cukup neutrofil yang merupakan jenis sel darah putih. Faktanya, neutropenia bukan penyakit melainkan kondisi di mana tidak ada cukup neutrofil di dalam tubuh. Sel darah putih membantu melawan infeksi, sehingga orang dengan neutropenia rentan terhadap infeksi.

Pengidap neutropenia bisa mendapatkannya secara akut, artinya tiba-tiba muncul (dan biasanya hilang dengan cepat), kronis, yaitu sudah ada sejak lama bahkan siklik yang berarti datang dan pergi. Jika dibiarkan, gangguan ini mengarah pada peningkatan risiko infeksi bakteri serius. Neutropenia didiagnosis dengan tes darah. Perawatan kondisi ini tergantung pada penyebab dan seberapa parahnya.

Baca juga: Kenali Penyebab Seseorang Idap Neutropenia

Neutropenia sendiri terbilang jarang menimbulkan gejala saat terjadi. Pada beberapa kasus, seseorang baru menyadari jika terserang masalah terkait neutrofil ini saat menjalani tes darah untuk alasan yang tidak terkait. Masalah ini paling sering terjadi sebagai akibat dari kemoterapi yang digunakan untuk mengatasi kanker. Meski begitu, gejala yang berhubungan dengan infeksi atau penyebab dasar neutropenia dapat dialami.

Kekhawatiran yang paling serius saat alami neutropenia adalah tertular infeksi.

Gangguan infeksi dapat dengan mudah menyebar ke seluruh tubuh karena jumlah neutrofil yang kekurangan guna mengendalikannya. Bagian yang paling rentan untuk terserang infeksi adalah selaput lendir, seperti bagian dalam mulut dan kulit. Infeksi ini juga dapat muncul sebagai bisul, abses, ruam, dan luka yang butuh waktu lama untuk sembuh.

Orang yang memiliki neutropenia memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi serius. Hal ini karena mereka tidak memiliki cukup neutrofil untuk membunuh organisme yang menyebabkan infeksi. Orang dengan neutropenia yang parah atau tahan lama kemungkinan besar akan mengalami infeksi. Maka dari itu, pastikan untuk mendapatkan diagnosis segera saat dipastikan mengidap gangguan ini.

Benarkah Neutropenia Rentan Terjadi pada Lansia?

Lansia kerap rentan mengalami kondisi neutropenia karena sistem imunitas tubuhnya yang melemah seiring dengan pertambahan usia. Mekanisme dan sistem tubuh para lansia yang juga mengalami penurunan, membuat tubuh susah mempertahankan vitalitasnya.

Selain itu, lansia juga rentan untuk alami neutropenia akibat efek samping dari pengobatan kanker. Hal ini disebabkan oleh efek mielosupresif dari kemoterapi yang mengalami penundaan dan pengurangan dosis yang akhirnya membahayakan hasil pengobatan.

Maka dari itu, jika orangtua kamu rutin melakukan kemoterapi, ada baiknya juga melakukan pemeriksaan darah terkait neutropenia.

Bagian penting dari perawatan neutropenia adalah menghilangkan efek samping yang dapat timbul. Metode ini disebut juga perawatan paliatif atau perawatan suportif. Bicarakan dengan tim perawatan kesehatan mengenai gejala apapun yang dirasakan orangtua kamu, termasuk segala perubahan gejala.

Selain itu, waktu penurunan kadar neutrofil didasarkan pada jenis atau dosis kemoterapi. Jumlah neutrofil umumnya mulai turun sekitar satu minggu setelah setiap putaran kemoterapi dimulai. Tingkat neutrofil mencapai titik rendah sekitar 7 hingga 14 hari setelah perawatan. Penting juga untuk berdiskusi dengan dokter terkait dampak buruk dari penanganan kanker dengan kemoterapi ini.

Baca juga: Perlu Tahu, Inilah 4 Jenis Neutropenia

Penurunan ini disebut nadir. Pada titik ini, kemungkinan besar pengidapnya yang melakukan perawatan akan mengalami infeksi. Setelah itu, hitungan neutrofil mulai naik lagi kembali. Hal ini karena sumsum tulang memulai kembali memproduksi neutrofil secara normal. Namun, mungkin perlu 3 hingga 4 minggu untuk mencapai tingkat normal lagi.

Ketika tingkat neutrofil kembali normal dan neutropenia sudah terdeteksi, mungkin dokter akan melakukan beberapa pertimbangan, seperti menunda kemoterapi atau menurunkan dosis yang diberikan. Hal ini juga dapat dilakukan saat level neutrofil tidak kembali normal dengan cukup cepat.

Dokter dapat merekomendasikan antibiotik selama periode neutropenia yang lebih lama untuk mencoba mencegah infeksi. Jika kemoterapi menyebabkan neutropenia karena demam, dokter mungkin akan memberimu obat yang disebut faktor pertumbuhan sel darah putih. Obat-obatan ini membantu tubuh membuat lebih banyak sel darah putih.

Baca juga: Jalani Kemotrapi Bisa Sebabkan Neutropenia, Ini Sebabnya

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai neutropenia serta gejala dan penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Talk to a Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:
Clin J Oncol Nurs. Diakses pada 2021. Managing Neutropenia in Older Patients With Cancer Receiving Chemotherapy in a Community Setting.
Web MD. Diakses pada 2021. Neutropenia.