Mata Merah dan Sensitif Terhadap Cahaya, Waspada Episkleritis

 episkleritis

Halodoc, Jakarta - Awal mula terjadinya episkleritis adalah saat terdapat peradangan pada jaringan di antara sklera dan konjungtiva. Bermula dari pembuluh darah kecil lalu menjalar hingga ke permukaan mata. Belum diketahui apa yang jadi pemicu atau penyebab episkleritis (idiopatik). Namun, banyak pengidap kondisi ini yang juga mengidap penyakit peradangan lainnya, contohnya adalah lupus, rheumatoid arthritis, dan penyakit Crohn.

Episkleritis ditandai dengan gejala kemerahan yang sering kali muncul pada satu mata, dan terkadang juga bisa terjadi pada kedua mata. Terdapat dua tipe episkleritis yang dapat terjadi, yaitu episkleritis sederhana dan episkleritis nodular, dengan tampilan yang sedikit berbeda.

Pada episkleritis sederhana, biasanya terdapat kemerahan pada sebagian dan terkadang seluruh mata, dengan ketidaknyamanan yang minimal. Sedangkan pada episkleritis nodular, terdapat benjolan yang sedikit meninggi dan dikelilingi oleh pembuluh darah, biasanya pada salah satu bagian tertentu dari mata, yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan.

Baca juga: Seputar Kelainan Ektropion pada Kelopak Mata

Meskipun episkleritis sederhana dan episkleritis nodular bisa tampak sedikit berbeda, banyak tanda dan gejala yang cukup serupa, yaitu:

  • Produksi air mata berlebih.

  • Sensitivitas terhadap cahaya terang.

  • Sensasi seperti terbakar, nyeri, atau mengganjal pada mata.

Tanda dan gejala tersebut biasanya tidak memengaruhi daya lihat. Di samping itu, biasanya tanda dan gejala dapat mereda setelah beberapa minggu. Setelah itu, episkleritis bisa pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan obat, apalagi jika gejala yang dialami pengidap termasuk ringan. Untuk mempercepat pemulihan, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan pengidap secara mandiri. Di antaranya yaitu:

  • Menggunakan kompres dingin pada mata saat mata tertutup.

  • Memakai obat tetes mata berisi air mata buatan.

  • Mengenakan kacamata saat berada di luar untuk melindungi mata dari cahaya terang.

Baca juga: Cara Sederhana Tingkatkan Kemampuan Mata

Namun, bila episkleritis terasa mengganggu, obat tetes mata atau salep mata bisa digunakan untuk meredakan rasa tidak nyaman. Episkleritis akan pulih dalam waktu 7-10 hari, walau dalam kasus episkleritis nodular, dibutuhkan waktu lebih lama. Apabila episkleritis belum juga pulih dalam jangka waktu tersebut atau bahkan semakin memburuk, dokter perlu menyelidiki lebih lanjut tentang kemungkinan terjadinya skleritis (peradangan jaringan sklera) pada pengidap.

Hal yang perlu diwaspadai bahwa episkleritis bisa saja muncul kembali dalam waktu beberapa bulan setelah sembuh. Jika kondisi ini kambuh, dokter bisa memeriksa kemungkinan adanya penyakit peradangan yang menyertai episkleritis. Episkleritis tidak akan menimbulkan akibat serius dalam jangka panjang, kecuali jika terkait penyakit peradangan lain.

Untuk memvalidasi gangguan ini, perlu dilakukan diagnosis episkleritis. Diperlukan pemeriksaan fisik pengidap, terutama pemeriksaan mata yang diawali dengan melihat kondisi warna mata pengidap yang dapat berubah menjadi merah atau biru keunguan.

Baca juga: 5 Cara Atasi Mata Lelah Karena Astenopia

Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan menggunakan alat yang dinamakan lampu celah (slit lamp). Sebelum penggunaan lampu celah, dokter biasanya memberi tetes mata pada pengidap untuk melebarkan pupil mata, sehingga kondisi abnormal pada mata bisa terlihat lebih jelas.

Itulah yang perlu kamu ketahui mengenai gangguan mata episkleritis. Supaya tidak salah mengambil tindakan penanganan, sebaiknya kamu perlu mengkomunikasikan gangguan mata kamu pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.