• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Membela Idola Berlebihan, Waspada Celebrity Worship Syndrome
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Membela Idola Berlebihan, Waspada Celebrity Worship Syndrome

Membela Idola Berlebihan, Waspada Celebrity Worship Syndrome

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 20 Mei 2022

“Mengidolakan selebriti sebenarnya lumrah saja dan termasuk sebagai bagian dari fase pembentukan identitas pada usia remaja. Namun, ketika seorang penggemar telah menunjukkan gejala Celebrity Worship Syndrome, maka ia dapat dianggap memiliki gangguan mental.”

Membela Idola Berlebihan, Waspada Celebrity Worship Syndrome

Halodoc, Jakarta – Baru-baru ini platform media sosial Twitter diramaikan dengan sebuah  perseteruan antara akun bernama Safa dan seorang fans boyband K-Pop. Kegaduhan ini berawal dari pernyataan akun Safa yang dinilai menghina salah satu anggota boyband tersebut.

Akibat pernyataannya yang dinilai menghina, Safa akhirnya dibuatkan forum Space di Twitter bertajuk “Safa Space” oleh para penggemar lain untuk mendiskusikan persoalan tersebut. Bahkan, perseteruan tersebut juga menjadi trending topik di platform media sosial berikon burung tersebut.

Hingar bingar Korean Pop (K-pop) memang telah menjadi fenomena yang mendunia dan memberikan dampak pada perilaku dan psikologi pendengarnya. Terkadang, obsesi fans yang berlebihan pada idola justru dapat memberikan dampak psikologis yang tak sehat, salah satunya adalah celebrity worship syndrome. Namun, kira-kira apa yang dimaksud dengan istilah celebrity worship syndrome? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Apa Itu Celebrity Worship Syndrome?

Dilansir dari Psychology Today, istilah celebrity worship syndrome (CWS) digambarkan sebagai kelainan mental berupa obsesi-adiktif seseorang terhadap kehidupan personal selebriti.

Dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendapat perhatian atau spotlight di mata publik dapat menjadi objek obsesi. Misalnya seperti jurnalis, politisi, hingga penulis yang sering muncul dan dikenal banyak orang. Namun, menurut para ahli, sosok-sosok yang berasal dari film, industri musik pop, atau televisi lebih memungkinkan untuk menjadi objek obsesi tersebut.

Di kalangan peneliti akademis, istilah CWS diciptakan pertama kali oleh Lynn McCutcheon dan rekan penelitiannya pada awal tahun 2000-an silam. Namun, secara umum istilah tersebut diyakini pertama kali dipakai dalam sebuah artikel media luar negeri. Artikel tersebut melaporkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh John Maltby dan rekan-rekannya di Journal of Nervous and Mental Disease. Penelitian tersebut berjudul “A Clinical Interpretation of Attitudes and Behaviors Associated with Celebrity Worship.” CWS sebenarnya adalah singkatan dari Celebrity Worship Scale yang digunakan dalam penelitian ini.

Jenis-Jenis CWS yang Perlu Diketahui

Terdapat tiga jenis Celebrity Worship Syndrome yang perlu diketahui, antara lain:

1. Hiburan Sosial. Merupakan tingkat terendah dari CWS di mana pengidapnya merasa senang mengikuti selebriti favorit mereka dan membicarakannya dengan teman-temannya.

2. Intense Personal. Tingkat menengah dari pemujaan selebriti, jenis CWS ini ditandai dengan perasaan yang intens dan obsesif tentang selebriti. Misalnya seperti memercayai bahwa bintang pop tertentu adalah belahan jiwa mereka.

3. Borderline Pathological. Tingkat tertinggi dari CWS, di mana pengidapnya memiliki pemikiran dan fantasi ekstrem tentang selebriti. Para peneliti menemukan bahwa tingkatan borderline pathological pada CWS dikaitkan dengan beberapa sifat negatif. Misalnya seperti impulsif, egosentris, hingga antisosial.

Apakah Celebrity Worship Syndrome Berbahaya?

Menurut tim peneliti dari Newport Academy, mengidolakan selebriti sebenarnya lumrah saja dan termasuk sebagai bagian dari fase pembentukan identitas pada usia remaja. Namun, ketika seorang penggemar telah menunjukkan gejala CWS, ia dapat dianggap memiliki gangguan mental.

Sebab, banyaknya durasi dan konsentrasi yang diberikan seseorang dalam membentuk hubungan imajiner dengan idolanya, dapat menyebabkan pengurangan waktu interaksi dan hubungan sosial dengan orang lain di dunia nyata. Dalam hal ini, CWS pada akhirnya akan menyebabkan pengidapnya seperti terjebak dalam sebuah realitas yang semu.

Selain itu, Newport Academy juga menyebutkan bahwa CWS dapat menimbulkan beberapa gejala. Misalnya seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan keterampilan sosial, kurangnya penerimaan diri, hingga penurunan kemampuan kognitif. Lebih parahnya lagi, CWS juga dikabarkan dapat menyebabkan seseorang kesulitan dalam membangun hubungan romantis dengan orang lain.

Itulah penjelasan mengenai celebrity worship syndrome yang kerap terjadi di kalangan anak muda. Sebenarnya kondisi tersebut lumrah dan menjadi bagian dari fase pembentukan identitas. Namun, jika sudah sampai tahap menimbulkan obsesi, hal ini tentu perlu diwaspadai.

Jika saat ini kamu mengidolakan selebriti tertentu dan merasakan beberapa gejala CWS, sebaiknya segeralah memeriksakan diri ke psikolog. Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit dengan psikolog untuk memeriksakan dirimu. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang!

Referensi: 

Psychology Today. Diakses pada 2022. Celebrity Worship Syndrome.
Newport Academy. Diakses pada 2022. The Connection Between Celebrity Worship Syndrome and Teen Mental Health. 
Journal of Nervous and Mental Disease. Diakses pada 2022. A Clinical interpretation of attitudes and behaviors associated with celebrity worship. 
Suara. Diakses pada 2022. Kronologi Perseteruan Safa Space dengan Sesama Fans Kpop sampai Jadi Trending Topic Twitter.