• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengapa Bayi Prematur Rentan Alami Atelektasis?

Mengapa Bayi Prematur Rentan Alami Atelektasis?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh ibu hamil ketika rutin memeriksakan kandungan selama menjalani kehamilan. Tidak hanya itu, sebaiknya saat menjalani masa kehamilan ibu disarankan banyak mengonsumsi makanan sehat dan memenuhi kebutuhan istirahat. Hal ini untuk menghindari kelahiran prematur dan bayi dapat dilahirkan sesuai dengan hari prediksi lahir bayi.

Baca juga: Benarkah Atelektasis Bisa Mengakibatkan Pneumonia?

Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi di usia kehamilan yang belum memasuki usia 37 minggu. Hal ini membahayakan, mengingat di minggu terakhir proses kehamilan merupakan masa penting dalam pembentukan tahap terakhir berbagai organ vital, seperti paru-paru dan jantung. Ada berbagai risiko gangguan kesehatan pada bayi prematur, salah satunya adalah atelektasis.

Alasan Bayi Prematur Rentan Alami Atelektasis

Dilansir dari Mayo Clinic, atelektasis merupakan salah satu gangguan pada paru-paru ketika alveoli tidak terisi oleh udara. Kondisi ini menyebabkan alveoli dalam paru-paru menjadi kempes dan terisi oleh cairan alveolar.

Atelektasis umumnya dialami sebagai komplikasi oleh orang dewasa yang baru saja menjalani operasi. Atelektasis juga dapat muncul pada orang dewasa yang memiliki masalah pernapasan, seperti fibrosis kistik, tumor paru, dan mengalami cedera pada dada.

Baca juga: Bukan Tanpa Sebab, Ini Cara Mencegah Atelektasis

Namun tidak hanya pada orang dewasa, atelektasis juga rentan dialami oleh bayi yang baru lahir. Dilansir dari Very Well Health, ada beberapa risiko yang meningkatkan bayi yang baru lahir mengalami atelektasis, seperti:

  • Kelahiran Prematur

Atelektasis menjadi salah satu komplikasi yang umum dialami oleh bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Hal ini disebabkan karena perkembangan paru-paru belum optimal sehingga bayi mengalami kekurangan surfaktan atau bahan kimia yang mencukupi untuk menjaga alveoli tetap terbuka. Selain atelektasis, kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan lainnya.

  • Meconium Aspiration

Umumnya, bayi yang baru dilahirkan akan mengeluarkan feses pertamanya yang dikenal sebagai meconium. Jika meconium tidak dikeluarkan atau tidak keluar dari tubuh bayi dikhawatirkan meconium dapat masuk ke saluran pernapasan dan menghalangi udara masuk ke dalam alveoli.

  • Pneumonia

Bayi dengan kondisi pneumonia juga rentan mengalami atelektasis. Pneumonia atau peradangan yang terjadi pada paru-paru bisa menyebabkan lendir pada paru-paru. Lendir ini dapat masuk menuju saluran pernapasan dan menyebabkan atelektasis.

  • Gangguan Pernapasan

Bayi yang memiliki gangguan pernapasan juga rentan mengalami atelektasis. Sebaiknya, jaga kesehatan ibu dan bayi dalam kandungan dengan rutin lakukan pemeriksaan pada dokter kandungan. Hal ini dilakukan agar gangguan kesehatan yang mungkin terjadi dapat diatasi dengan baik. Nah, kini membuat janji dengan dokter di rumah sakit sangat mudah, hanya melalui aplikasi Halodoc. Jadi, ibu bisa menghemat waktu tidak perlu mengantre di rumah sakit.

Gejala Atelektasis pada Bayi Prematur

Ada beberapa gejala yang mungkin akan dialami oleh bayi dengan kondisi atelektasis. Dilansir dari Very Well Health, gejala atelektasis akan terlihat pada bayi sesaat setelah dilahirkan atau beberapa jam setelah bayi dilahirkan.

Ada beberapa gejala yang akan dialami, seperti perubahan warna pada kulit dan bibir yang menjadi lebih kebiruan, terlihat adanya jeda pada napas bayi, frekuensi buang air kecil yang sangat sedikit, cuping hidung yang melebar pada saat bayi bernapas, napas yang menjadi lebih cepat, dan adanya gerakan yang tidak biasa pada saat bayi bernapas.

Baca juga: Waspadai Komplikasi yang Diakibatkan Atelektasis

Jika kondisi ini dicurigai sebagai atelektasis, ada beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan untuk memastikan kesehatan bayi, seperti X-ray dan pemeriksaan lainnya untuk memastikan penyebab bayi mengalami kesulitan bernapas.

Referensi:
Very Well Health. Diakses pada 2020. Atelectasis in Prematures Babies
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Atelectasis