• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengapa Hernia Bisa Terjadi pada Bayi?

Mengapa Hernia Bisa Terjadi pada Bayi?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Hernia terjadi ketika ada bagian dari organ atau jaringan tubuh terdorong melalui celah atau bagian lemah pada dinding otot. Dorongan ini bisa membuat organ atau jaringan tubuh tersebut keluar dan masuk ke bagian yang seharusnya bukan tempatnya, sehingga muncullah tonjolan atau benjolan pada area yang terdorong ini. Seringnya, hernia terjadi pada orang dewasa, tetapi ternyata penyakit ini juga bisa menyerang bayi. 

Jenis hernia yang sering terjadi pada bayi adalah hernia inguinalis. Jenis ini sendiri terbagi lagi menjadi dua, hernia lateralis dan hernia medialis. Apabila kantong hernia jenis inguinalis literalis mencapai area buah zakar pada bayi laki-laki, ini disebut dengan hernia skrotalis. Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan bayi mengalami hernia? Adakah cara mengobatinya? 

Penyebab Hernia pada Bayi

Sebenarnya, kasus hernia inguinalis terjadi sejak bayi berkembang di dalam rahim, dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki. Ketika masih berkembang, testis pertama kali akan tumbuh pada bagian perutnya. Selanjutnya, testis berkembang dan berjalan melalui lorong menuju ke skrotum, di mana lorong ini juga terdapat pada organ reproduksi bayi perempuan. Terkadang, bagian lorong ini tidak menutup dengan sempurna, sehingga meninggalkan celah dari bagian perut ke kanal inguinal. 

Baca juga: Kondisi yang Meningkatkan Risiko Hernia

Sementara itu, hernia umbilikalis bisa terjadi selama kehamilan. Ketika ibu sedang mengandung, tali pusar terhubung ke otot perut bayi melalui lubang kecil. Seharusnya, lubang ini menutup setelah bayi lahir. Namun, jika tidak, celah yang tersisa ini yang disebut hernia umbilikalis. Apabila cairan dan usus masuk melalui celah ini, perut bayi mengalami pembengkakan. 

Hernia inguinalis lebih berisiko terjadi pada anak laki-laki dengan riwayat kelainan yang sama pada anggota keluarganya, dan memiliki masalah kesehatan pada organ reproduksi dan saluran kencing. Pada kasus hernia umbilikalis, kondisi ini sering terjadi pada bayi yang dilahirkan secara prematur. 

Baca juga: Cari Tahu 4 Gejala Hernia Berdasarkan Jenisnya

Lalu, Pengobatan Apa yang Bisa Dilakukan?

Hernia umbilikalis biasanya bisa sembuh tanpa memerlukan penanganan seiring dengan bertambahnya usia bayi hingga ia menginjak 1 atau 2 tahun. Namun, jika hernia ini tidak membaik hingga usia anak beranjak 4 tahun, ini waktunya ibu memeriksakan kondisi anak ke dokter. Agar anak bisa segera mendapatkan penanganan, gunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat. Jadi, tidak perlu lagi mengantre kalau sedang berobat. 

Berbeda dengan hernia umbilikalis, hernia jenis inguinalis membutuhkan penanganan dengan segera. Penanganan biasanya dilakukan dengan cara pembedahan untuk mengembalikan bagian yang terdorong ke luar kembali ke tempat semula, sekaligus memperkuat bagian lemah dari dinding abdomen. Pembedahan akan dilakukan apabila muncul gejala serius pada hernia inguinalis yang mengarah pada komplikasi jika tidak segera dilakukan penanganan. 

Obstruksi menjadi salah satu komplikasi yang rentan terjadi pada kondisi hernia inguinalis yang tidak mendapatkan pengobatan. Obstruksi adalah terjepitnya usus pada bagian saluran inguinalis, yang mengakibatkan mual, sakit perut, muntah, dan rasa sakit pada benjolan yang muncul pada area selangkangan. 

Baca juga: Kenali Perbedaan Hernia pada Wanita dan Pria

Jadi, penting untuk ibu mengenali apa tanda khas dari hernia yang dialami sang buah hati. Biasanya, tonjolan yang menandakan hernia akan semakin jelas terlihat ketika bayi menangis, batuk, atau mengejan kala buang air besar dan akan mengecil ketika bayi berada dalam kondisi relaks. 

Referensi: 
WebMD. Diakses pada 2020. What are Umbilical Hernias?
Healthy Children. Diakses pada 2020. Inguinal Hernia in Infants & Children.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Inguinal and Umbilical Hernias in Children.