21 June 2018

Mengenal Miom pada Rahim dan Bahayanya

miom pada rahim, mioma pada rahim, miom di rahim

Halodoc, Jakarta - Organ-organ kewanitaan seolah menjadi sesuatu yang misterius karena minimnya edukasi tentang organ reproduksi serta tabu yang menyelimutinya. Sehingga, tak sedikit wanita yang khawatir, bahkan panik ketika mendengar atau mengalami keluhan pada organ reproduksi. Termasuk ketika mendengar tentang miom pada rahim. Apa pengertian miom, dan berbahayakah bagi wanita?

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Miom & Kista

Miom atau mioma sendiri adalah tumor jinak yang tumbuh di sekitar rahim. Ia juga dikenal dengan istilah uterine fibroids. Miom muncul karena adanya pertumbuhan abnormal pada jaringan otot rahim. Miom rahim tidak terkait dengan peningkatan risiko kanker rahim, dan hampir tidak pernah berubah menjadi jaringan kanker.

Pola pertumbuhan miom rahim juga bervariasi. Ada yang tumbuh perlahan, cepat, ataupun berhenti bertumbuh di tahap tertentu. Bahkan beberapa miom juga bisa mengecil dan menghilang dengan sendirinya. Misalnya seperti miom yang muncul selama kehamilan. Biasanya, miom tersebut akan hilang setelah melahirkan seiring dengan ukuran uterus yang kembali normal.

Hormon Kewanitaan dan Kaitannya dengan Mioma Rahim

Sampai saat ini, penyebab pasti tumbuhnya miom pada rahim belum diketahui. Tetapi, beberapa riset menunjukkan kaitan antara pertumbuhan miom dan tingginya kandungan hormon estrogen dan progesteron pada tubuh wanita. Kedua hormon ini adalah hormon yang membekali perkembangan dinding rahim saat menstruasi dan menjelang kehamilan. Riset juga menunjukkan bahwa ukuran miom cenderung mengecil setelah masa menopause.

Siapa yang Berisiko Memiliki Miom Rahim?

Secara umum, wanita di usia reproduksi, yaitu usia setelah pubertas sampai sebelum menopause, berisiko memiliki miom rahim. Selain itu, ada pula faktor lain yang meningkatkan risiko seseorang memiliki mioma pada rahim, antara lain:

  • Keturunan. Jika ibu atau saudara perempuan kamu memiliki riwayat miom pada rahim, kamu juga berisiko memilikinya.
  • Penggunaan KB
  • Obesitas
  • Kekurangan vitamin D
  • Pola makan tinggi daging merah dan rendah sayuran hijau
  • Alkohol

Miom pada Rahim, Bahaya atau Tidak?

Miom rahim tersusun atas jaringan otot yang sama dengan otot rahim lainnya. Karena itu, miom pada rahim tidak bersifat kanker. Tetapi, pertumbuhannya abnormal dan teksturnya lebih padat dibanding otot rahim biasa.

Miom tumbuh dalam ukuran yang bervariasi. Pada ukuran kecil, mioma cenderung tidak berbahaya, dan bahkan tidak menimbulkan gejala apa pun. Jika ukurannya mulai membesar, pengidapnya baru akan merasakan gejala tertentu, berdasarkan letaknya.

Mengenal Gejala Miom Rahim

Wanita bisa memiliki satu atau beberapa miom sekaligus di dalam rahimnya. Umumnya, mioma uterus tidak menimbulkan masalah atau gejala tertentu. Bahkan banyak wanita yang memiliki mioma rahim, tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Meski begitu, mioma pada rahim juga bisa menimbulkan keluhan tertentu, tergantung pada ukuran, lokasi, dan seberapa dekat dengan organ panggul lainnya.

Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Miom & Ketahui Bahayanya

Jika kamu mengalami gejala-gejala di bawah ini, segera hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah.

  • Rasa nyeri pada yang tak kunjung hilang.
  • Menstruasi berlebihan dengan durasi yang lama, disertai dengan rasa nyeri.
  • Munculnya flek atau perdarahan di luar masa menstruasi.
  • Sering buang air kecil, namun kesulitan untuk mengosongkan kandung kemih.
  • Konstipasi atau sulit buang air besar.

Meski mendapati gejala di atas, kamu tak perlu panik dulu. Karena bisa jadi beberapa gejala di atas bukan berkaitan dengan miom. Misalnya, sering merasa ingin buang air kecil bisa juga menjadi tanda dari infeksi saluran kemih (ISK). Flek atau perdarahan juga bisa muncul pada wanita yang baru memasang KB IUD. Untuk memastikannya, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play dan tanyakan pada dokter ahli Halodoc, ya!