• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Stockholm Syndrome, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengenal Stockholm Syndrome, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Mengenal Stockholm Syndrome, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 30 November 2022

“Sindrom Stockholm merupakan kondisi ketika seseorang membangun ikatan yang positif dengan orang yang menculik atau melecehkannya. Penyebabnya masih belum diketahui, tapi pengidap sindrom ini bisa menunjukkan gejala, seperti merasa kasihan dengan pelaku, tidak mau meninggalkan pelaku meski ada kesempatan, dan lain-lain.”

Mengenal Stockholm Syndrome, Gejala, Penyebab, dan PengobatanMengenal Stockholm Syndrome, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Halodoc, Jakarta – Pernah bertemu dengan orang yang malah merasa kasihan dengan orang yang sudah melecehkan atau melakukan tindak kekerasan padanya? Bisa jadi orang tersebut mengidap Stockholm Syndrome.

Sindrom Stockholm sebenarnya adalah respons psikologis yang dimiliki oleh korban penculikan. Jadi, orang dengan sindrom langka ini membangun hubungan psikologis dengan penculiknya dan mulai berempati dengan mereka. 

Namun, selain situasi penculikan, Stockholm syndrome sekarang juga mencakup jenis trauma lainnya di mana ada ikatan antara pelaku dengan orang yang dilecehkan atau korban. Agar lebih jelas, simak penjelasan mengenai Stockholm Syndrome lebih jauh di sini. 

Apa Penyebab Stockholm Syndrome?

Stockholm syndrome merupakan respons psikologis di mana seseorang mengembangkan ikatan yang positif dengan penculiknya. Jadi, orang yang diculik atau mengalami pelecehan terkadang bisa memiliki perasaan simpati atau perasaan positif lainnya terhadap penculiknya. Hal ini tampaknya terjadi selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun penculikan dan kontak dekat dengan penculiknya.

Ikatan ini bisa bertumbuh antara korban dan penculiknya. Hal ini bisa mengarah pada perlakuan yang baik dan berkurangnya pelecehan dari pelaku, karena pelaku juga bisa mengembangkan ikatan positif dengan korbannya.

Para ahli masih belum mengetahui mengapa beberapa korban bisa mengembangkan sindrom Stockholm, sementara yang lainnya tidak. Namun, ada sebuah teori yang mengungkapkan bahwa ini adalah teknik yang dipelajari dan diturunkan dari nenek moyang. 

Di awal peradaban, selalu ada risiko ditangkap atau dibunuh oleh kelompok sosial lain. Nah, membangun ikatan dengan penculik bisa meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup.

Teori lain adalah bahwa situasi penculikan atau pelecehan bisa sangat emosional. Orang-orang yang menjadi korban menyesuaikan perasaan mereka dan mulai berbelas kasihan kepada pelaku ketika pelaku menunjukkan kebaikan dari waktu ke waktu. 

Selain itu, dengan bekerja bersama dan tidak melawan pelaku, korban bisa mengamankan keselamatan mereka. Ketika tidak dirugikan oleh pelakunya, korban mungkin akan merasa bersyukur dan bahkan menganggap pelakunya manusiawi.

Kenali Gejalanya

Orang dengan Stockholm syndrome bisa memiliki gejala-gejala berikut:

  • Merasakan kebaikan atau kasih sayang dari penculik atau pelakunya.
  • Memiliki perasaan atau pikiran yang positif terhadap orang atau kelompok yang menculik atau melecehkan mereka.
  • Mengadopsi tujuan, pandangan dan ideologi yang sama dengan para penculik atau pelaku kekerasan.
  • Merasa kasihan terhadap penculik atau pelaku.
  • Menolak untuk meninggalkan penculiknya, bahkan ketika diberi kesempatan untuk melarikan diri.
  • Memiliki persepsi negatif terhadap polisi, keluarga, teman, dan siapa pun yang mungkin mencoba membantu mereka melarikan diri dari situasi mereka.
  • Menolak untuk membantu polisi dan otoritas pemerintah dalam menuntut pelaku pelecehan atau penculikan.

Setelah dibebaskan, seseorang dengan sindrom Stockholm bisa terus memiliki perasaan positif terhadap penculiknya. Namun, mereka mungkin juga mengalami kilas balik, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Cara Mengatasi Stockholm Syndrome

Karena Stockholm syndrome adalah gangguan psikologis yang tidak dikenal dan tidak memiliki definisi standar, akibatnya tidak ada rekomendasi pengobatan untuk mengatasi hal tersebut. Namun, psikoterapi dan obat-obatan bisa membantu meredakan masalah yang terkait dengan pemulihan trauma, seperti depresi, kecemasan dan PTSD.

Psikolog dan konselor kesehatan mental berlisensi bisa membantu pengidap untuk mengembangkan strategi, atau alat yang digunakan saat mencoba memahami dan mengatasi peristiwa yang mereka alami. Tenaga profesional tersebut juga bisa meresepkan obat yang bisa membantu meringankan gejala gangguan suasana hati.

Bila kamu atau orang terdekat kamu yang menunjukkan gejala Stockholm syndrome setelah mengalami peristiwa pelecehan, sebaiknya segera temui atau hubungi psikolog atau psikiater terpercaya melalui aplikasi Halodoc.  Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Banner download aplikasi Halodoc
Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Stockholm Syndrome.
Medical News Today. Diakses pada 2022. What is Stockholm syndrome?