Mengidap Kolitis Ulseratif, Ini yang Terjadi pada Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
kolitis ulseratif

Halodoc, Jakarta - Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab gangguan kolitis ulseratif. Namun, kondisi ini diduga disebabkan oleh respons autoimun. Sementara itu, terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kolitis ulseratif dan keparahan gejalanya, yaitu faktor keturunan. Apabila ada anggota keluarga yang mengalami penyakit sama, risiko terjadinya penyakit ini pun akan meningkat.

Faktor usia juga mampu memengaruhi tingkat keparahan gejala. Semakin muda usia pengidap saat mengalami penyakit ini, maka tingkat keparahan gejala yang dialami juga akan semakin meningkat.

Gejalanya Bisa Berbeda-Beda

Orang yang mengalami kolitis ulseratif akan mengalami tanda yang berbeda. Perbedaan terjadi berdasarkan tingkat keparahan serta lokasi peradangan yang dialami oleh pengidap. Berikut merupakan beberapa gejala yang umumnya terjadi pada kolitis ulseratif:

  • Diare yang disertai darah, lendir, atau nanah.
  • Nyeri atau kram pada perut.
  • Sering mengalami ingin buang air besar, tapi tinja cenderung tidak dapat keluar.
  • Kelelahan.
  • Nyeri pada rektum.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam.

Baca juga: Radang Usus Bisa Sebabkan Kolitis Ulseratif dan Penyakit Crohn

Seiring berjalannya waktu, luka terjadi diakibatkan peradangan pada usus. Dinding usus kemudian kehilangan kemampuan untuk mengolah makanan, limbah, dan menyerap air, sehingga menyebabkan diare. Sementara itu, luka kecil berkembang di usus lalu menyebabkan sakit perut dan darah dalam tinja pengidap.

Perlu diwaspadai bahwa hal ini dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh, seperti mata, kulit, dan sendi. Mungkin ada saat-saat ketika gejala aktif dan saat-saat gejala menghilang. Pada orang yang mengalami kolitis ulseratif, beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah munculnya gejala, yaitu:

  • Membatasi asupan produk susu.
  • Membatasi asupan makanan dan minuman yang dapat menimbulkan keluhan, seperti makanan pedas, alkohol, dan kafein.
  • Mengonsumsi air yang cukup setiap harinya.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Mengurangi stres.

Baca juga: Hati-Hati dengan 4 Jenis Radang Usus Ini

Sayangnya, kondisi kolitis ulseratif ini tidak bisa sembuh total. Pengobatan yang dapat dilakukan hanya untuk meringankan gejala. Maka itu, biasanya seseorang rentan mengalami periode kambuh (peradangan memburuk), kemudian diikuti dengan periode remisi (resolusi peradangan) yang berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Selama relaps, gejala sakit perut, diare, dan pendarahan dubur akan semakin buruk. Sedangkan selama remisi, gejala akan mereda. Ramisi umumnya terjadi karena efek samping obat atau operasi.

Selain melakukan penanganan secara medis, ada baiknya pengidap juga mengubah gaya hidup untuk mencegah kekambuhan atau memburuknya gejala. Caranya adalah dengan beberapa langkah sederhana berikut:

  • Mengubah pola makan. Misalnya dengan mengonsumsi makanan rendah lemak, memperbanyak asupan cairan dan serat, mengonsumsi suplemen, membatasi konsumsi produk susu, serta menghindari minuman keras dan rokok. Jika perlu, kamu mencatat setiap makanan atau minuman apa saja yang mungkin bisa memperparah gejala, supaya dapat dihindari di kemudian hari.
  • Mengurangi Stres. Caranya adalah dengan berolahraga atau melakukan kegiatan relaksasi. Olahraga yang teratur dapat membantu pengidap untuk mempertahankan berat badan yang ideal.

Baca juga: Inilah Penyebab Peradangan pada Usus Besar

Itulah yang terjadi dan yang harus dilakukan apabila seseorang mengalami gangguan kolitis ulseratif. Ada baiknya kamu tidak mengabaikan gejala yang terjadi, dan segera komunikasian pada dokter melalui aplikasi Halodoc sebelum gangguan semakin parah. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.