• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengidap PPOK, Kapan Perlu Menemui Dokter Spesialis?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengidap PPOK, Kapan Perlu Menemui Dokter Spesialis?

Mengidap PPOK, Kapan Perlu Menemui Dokter Spesialis?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 16 November 2021
Mengidap PPOK, Kapan Perlu Menemui Dokter Spesialis?

“Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merujuk pada sekelompok penyakit yang menyebabkan penyumbatan aliran udara dan masalah terkait dengan pernapasan. Meskipun hingga kini tidak ada obat untuk PPOK, penanganan yang dilakukan mampu mencegah perkembangan gejala semakin parah.”

Halodoc, Jakarta – Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia. Setidaknya, terdapat 3,23 juta kematian pada tahun 2019 akibat penyakit tersebut. Banyaknya korban jiwa disebabkan oleh gejala yang sulit terdeteksi.

Umumnya, gejala baru akan muncul setelah pengidap mengalami Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) selama bertahun-tahun. Jika tidak segera ditangani, sejumlah gejala akan memburuk, dan menyebabkan pengidapnya kesulitan bernapas. Lantas, kapan perlu menemui dokter spesialis?

Perhatikan Gejalanya, dan Temui Dokter Spesialis Segera

Seperti pada ulasan sebelumnya, gejala PPOK seringkali tidak disadari. Biasanya, gejala baru akan muncul setelah organ paru-paru mengalami kerusakan yang signifikan, dan bertambah parah dari waktu ke waktu. Gejala lebih tampak terlihat pada seorang yang aktif merokok.

Gejalanya sendiri meliputi:

  • Sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas fisik.
  • Mengi atau napas berbunyi.
  • Rasa sesak pada dada.
  • Batuk kronis berlendir jernih, putih, kuning, atau kehijauan.
  • Sering mengalami infeksi saluran pernafasan.
  • Kekurangan energi saat melakukan aktivitas.
  • Penurunan berat badan yang tanpa sebab.
  • Pembengkakan di pergelangan kaki, kaki, atau tungkai.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kapan harus ke dokter? Sebenarnya, kamu disarankan untuk segera tanyakan pada dokter secara langsung di aplikasi Halodoc saat beberapa gejala seperti yang telah disebutkan muncul. Jangan menunggu gejala parah, karena penanganannya akan lebih sulit dilakukan.

Berikut ini beberapa gejala parah pengidap Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang harus mendapatkan penanganan gawat darurat medis segera:

  • Gejala tidak membaik dengan pengobatan yang dilakukan, atau justru bertambah parah.
  • Muncul gejala infeksi paru-paru, seperti demam atau perubahan warna dahak.
  • Kehilangan kemampuan untuk mengatur napas.
  • Warna bibir dan kuku mengalami perubahan warna menjadi kebiruan. Kondisi ini dikenal dengan sebutan sianosis.
  • Peningkatan detak jantung tanpa sebab.
  • Masalah pada penglihatan, seperti pandangan berkabut.
  • Kesulitan untuk berkonsentrasi.

Pengidap PPOK cenderung mengalami fase yang disebut dengan eksaserbasi. Pada fase tersebut, pengidap mengalami gejala yang lebih buruk dan dapat bertahan selama beberapa hari. Oleh karena itu, waspadai gejala yang muncul, dan lakukan langkah perawatan yang tepat.

Apa Langkah Penanganan yang Dilakukan Dokter?

Sebelum melakukan sejumlah langkah penanganan, kamu perlu mengetahui terlebih dulu jika kebiasaan merokok menjadi satu-satunya penyebab umum Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Jika kamu memiliki kebiasaan tersebut, sebaiknya hentikan sekarang juga, ya. 

Bukan hanya perokok aktif saja, para pengidap umumnya memiliki riwayat terkait dengan rokok, seperti pernah merokok atau perokok pasif. Diagnosis dan pengobatan dini, termasuk dukungan untuk berhenti merokok diperlukan untuk memperlambat perkembangan dan mengurangi intensitas kekambuhan gejala.

Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat mengatasi PPOK. Sejumlah langkah yang dilakukan bertujuan untuk memperlambat dan mengendalikan gejala yang sudah ada. Beberapa langkah tersebut, meliputi:

  • Berhenti merokok. Lakukan jika kamu adalah pengidap PPOK yang masih aktif merokok.
  • Inhaler dan tablet obat-obatan. Langkah ini bertujuan untuk membantu mempermudah pernapasan.
  • Rehabilitasi paru. Langkah ini adalah program khusus latihan dan pendidikan, agar pengidap dapat menjalani kehidupan sehari-hari.
  • Operasi atau transplantasi paru-paru. Langkah ini menjadi salah satu pilihan pengobatan untuk sebagian kecil pengidap dengan kondisi tertentu.

Sebagian besar penyebab PPOK dipicu oleh merokok. Dengan berhenti merokok, kamu sudah menurunkan risiko penyakit ini dalam persentase tinggi. Terkait dengan langkah penanganan yang cocok, dokter akan mendiskusikan berbagai pilihan pengobatan, dan menyesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. 

Yuk, segera download Halodoc untuk mendapatkan informasi terkait dengan penyakit yang tengah kamu alami. Kamu juga dapat melakukan sesi konsultasi dengan dokter spesialis secara langsung hanya dengan satu kali klik. Nah, tunggu apa lagi?

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2021. Kenali Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
CDC. Diakses pada 2021. Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. COPD.
WHO. Diakses pada 2021. Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).
NHS UK. Diakses pada 2021. Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).