Menstruasi Sering Tidak Teratur, Waspada Gejala Sindrom Sheehan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Menstruasi Sering Tidak Teratur, Waspada Gejala Sindrom Sheehan

Halodoc, Jakarta – Setiap wanita yang akan menjalankan persalinan pasti suasana hatinya bercampur aduk. Meski mengharapkan persalinan yang lancar, tetap ada risiko persalinan yang dapat terjadi. Salah satu risikonya adalah rusaknya kelenjar pituitari, yaitu organ kecil berada di bawah otak yang berfungsi menghasilkan hormon dan mengendalikan fungsi tubuh.

Baca Juga: Ketahui 3 Tahapan dalam Persalinan Normal

Seorang ibu mengalami perdarahan hebat atau anjloknya tekanan darah akibat rusaknya kelenjar pituitari. Kondisi ini disebut sindrom Sheehan. Gejala sindrom Sheehan awalnya tidak disadari karena kemunculannya perlahan selama beberapa bulan atau bertahun-tahun setelah melahirkan.

Penyebab Kelenjar Pituitari Rusak Selama Persalinan

Kekurangan oksigen yang mengalir pada kelenjar pituitari selama proses persalinan adalah penyebab utama sindrom Sheehan. Kurangnya oksigen disebabkan karena kehilangan darah yang berlebihan atau tekanan darah yang rendah saat persalinan, sehingga menghambat aliran oksigen ke hipofisis.

Tidak sedikit wanita yang tidak menyadari gejala-gejala sindrom Sheehan. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa gejala-gejala yang muncul adalah dampak terlalu sibuk mengurus Si Kecil. Gejala dapat mulai disadari ketika timbul gangguan pada fungsi tiroid atau kekurangan adrenal.

Menstruasi Abnormal Menandai Sindrom Sheehan

Amenore atau tidak menstruasi adalah dampak yang ditimbulkan dari sindrom Sheehan. Namun, bukan hanya menstruasi yang mengalami gangguan. Ada hal-hal lain yang menandai sindrom Sheehan yang bisa muncul setelah kelahiran maupun beberapa waktu setelah kelahiran:

  • Kesulitan menyusui atau tidak mampu untuk menyusui;

  • Rambut kemaluan berhenti tumbuh;

  • Fungsi mental melambat;

  • Penambahan berat badan;

  • Tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme);

  • Tekanan darah rendah (hipotensi);

  • Gula darah rendah (hipoglikemia);

  • Mudah kelelahan;

  • Detak jantung tidak teratur;

  • Penyusutan payudara.

Baca Juga: 4 Persiapan untuk Menyambut Persalinan

Kalau ibu mengalami salah satu gejala di atas, sebaiknya segera bicara dengan dokter Halodoc untuk memastikan kondisi yang ibu alami. Diskusi dengan dokter lebih praktis melalui Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc. Sekarang, bicara dengan dokter terasa lebih mudah dan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Pengobatan untuk Atasi Sindrom Sheehan

Sindrom Sheehan berisiko memengaruhi berbagai kondisi, seperti mengacaukan periode menstruasi, mengganggu fungsi tiroid sampai penambahan berat badan, maka pengobatan berfokus untuk mengendalikan hormon dan meningkatkan fungsi tiroid. Berikut obat-obatan yang berfungsi untuk mengendalikan gejala sindrom Sheehan, yaitu:

  • Kortikosteroid, seperti hidrokortison atau prednison bekerja untuk menggantikan hormon adrenal yang tidak diproduksi akibat kekurangan hormon adrenokortikotropik (ACTH).

  • Levothyroxine. Obat ini berfungsi meningkatkan kadar hormon tiroid akibat rendahnya produksi hormon perangsang tiroid (TSH).

  • Estrogen. Pemberian hormon estrogen sering diberikan pada wanita yang telah diangkat rahimnya (histerektomi). Sedangkan, wanita yang masih memiliki rahim biasanya diberikan kombinasi estrogen dan progesteron.

  • Growth hormon. Hormon ini diberikan untuk menggantikan hormon pertumbuhan pada pengidap sindrom Sheehan. Melalui hormon ini pengidap diharapkan bisa meningkatkan berat badan, mempertahankan massa tulang, dan meningkatkan kualitas hidup.

Baca Juga: Inilah 8 Tips Mengejan Saat Persalinan

Kalau ibu mengalami gangguan menstruasi, segera periksa ke dokter agar terdeteksi gangguan yang mendasarinya dan segera dapat dilakukan penanganan yang tepat. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Sheehan’s syndrome.
Healthline. Diakses pada 2019. Sheehan syndrome.