Mitos atau Fakta, Granuloma Annulare Bisa Sebabkan Kematian

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mitos atau Fakta, Granuloma Annulare Bisa Sebabkan Kematian

Halodoc, Jakarta – Jika muncul bintik merah berbentuk cincin pada kulit, biasanya terjadi pada lengan atau kaki, maka kondisi tersebut disebut granuloma annulare. Kondisi ini tidak menyebabkan gatal, sakit, atau luka lainnya. Namun, apakah benar granuloma annulare bisa menyebabkan kematian? Ketahui faktanya di sini.

Baca Juga: Kenali Lebih Dekat Granuloma Annulare

Mitos, Granuloma Annulare Tidak Bisa Sebabkan Kematian

Granuloma annulare tidak bisa menyebabkan kematian, meski sering terjadi akibat komplikasi berbagai penyakit, seperti diabetes mellitus, hiperlipidemia, limfoma, tumor padat, hingga HIV/AIDS. Gigitan serangga, infeksi penyakit (seperti hepatitis), tes kulit tuberkulosis, vaksinasi, dan paparan sinar UV matahari diduga meningkatkan risiko munculnya ruam granuloma annulare.

Perlu diketahui bahwa granuloma annulare jarang menimbulkan gejala. Namun, ruam yang muncul menimbulkan rasa gatal pada kulit. Pengidap granuloma annulare melihat benjolan padat (papula) kecil pada punggung, lengan bawah, tangan, atau kaki. Meski jarang terjadi, sebagian pengidap akan memiliki nodul padat di bawah kulit lengan atau kaki yang rentan menyebar ke seluruh tubuh. Segera periksakan diri ke rumah sakit pilihan ketika gejalanya bertambah parah, caranya mudah tinggal bikin janji online lewat Halodoc, ya. 

Bentuk umum granuloma annulare disebut lokalisata, ruam ini berbentuk setengah lingkaran atau benjolan dengan batas melingkar. Paling sering muncul di tangan, kaki, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki. Bentuk yang paling jarang disebut generalisata. Ruam ini cenderung gatal dan sering muncul di lengan dan tungkai. Pada anak-anak, granuloma annulare ditandai dengan ruam kecil di bawa kulit (tidak sampai membuat ruam) yang muncul di tangan, dahi, dan kulit kepala.

Baca Juga: Granuloma Inguinale Bisa Sebabkan Kematian, Benarkah?

Cara Diagnosis dan Pengobatan Granuloma Annulare

Dokter melakukan tes gesekan kulit dan uji KOH untuk membedakan infeksi yang disebabkan granuloma annulare atau infeksi jamur lain. Bila perlu, dilakukan biopsi kulit untuk memastikan diagnosis granuloma annulare. Setelah diagnosis ditetapkan, berikut pilihan pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi granuloma annulare:

  • Krim kortikosteroid atau salep bisa digunakan untuk memperbaiki penampilan lesi pada kulit dan mempercepat hilangnya lesi tersebut. Bila perlu, pengidap dianjurkan untuk menutup lesi dengan perban atau plester setelah dioleskan krim. Selain untuk mencegah infeksi bakteri pada luka terbuka, penggunaan plester atau perban bisa meningkatkan efektivitas krim yang dioleskan ke kulit.

  • Suntikan kortikosteroid, digunakan jika lesi kulit lebih tebal dengan gejala yang cukup parah. Kortikosteroid disuntikkan ke dalam lesi untuk membantu menghilangkannya dengan lebih cepat.

  • Pembekuan lesi, dengan memberikan nitrogen cair pada area lesi. Hal ini untuk merangsang pertumbuhan kulit baru, sehingga menghilangkan lesi yang telah terbentuk.

  • Terapi cahaya, yaitu prosedur yang menggunakan panjang gelombang cahaya buatan dan ultraviolet untuk mengatasi berbagai permasalahan kulit. Di antaranya adalah psoriasis, eksem, vitiligo, pigmentasi, dan granuloma annulare.

  • Obat oral, diresepkan untuk mencegah reaksi sistem kekebalan tubuh pada pengidap rheumatoid arthritis atau yang telah menerima transplantasi organ.

Baca Juga: Waspada 2 Komplikasi yang Menyebabkan Granuloma Annulare

Itulah fakta seputar granuloma annulare yang perlu diketahui. Kalau kamu punya keluhan mirip gejala granuloma annulare, jangan ragu berbicara dengan dokter ahli, ya!