• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Kucing Dapat Pengaruhi Kesehatan Mental Anak

Mitos atau Fakta Kucing Dapat Pengaruhi Kesehatan Mental Anak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Penelitian dari Bassett Research Institute menunjukkan anak-anak dengan hewan peliharaan cenderung lebih ceria dan bisa mengontrol emosi ketimbang anak-anak tanpa hewan peliharaan. Lantas, bagaimana dengan kucing? Menurut Psychology Today, disebutkan anak-anak dengan kucing hampir tiga kali lebih mungkin didiagnosis dengan masalah kesehatan mental dibandingkan anak-anak tanpa kucing. Informasi selengkapnya mengenai kucing dapat pengaruhi kesehatan mental anak bisa dibaca di sini!

Kucing dan Kesehatan Mental Anak

Anak-anak pemilik kucing memiliki masalah perhatian yang jauh lebih besar, bahkan setelah para peneliti secara statistik mengontrol faktor-faktor seperti ekonomi, usia, dan depresi orangtua. Tidak seperti anjing, tidak ada bukti bahwa memiliki kucing dikaitkan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah.

Baca juga: Memelihara Hewan, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Mental

Namun, mengapa hidup dengan kucing harus dikaitkan dengan masalah kesehatan mental pada anak kecil? Pertama, ada kemungkinan bahwa sesuatu tentang kucing menghasilkan lebih banyak masalah psikologis pada anak-anak. Namun, tidak jelas mekanisme apa dari efek seperti itu. 

Peneliti dari Bassett Institute mengungkapkan kemungkinan yang menarik bahwa masalah perhatian pada anak-anak dengan kucing dapat disebabkan oleh Toxoplasmosis gondii, organisme parasit kecil yang dapat menyerang sel-sel mamalia, termasuk kucing dan manusia. 

Beberapa penelitian melaporkan bahwa infeksi Tox merupakan faktor risiko masalah kesehatan mental, termasuk gangguan perhatian. Namun, hasil ini kontroversial, dan peneliti lain belum menemukan hubungan antara Tox dan masalah kejiwaan manusia.

Kedua, faktor-faktor yang tidak terkait dengan kucing itu sendiri bisa menjadi akar masalahnya. Sebagai contoh, sebuah penelitian baru-baru ini di jurnal Anthrozoos melaporkan bahwa dibandingkan dengan pemilik anjing, orang dewasa yang memiliki kucing memiliki skor yang lebih rendah pada ukuran emosi dan kesadaran positif dan lebih tinggi pada skala yang mengukur emosi negatif dan neurotisme. 

Meskipun belum tentu pasti, secara teori mungkin saja tipe orang dewasa yang memilih untuk tinggal dengan kucing juga lebih cenderung memiliki anak dengan masalah psikologis. Temuan ini bisa jadi hanya kebetulan secara statistik. Dalam penelitian apa pun yang melibatkan sampel orang, ada kemungkinan bahwa beberapa hasil yang "signifikan secara statistik" disebabkan oleh kebetulan yang acak. 

Baca juga: Anjing Mengalami Separation Anxiety, Ini Cara Mengatasinya

Nah, berbeda dengan hasil temuan ini, menurut Dr. Francesca Solmi, dari Divisi Psikiatri di University College London (UCL) di Inggris Raya menegaskan sebagai hewan peliharaan kucing dapat bermanfaat bagi kesehatan mental seperti membantu mengurangi kecemasan dan stres, serta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

Awalnya, para peneliti menemukan hubungan kecil antara kepemilikan kucing di masa kanak-kanak dan gejala psikotik pada usia 13 tahun. Namun, asosiasi ini menghilang saat tim memperhitungkan faktor lain.

Hewan Peliharaan Motivator buat Manusia

Hewan merupakan motivator yang baik bagi manusia. Hewan peliharaan juga dapat memberikan efek menenangkan pada pemiliknya. Hanya dengan membelai, duduk di samping atau bermain dengan hewan peliharaan dapat memberikan kesempatan untuk bersantai dan menenangkan pikiran mereka.

Berjalan-jalan dengan hewan peliharaan sering kali mengarah ke percakapan dengan pemilik peliharaan lainnya. Orang yang memiliki lebih banyak hubungan sosial dan pertemanan cenderung lebih sehat secara mental.

Baca juga: Ini Alasan Kucing Peliharaan Tidak Mau BAB di Litter Box

Seekor hewan peliharaan adalah teman yang baik terutama buat anak dengan ADHD. Anak-anak dengan ADHD yang berinteraksi dengan hewan peliharaan dapat membantu mengembangkan emosional dan tanggung jawabnya. Demikian pula anak dengan autis.

Masalah sensorik umum terjadi pada anak autis. Aktivitas integrasi sensorik dirancang untuk membantu mereka terbiasa dengan perasaan sesuatu pada kulit mereka atau bagaimana baunya atau suaranya. 

Punya pertanyaan seputar kesehatan mental? Tanyakan saja langsung melalui Halodoc. Butuh buat janji ketemu dokter? Pakai Halodoc saja! Tanpa perlu repot antri, kamu hanya perlu datang pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

Referensi:

Psychology Today. Diakses pada 2021. Do Children with Cats Have More Mental Health Problems?
Medical News Today. Diakses pada 2021. Cats do not harm children's mental health, study finds.
Mental Health.org.uk. Diakses pada 2021. Pets and mental health.