Mitos atau Fakta Masalah pada Otak Sebabkan Paraplegia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
mitos-atau-fakta-masalah-pada-otak-sebabkan-paraplegia

Halodoc, Jakarta - Gangguan paraplegia, atau yang juga dikenal dengan kelumpuhan parsial, merupakan bentuk kelumpuhan yang fungsinya secara substansial terhambat dari pinggang ke bawah. Kebanyakan orang dengan paraplegia memiliki kaki yang sehat sempurna. Namun, masalahnya ada di otak atau sumsum tulang belakang yang tidak dapat mengirim atau menerima sinyal ke tubuh bagian bawah karena cedera atau penyakit. 

Seperti kelumpuhan lainnya, paraplegia secara substansial berbeda dari satu orang dengan yang lainnya. Sementara itu, stereotip paraplegic merupakan kondisi yang membuat seseorang yang bergantung pada kursi roda karena tidak dapat menggerakkan lengan atau kakinya, tidak dapat merasakan apapun di bawah pinggang, dan tidak dapat berjalan. 

Pengidap paraplegia sebenarnya memiliki berbagai kemampuan yang dapat berubah dari waktu ke waktu. Secara kesehatan mereka dapat berevolusi dan terapi fisik dapat membantu mereka belajar mengatasi cedera. 

Paraplegia Disebabkan oleh Masalah Otak

Paraplegia hampir selalu disebabkan dari kerusakan otak, sumsum tulang belakang, atau keduanya. Dalam kebanyakan kasus, cedera medula spinalis ke toraks, lumbar, atau medula spinalis sakralis adalah beberapa hal yang harus diwaspadai. Saat cedera ini terjadi, sinyal tidak dapat melakukan perjalanan ke dan dari daerah bawah tubuh, dan tubuh dicegah mengirim sinyal kembali ke sumsum tulang belakang otak. 

Baca juga: Inilah Prosedur Diagnosis Paraplegia yang Perlu Diketahui

Lumpuh yang terjadi tidak hanya berjuang dengan gerakan di bawah pinggang, mereka juga mengalami kehilangan sensasi yang luas. Kehilangan sensasi ini bervariasi. Mulai dari perasaan kesemutan atau berkurangnya rasa di pinggang dan kaki, hingga ketidakmampuan total untuk merasakan apapun di bawah pinggang. 

Sebagian besar cedera tulang belakang dan otak bersifat traumatis. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh hantaman secara tiba-tiba ke daerah tersebut, dan umumnya karena kecelakaan. Namun, beberapa cedera tidak bersifat traumatis dan biasanya disebabkan oleh penyakit atau kelainan genetik. Beberapa penyebab paraplegia meliputi:

  • Stroke, penyebab paraplegia non-trauma yang paling umum.

  • Gangguan genetik, seperti paraplegia spastik herediter.

  • Kekurangan oksigen ke otak atau sumsum tulang belakang karena tersedak, komplikasi persalinan, dan cedera lainnya.

  • Gangguan autoimun.

  • Infeksi otak atau sumsum tulang belakang.

  • Tumor, lesi, atau kanker otak atau sumsum tulang belakang.

  • Gangguan sumsum tulang belakang seperti syrinx.

  • Kebanyakan SCI yang menyebabkan paraplegia terjadi di bagian toraks, sakral, atau lumbal sumsum tulang belakang, dan bukan pada sumsum tulang belakang leher. Ini dikarenakan cedera tulang belakang C6 atau lebih tinggi cenderung memengaruhi lebih banyak tubuh daripada hanya kaki. Sebaliknya, jenis cedera tulang belakang ini lebih cenderung menyebabkan kelumpuhan seluruh tubuh, hemiplegia, atau hemiparesis. 

Baca juga: Benarkan Alergi Parah Bisa Sebabkan Kelumpuhan Otak?

Kemungkinan terdapat penyebab lainnya yang belum diketahui. Jika kamu mencurigai adanya paraplegia pada tubuh kamu, segera komunikasikan pada dokter ahli melalui aplikasi Halodoc untuk diagnosis dan penanganan yang lebih tepat. 

Cara Mendiagnosis Paraplegia

Pada beberapa cedera akan menghasilkan kelumpuhan sementara di satu atau kedua kaki. Bahkan kaki yang patah dapat terlihat seperti paraplegia dalam keadaan yang tepat, seperti halnya setelah kejang, reaksi alergi, dan beberapa komplikasi bedah. Akibatnya dokter tidak harus cepat mendiagnosis paraplegia segera setelah cedera terjadi.  

Baca juga: 4 Gejala yang Menjadi Indikasi Orang Terkena Lumpuh Otak

Sebagai gantinya, dibutuhkan beberapa jam hingga beberapa hari untuk mendiagnosis kondisi ini. Dokter mungkin perlu melihat otak atau sumsum tulang belakang untuk melihat apakah ada darah atau jaringan rusak yang menghambat kemampuan sinyal untuk melakukan perjalanan ke kaki. Tes-tes yang mungkin dijalani yaitu:

  • Tes darah untuk menilai apakah infeksi, kanker, atau masalah lain berkontribusi terhadap paraplegia.

  • Tusukan lumbal untuk mengeluarkan sejumlah kecil cairan dari sumsum tulang belakang dan menilai fungsinya. 

  • CT scan atau MRI untuk melihat otak dan sumsum tulang belakang.

  • Sinar-X Myelography untuk membayangkan sumsum tulang belakang dan otak.

Referensi:

Spinal Cord. Diakses pada 2019. Paraplegia

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Spinal Cord Injury: Symptoms and Causes