Mitos dan Fakta Penyakit Sendi yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
mitos-dan-fakta-penyakit-sendi-yang-perlu-diketahui

Halodoc, Jakarta - Penyakit sendi adalah jenis gangguan yang paling umum. Terutama pada orang-orang dengan usia lanjut. Banyak informasi yang berkembang mengenai penyakit sendi ini, dan masih banyak orang yang memiliki kesalahpahaman tentang penyakit, penyebab, dan pengobatannya. 

Kesalahpahaman pemahaman disebabkan bentrok atau tidak sejalannya mitos dan fakta. Memang seharusnya kamu tidak perlu mempercayai mitos yang berkembang. Nah, berikut perbandingan antara mitos dan fakta mengenai penyakit sendi yang perlu kamu ketahui:

Mitos: Penyakit Sendi adalah Bagian Normal dari Penuaan

Tentu, peluang memiliki penyakit sendi semakin tinggi seiring bertambahnya usia. Selama bertahun-tahun, keausan pada sendi kamu akan bertambah. Tapi itu bukan berarti kondisinya adalah takdir setiap orang. Banyak orang tua tidak pernah mengalami penyakit sendi, dan beberapa orang yang masih muda juga. Mitos ini sebenarnya berbahaya karena akan membuat orang berpikir bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan terhadap nyeri sendi yang mereka alami. 

Baca juga: Jaga Kesehatan Sendi, Ini Bedanya Radang Sendi dan Nyeri Sendi

Mitos: Kamu Tidak dapat Mencegah Penyakit Sendi

Kamu tidak dapat mengubah beberapa hal yang membuat nyeri sendi lebih mungkin terjadi, seperti usia, gen, atau cedera lama. Tetapi kamu dapat menurunkan peluang kamu dengan cara lain. Yaitu dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur dan tetap pada berat badan yang sehat. Jika kamu sudah memiliki penyakit sendi, itu dapat membantu memperlambat kerusakan dan menurunkan kemungkinan kamu mengalami masalah sendi yang lebih seriu. 

Fakta: Kehilangan Beberapa Kilo Berat Badan dapat Membantu Mengatasi Gejala Penyakit Sendi

Penurunan berat badan tidak harus ekstrem atau dramatis untuk membuat perbedaan. Jika kamu kelebihan berat badan dan hanya kehilangan 10 persen dari berat badan kamu, kamu dapat meredakan nyeri radang sendi hingga 50 persen. Bahkan penurunan berat badan yang lebih sederhana pun dapat membantu. Untuk setiap kilogram ekstra yang kamu turunkan, kamu akan mengurangi tekanan pada lutut. 

Mitos: Semakin Banyak Kamu Menggunakan Sendi, Semakin Sakit

Menghabiskan hidup di kursi malas mungkin hal terburuk yang kamu lakukan untuk sendi. Aktivitas fisik akan meringankan rasa sakit kamu serta membantu kamu tetap fleksibel, memperkuat persendian, dan membantu kamu mengontrol berat badan. Pilih latihan yang berdampak rendah yang tidak akan menyulitkan kamu, seperti berenang, berjalan, dan tai chi. 

Mengapa? Jika kamu membangun otot di sekitar persendian, kamu akan melindungi dan menstabilkannya. Kamu dapat memulai dengan latihan sederhana di rumah. Kamu dapat menanyakan daftar latihan atau olahraga yang aman dari dokter dengan bertanya melalui aplikasi Halodoc. 

Baca juga: Ini 6 Obat Nyeri Sendi dari Bahan Alami Di Rumah

Mitos: Meretakkan Jari Menyebabkan Radang Sendi

Jika kamu suka meretakkan  buku jari maka kamu tidak perlu khawatir. Meskipun itu mungkin dapat mengganggu keluarga dan rekan kerja kamu, kamu tidak akan melukai sendi kamu, membuatnya bengkak, atau penyakit sendi. Suara berderak itu tidak berbahaya. Kamu baru saja melepaskan gas yang menumpuk di area sekitar buku jari. 

Fakta: Lebih Banyak Wanita yang Mengalami Penyakit Sendi daripada Pria

Wanita lebih banyak dua kali lipat lebih mungkin untuk mendapatkan penyakit sendi dibandingkan pria. Wanita juga lebih mungkin mengalami kerusakan sendi dari kondisi yang terjadi dengan cepat. Diduga penyebabnya adalah kadar hormon dan gen. 

Baca juga: Penyebab Sering Nyeri Sendi Saat Baru Bangun Tidur

Mitos: Penyakit Sendi Bukan Masalah Kesehatan yang Serius

Banyak orang menyepelekan dampak penyakit sendi, mungkin karena itu sangat umum. Tetapi hidup dengan penyakit sendi bisa lebih dari sekedar sakit lutut. Penyakit sendi dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sendi kamu, membuat kamu lebih sulit untuk beraktivitas, dan membuat kamu tidak bekerja atau melakukan hal-hal yang kamu sukai. 

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2019. OA Facts and Fictions