• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Omicron Centaurus Teridentifikasi di Indonesia, Ini Gejalanya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Omicron Centaurus Teridentifikasi di Indonesia, Ini Gejalanya

Omicron Centaurus Teridentifikasi di Indonesia, Ini Gejalanya

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 20 Juli 2022

“Karakter gejala Omicron Centaurus hampir sama dengan subvarian Omicron BA.4, BA, 5 dan BA.1, BA.2. Namun, memiliki perbedaan durasi gejala yang cukup signifikan dengan penyakit musiman seperti flu dan pilek.”

Omicron Centaurus Teridentifikasi di Indonesia, Ini Gejalanya

Halodoc, Jakarta – Setelah kemunculan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, kini muncul lagi subvarian Omicron BA.2.75 atau “Centaurus” yang cukup mengkhawatirkan. Sebab, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan subvarian COVID-19 ini sebagai Variant of Concern (VoC) Lineage Under Monitoring (LUM). 

Artinya, subvarian Centaurus sedang diawasi secara ketat oleh WHO. Di samping itu, subvarian BA.2.75 ini juga dikabarkan lebih menular jika dibandingkan subvarian Omicron lainnya. 

Namun, muncul pertanyaan, bagaimana dengan gejalanya? Adakah perbedaan dengan subvarian sebelumnya? Yuk, ketahui jawabannya di sini! 

Sudah Teridentifikasi di Indonesia 

Perlu diketahui bahwa sub varian Omicron Centaurus pertama kali ditemukan di India. Namun, baru-baru ini, diketahui bahwa subvarian Omicron baru ini sudah teridentifikasi di Indonesia. Dikutip dari salah satu media daring nasional, Menteri kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan,  COVID-19 subvarian baru tersebut sudah terdeteksi di Indonesia. Ia melaporkan kepada Presiden RI, bahwa terdapat tiga kasus subvarian tersebut. Satu ada di Bali karena kedatangan luar negeri, dua ada di Jakarta. 

Selaras dengan Menkes, ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Nasional, Brigjen TNI Purn dr Alexander K Ginting Sp.P (K). FCCP, juga mengungkapkan bahwa pihak laboratorium Indonesia sudah melaporkan temuan kasus Omicron Centaurus. “Dari Laboratorium sudah dilaporkan tiga kasus Centaurus,” ujarnya (18/7/2022). 

Meski begitu, temuan tersebut belum dikonfirmasi berasal dari pasien yang mana. Saat ini, pihak laboratorium tengah melakukan pemeriksaan terkait subvarian baru itu. Kendati demikian, Alexander juga menambahkan kalau kasus COVID-19 yang saat ini bertransmisi di Indonesia dan sedang melonjak, tidak didominasi oleh subvarian BA.2.75. Namun, melonjaknya kasus COVID-19 di Indonesia saat ini tengah didominasi oleh Omicron subvarian BA.4 dan BA.5. 

Gejala Subvarian Omicron Centaurus 

Menurut  Wakil Menkes Dante Saksono, ketiga kasus subvarian Omicron Centaurus yang masuk ke Indonesia merupakan kasus yang sederhana. Meski begitu, berdasarkan laporan kasus di beberapa negara lain, mutasi virus tersebut memiliki tingkat penularan yang relatif lebih cepat jika dibandingkan varian Delta. Kabar baiknya, subvarian Omicron Centaurus memiliki keparahan sakit yang relatif lebih ringan. 

Dirinya juga menambahkan bahwa karakter gejala Omicron BA.2.75 hampir sama dengan subvarian Omicron BA.4, BA, 5 dan BA.1, BA.2. Adapun beberapa gejala yang banyak dikeluhkan pengidap Omicron BA.4 dan BA.5, yaitu:

  • Sakit kepala. 
  • Sesak napas. 
  • Batuk. 
  • Pilek. 
  • Nyeri tenggorokan. 
  • Demam. 
  • Pusing. 
  • Anosmia.
  • Mual/muntah. 

Perbedaan Gejala Omicron Centaurus dengan Penyakit Musiman 

Melansir media daring internasional, gejala Omicron BA.2.75 atau Centaurus memiliki banyak kesamaan dengan penyakit musiman. Misalnya seperti penyakit flu dan pilek yang umum terjadi. Pengidap Omicron BA.2.75 juga akan merasakan gejala sakit kepala dan tenggorokan. Sementara itu, tim aplikasi ZOE Covid Symptom Study Inggris kemudian mengumpulkan data gejala Omicron Centaurus untuk mengetahui perbedaan gejalanya dengan flu dan pilek. 

Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa sakit tenggorokan gejala Omicron Centaurus akan membaik dengan cepat dan berlangsung kurang dari lima hari. Namun, gejala tersebut akan terasa buruk pada hari pertama infeksi, kemudian kembali membaik pada hari-hari berikutnya. Bilamana sakit tenggorokan yang muncul berlangsung lebih dari lima hari, maka kemungkinan besar gejala tersebut tidak disebabkan oleh infeksi COVID-19 Omicron Centaurus. 

Itulah penjelasan mengenai subvarian Omicron Centaurus yang baru-baru ini terdeteksi di Indonesia. Berdasarkan karakter gejalanya, Omicron Centaurus  dikabarkan memiliki gejala yang hampir sama dengan subvarian Omicron BA.4, BA, 5 dan BA.1, BA.2. Mengingat di Indonesia saat ini angka COVID-19 kembali melonjak, penting untuk senantiasa disiplin menerapkan protokol kesehatan. 

Selain itu, pastikan juga untuk menjaga sistem imun tubuh dengan menerapkan pola hidup sehat dan mengonsumsi suplemen kesehatan. Nah, jika saat ini kamu membutuhkannya, kamu bisa cek kebutuhan vitamin dan suplemen melalui aplikasi Halodoc. Tentunya tanpa perlu keluar rumah atau mengantre lama di apotek. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

Kompas. Diakses pada 2022. Omicron BA.2.75 atau Omicron Centaurus Teridentifikasi di Indonesia, Bagaimana Gejalanya?
Detik Health. Diakses pada 2022. Fakta-fakta Omicron Terbaru ‘Centaurus’ BA.2.75, Sudah Masuk RI!
Tribun Jateng. Diakses pada 2022. Omicron Centaurus Terdeteksi di Indonesia, Satu Kasus di Bali dan Dua di Jakarta. 
WHO. Diakses pada 2022. Tracking SARS-CoV-2 variants. 
Express.UK. Diakses pada 2022. Covid symptoms: Centaurus sub-variant identified – signs of infection.