• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pasien COVID-19 dengan Diabetes dan Hipertensi Berisiko Alami Perburukan Gejala

Pasien COVID-19 dengan Diabetes dan Hipertensi Berisiko Alami Perburukan Gejala

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Pasien COVID-19 dengan Diabetes dan Hipertensi Berisiko Alami Perburukan Gejala

Diabetes atau hipertensi adalah dua kondisi kesehatan yang diketahui bisa memperparah penyakit COVID-19. Bila orang yang memiliki salah satu atau kedua kondisi tersebut terinfeksi virus Corona, mereka berisiko tinggi untuk mengalami perburukan gejala. Hal itu karena diabetes dan hipertensi bisa melemahkan sistem kekebalan seseorang, sehingga sulit untuk melawan infeksi virus.”

Halodoc, Jakarta – COVID-19 bisa menyebabkan gejala yang berbeda-beda pada tiap pengidap. Ada beberapa orang yang tidak memiliki gejala sama sekali, sementara itu sebagian lainnya mengalami sakit parah, sehingga mereka akhirnya membutuhkan bantuan mekanis untuk bernapas.

Orang yang sudah tua diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami gejala COVID-19 yang parah. Tidak hanya orang tua, orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu juga berisiko mengalami sakit parah akibat virus Corona. Diabetes dan hipertensi adalah dua kondisi kesehatan yang diketahui bisa memperparah penyakit COVID-19. Bila orang yang memiliki diabetes atau hipertensi terinfeksi virus Corona, mereka berisiko tinggi mengalami perburukan gejala. Berikut ulasannya.

Baca juga: 5 Komorbid yang Perlu Diwaspadai di Masa Pandemi

Hubungan Antara Diabetes, Hipertensi, dan COVID-19

Melansir dari Immunopaedia, analisis retrospektif dari riwayat pasien COVID-19 menunjukkan bahwa masing-masing sebanyak 12–22 persen dan 23–30 persen pasien COVID-19 berat juga mengidap diabetes dan hipertensi. Melansir dari The Lancet, sebuah studi juga menunjukkan bahwa dari 140 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, sebanyak 30 persen mengidap hipertensi dan 12 persen mengidap diabetes. Hal ini menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes dikaitkan dengan risiko tinggi COVID-19 yang parah.

Kaitan antara hipertensi, diabetes, dan SARS-CoV2 (virus corona) ada pada angiotensin-convertin enzyme (ACE-2). ACE-2, yang diekspresikan pada sel epitel paru, usus, ginjal, dan pembuluh darah, adalah salah satu koreseptor yang digunakan SARS-CoV2 untuk menginfeksi sel target di dalam tubuh. 

Nah, orang yang mengidap diabetes dan hipertensi memiliki tingkat ACE-2 yang lebih tinggi dibandingkan orang yang sehat. Hal itu karena perkembangan alami dari penyakit itu sendiri dan pengobatan pengidap dengan menggunakan inhibitor ACE-1 atau antagonis reseptor angiotensin, yang bisa meningkatkan kadar ACE-2. Berdasarkan hal ini, para peneliti berhipotesis bahwa tingkat ACE-2 yang tinggi, seperti yang ditemukan pada pengidap diabetes dan hipertensi, memfasilitasi peningkatan jumlah virus yang masuk dan bereplikasi yang bisa menyebabkan penyakit parah.

Baca juga: Pengidap Hipertensi Dapat Menerima Vaksin Corona, Perhatikan Hal Ini

Pengidap Diabetes dan Hipertensi Berisiko Mengalami Gejala yang Parah

Diabetes dan obesitas sama-sama bisa mengurangi efisiensi sistem kekebalan tubuh seseorang dalam melawan virus yang masuk. Memiliki gula darah tinggi bisa mengganggu kemampuan tubuh kamu untuk melawan infeksi. Itulah mengapa orang yang mengidap diabetes berisiko tinggi mengalami gejala COVID-19 yang serius bila terinfeksi virus corona. 

Memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi seperti pada pengidap obesitas juga meningkatkan risiko tersebut. Oleh karena itu, bila kamu mengidap diabetes, penting untuk menjaga kadar gula darah tetap terkontrol dan melanjutkan pengobatan diabetes dan insulin kamu. Cara tersebut bisa mengurangi risiko COVID-19 yang parah. Sedangkan bagi kamu yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, berusahalah untuk menurunkan berat badan secara sehat dengan menerapkan pola makan sehat dan berolahraga secara teratur.

Selain diabetes dan obesitas, hipertensi juga merupakan kondisi yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gejala COVID-19 yang parah. Hal itu karena hipertensi bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang dan merupakan salah satu faktor risiko untuk penyakit jantung. Berbagai penyakit jantung yang bisa dipicu oleh hipertensi, seperti penyakit arteri koroner dan gagal jantung, bisa membuat kamu lebih mungkin mengembangkan gejala COVID-19 yang parah. Selain itu, memiliki penyakit jantung selain diabetes bisa meningkatkan risiko sakit parah akibat COVID-19, karena memiliki lebih dari satu kondisi membuat tubuh kamu sulit melawan infeksi. Oleh karena itu, bila kamu memiliki tekanan darah tinggi, lanjutkan minum obat kamu persis seperti yang sudah ditentukan. 

Baca juga: Tips Sehat Bagi Pengidap Diabetes Saat Pandemi

Itulah penjelasan mengenai diabetes dan hipertensi yang bisa menyebabkan perburukan gejala COVID-19. Bila kamu mengidap salah satu atau dua kondisi tersebut dan mengalami gejala COVID-19, jangan panik. Dengan melakukan isolasi mandiri di rumah, kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk bertanya mengenai langkah pengobatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah perburukan gejala COVID-19. Yuk, download aplikasinya sekarang juga untuk mendapatkan solusi kesehatan terlengkap dengan mudah.

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg
Referensi:
Immunopaedia. Diakses pada 2021.  Why are hypertension and diabetes patients at high risk of severe COVID-19?.
The Lancet Respiratory Medicine. Diakses pada 2021. Are patients with hypertension and diabetes mellitus at increased risk for COVID-19 infection?
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. COVID-19: Who’s at higher risk of serious symptoms?
WebMD. Diakses pada 2021. COVID-19 Risks When You Have Diabetes.