Hipertensi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Hipertensi

Hipertensi disebut juga dengan tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat diketahui dengan cara rajin memeriksakan tekanan darah. Untuk orang dewasa minimal memeriksakan darah setiap lima tahun sekali.

 

Faktor Risiko Hipertensi

Seiring bertambahnya usia, kemungkinan mengidap hipertensi akan meningkat. Berikut adalah faktor-faktor pemicu yang dapat memengaruhi peningkatan risiko hipertensi:

  • Berusia di atas 65 tahun.

  • Mengonsumsi banyak garam.

  • Kelebihan berat badan.

  • Memiliki keluarga dengan hipertensi.

  • Kurang makan buah dan sayuran.

  • Jarang berolahraga.

  • Minum terlalu banyak kopi (atau minuman lain yang mengandung kafein).

  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras.

Risiko hipertensi dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik dan merubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang lebih sehat.

Baca juga: Tekanan Darah Rendah atau Tinggi, Manakah yang Lebih Berbahaya?

 

Penyebab Hipertensi

Penyebab utama hipertensi adalah naiknya tekanan darah pada tubuh. Berdasarkan hal tersebut, hipertensi juga sering disebut sebagai darah tinggi. Umumnya hipertensi diidap oleh seseorang yang berusia di atas 65 tahun. Peningkatan tekanan darah tersebut tentu saja disebabkan oleh beberapa faktor risiko, seperti obesitas, terlalu banyak mengonsumsi garam, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak dan berminyak.

 

Gejala Hipertensi

Seseorang yang mengidap hipertensi akan merasakan beberapa gejala yang timbul. Berikut ini adalah gejala yang muncul akibat hipertensi, antara lain:

  • Sakit kepala.

  • Lemas.

  • Masalah dalam penglihatan.

  • Nyeri dada.

  • Sesak napas.

  • Aritmia.

  • Adanya darah dalam urine.

 

Diagnosis Hipertensi

Pengukuran tekanan darah dalam takaran merkuri per milimeter (mmHG) dan dicatat dalam dua bilangan, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat jantung berdetak memompa darah keluar. Sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan darah saat jantung tidak berkontraksi (fase relaksasi). Seseorang dianggap mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi jika hasil dari beberapa kali pemeriksaan, tekanan darah tetap mencapai 140/90 mmHg atau lebih.

 

Pengobatan Hipertensi

Bagi sebagian pengidap hipertensi, konsumsi obat harus dilakukan seumur hidup untuk mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah pengidap sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Dosis yang sudah ditentukan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena takarannya disesuaikan dengan tingkat tekanan darah. Selain itu, obat yang diberikan juga harus diperhatikan apa saja dampak dan efek samping yang timbul pada tubuh sang pengidap.

Berikut ini adalah obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap hipertensi, antara lain:

  • Diuretik. Pengidap hipertensi rentan terhadap kadar garam yang tinggi dalam tubuh, untuk itu penggunaan diuretik dibutuhkan sebagai bagian dari pengobatan. Obat ini berfungsi agar kelebihan garam dan cairan di tubuh bisa dibuang melalui urine. Hydrochlorothiazide merupakan salah satu jenis obat diuretik yang paling sering dianjurkan oleh dokter.

  • Antagonis kalsium. Pengidap hipertensi rentan untuk mengalami tekanan darah tinggi yang dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah. Maka dari itu, penggunaan jenis obat antagonis kalsium diperlukan untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga tekanan darah bisa turun. Contoh obat antagonis kalsium yang paling umum adalah nifedipine dan amlodipine.

  • Beta blocker. Obat jenis ini bekerja dengan cara memperlambat detak jantung dan melebarkan pembuluh. Tujuan penggunaan obat ini adalah untuk menurunkan tekanan darah pengidap hipertensi. Contoh obat golongan beta-blocker adalah bisoporol dan atenolol.

  • ACE inhibitor. Bertujuan untuk menurunkan tekanan darah dengan cara membuat dinding pembuluh darah lebih rileks. Contoh obat golongan ini adalah ramipril dan captopril.

  • Angiotensin-2 receptor blocker (ARB). Obat golongan ini memiliki fungsi yang hampir sama dengan ACE inhibitor. Karena sama-sama membuat rileks dinding pembuluh darah, kedua obat ini tidak boleh diberikan secara bersamaan. Contoh obat golongan ini yang paling umum adalah valsartan dan losartan.

  • Penghambat renin. Fungsi utama obat golongan ini adalah menghambat kerja renin, yaitu enzim yang berfungsi untuk menaikan tekanan darah dan dihasilkan oleh ginjal. Jika renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali. Obat penghambat renin yang paling umum adalah aliskiren.

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi yoga. Terapi tersebut bertujuan untuk mengendalikan stres dan memberikan dampak relaksasi bagi pengidap hipertensi. Pengobatan terhadap hipertensi juga tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan perubahan gaya hidup. Menjalani pola makan dan hidup sehat, serta menghindari konsumsi kafein dan garam yang berlebihan juga harus dilakukan.

 

Pencegahan Hipertensi

Terdapat berbagai langkah pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyakit hipertensi, antara lain:

  • Mengonsumsi makanan sehat.

  • Mengurangi konsumsi garam jangan sampai berlebihan.

  • Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan seperti teh dan kopi.

  • Berhenti merokok.

  • Berolahraga secara teratur.

  • Menurunkan berat badan, jika diperlukan.

  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol.

  • Menghindari konsumsi minuman bersoda.

Baca juga: Hati-Hati, Kopi dan Hipertensi Jadi Penyebab Stroke di Usia 30-an

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir dampak, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan.

 

Referensi:
Harvard Health. Diakses pada 2019. High Blood pressure (Hypertensiom)
Diperbarui pada 12 September 2019