• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hipertensi

Hipertensi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Hipertensi

Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah istilah medis dari penyakit tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat mengakibatkan berbagai komplikasi kesehatan yang membahayakan nyawa sekaligus meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, stroke, bahkan kematian.

Tekanan darah bisa diartikan sebagai kekuatan yang diberikan oleh sirkulasi darah terhadap dinding arteri tubuh, yaitu pembuluh darah utama yang berada dalam tubuh. Besarnya tekanan ini bergantung pada resistensi pembuluh darah dan seberapa keras jantung bekerja. Semakin banyak darah yang dipompa oleh jantung dan semakin sempit pembuluh darah arteri, maka tekanan darah akan semakin tinggi.

Hipertensi dapat diketahui dengan rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah. Setidaknya, orang dewasa dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah, termasuk tekanan darah setiap lima tahun sekali.

Penulisan hasil tekanan darah berupa dua angka. Angka pertama atau sistolik mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi atau berdetak. Sementara itu, angka kedua atau diastolik mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detaknya.

Seseorang bisa dikatakan mengalami hipertensi bila pembacaan tekanan darah sistolik pada pengukuran selama dua hari berturut-turut menunjukkan hasil yang lebih besar dari 140 mmHg, dan/atau pembacaan tekanan darah diastolik menunjukkan hasil yang lebih besar dari 90 mmHg.

Baca juga: Tekanan Darah Tinggi Bisa Memengaruhi Kemampuan Berpikir?


Faktor Risiko Hipertensi

Seiring bertambahnya usia, seseorang akan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami hipertensi. Beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko hipertensi yaitu:

  • Berusia di atas 65 tahun.
  • Konsumsi makanan tinggi garam berlebihan.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Adanya riwayat keluarga dengan kondisi medis yang sama.
  • Kurang asupan buah dan sayuran.
  • Jarang berolahraga.
  • Mengonsumsi terlalu banyak makanan atau minuman yang mengandung kafein.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol.

Meski demikian, risiko hipertensi dapat dicegah dengan mengubah pola hidup dan pola makan menjadi lebih sehat secara rutin. Penuhi asupan gizi tubuh seimbang, asupan cairan harian tubuh, dan berolahraga secara teratur.

Baca juga: Tekanan Darah Rendah atau Tinggi, Manakah yang Lebih Berbahaya?


Penyebab Hipertensi

Hipertensi terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Masing-masing memiliki penyebab yang berbeda, seperti berikut ini.

1. Hipertensi Primer

Sering kali, penyebab terjadinya hipertensi pada kebanyakan orang dewasa tidak diketahui. Hipertensi primer cenderung berkembang secara bertahap selama bertahun-tahun.

2. Hipertensi Sekunder

Beberapa orang memiliki tekanan darah tinggi karena kondisi kesehatan yang mendasarinya. Hipertensi sekunder cenderung muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah lebih tinggi daripada hipertensi primer.

Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder, antara lain:

  • Obstruktif sleep apnea (OSA).
  • Masalah ginjal.
  • Tumor kelenjar adrenal.
  • Masalah tiroid.
  • Cacat bawaan di pembuluh darah.
  • Obat-obatan, seperti pil KB, obat flu, dekongestan, obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas. 
  • Obat-obatan terlarang.


Gejala Hipertensi

Seseorang yang mengidap hipertensi akan merasakan beberapa gejala yang timbul, antara lain:

  • Sakit kepala;
  • Lemas;
  • Masalah penglihatan;
  • Nyeri dada;
  • Sesak napas;
  • Aritmia; dan
  • Adanya darah dalam urine.

 

Diagnosis Hipertensi

Dokter atau tenaga ahli biasanya akan memakaikan manset lengan tiup di sekitar lengan dan mengukur tekanan darah dengan menggunakan alat pengukur tekanan. 

Hasil pengukuran tekanan darah dibagi menjadi empat kategori umum:

  • Tekanan darah normal adalah tekanan darah di bawah 120/80 mmHg.
  • Prahipertensi adalah tekanan sistolik yang berkisar dari 120–139 mmHg, atau tekanan darah diastolik yang berkisar dari 80–89 mmHg. Prahipertensi cenderung dapat memburuk dari waktu ke waktu.
  • Hipertensi tahap 1 adalah tekanan sistolik berkisar 140–159 mmHg, atau tekanan diastolik berkisar 90–99 mm Hg.
  • Hipertensi tahap 2 tergolong lebih parah. Hipertensi tahap 2 adalah tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih tinggi, atau tekanan diastolik 100 mmHg atau lebih tinggi.


Pengobatan Hipertensi

Sebagian pengidap hipertensi harus mengonsumsi obat seumur hidup guna mengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis obat atau konsumsinya dapat dihentikan. Perhatikan selalu dosis obat yang diberikan dan efek samping yang mungkin terjadi.

Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para pengidap hipertensi, antara lain:

  • Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh melalui urine. Pasalnya, hipertensi membuat pengidapnya rentan terhadap kadar garam tinggi dalam tubuh.
  • Obat untuk melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah bisa menurun. Perlu diketahui bahwa hipertensi membuat pengidapnya rentan mengalami sumbatan pada pembuluh darah. 
  • Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung dan melebarkan pembuluh darah.
  • Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat dinding pembuluh darah lebih rileks. 
  • Obat penghambat renin untuk menghambat kerja enzim yang berfungsi menaikkan tekanan darah. Jika renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali. 

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya terapi meditasi atau terapi yoga. Namun, pengobatan hipertensi tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti menjalani pola makan dan hidup sehat, serta olahraga teratur.


Pencegahan Hipertensi

Terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah hipertensi, yaitu:

  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Batasi asupan garam. 
  • Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan.
  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan.
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol.


Baca juga: Hati-Hati, Kopi dan Hipertensi Jadi Penyebab Stroke di Usia 30-an


Kapan Harus ke Dokter?

Lakukan pengecekan tekanan darah secara berkala guna menghindari hipertensi. Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir terjadinya dampak negatif sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Download dan gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya jawab dengan dokter seputar hipertensi atau membuat janji apabila hendak berobat ke rumah sakit terdekat. 

Referensi:
Harvard Health. Diakses pada 2021. High Blood pressure (Hypertension).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2021. Hypertension.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. High blood pressure (hypertension)
.
Diperbarui pada 22 Maret 2021.

Showing response for:

Jul 7, 2020
Kalo ada hipertensi, makanan apa aja ya dok yang perlu dihindarin?
Secara umum, penderita hipertensi disarankan untuk mengurangi asupan garam, termasuk didalamnya makanan olahan yang diawetkan dengan metode pengasinan atau makanan sehari-hari harus rendah garam. Selain itu penderita hipertensi juga disarankan untuk mengurangi konsumsi alkohol dan makanan berlemak. Kedua jenis makanan tersebut diketahui dapat memengaruhi struktur pembuluh darah yang dapat berakibat sumbatan pembuluh darah maupun hipertensi. Penderita hipertensi juga disarankan untuk menghindari makanan yang rendah serat dan memperbanyak asupan serat seperti sayur dan buah. Selain menghindari makanan-makanan tersebut, penting juga untuk menjaga gaya hidup seperti menghindari rokok, menjaga berat badan ideal, dan rutin berolahraga.
Jul 7, 2020
Saya kan ini suka lemas dan nafsu makan kurang, terus saya juga suka tiba2 pusing dan keringetan gitu. Itu apa gara2 hipertensi atau bukan ya?
Hipertensi sering kali dikaitkan dengan keluhan pusing. Namun, tidak semua hipertensi menunjukkan gejala, sebagian besar kasus hipertensi bahkan tidak bergejala. Sehingga, penting untuk melakukan pengecekan tensi rutin di layanan kesehatan. Jika yang dirasakan suka lemas dan nafsu makan kurang, disertai tiba-tiba pusing dan berkeringat ini merupakan gejala yang sangat umum, dan dapat mengarah ke berbagai penyakit. Untuk dapat mengetahui pasti disarankan untuk dapat berobat ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan yang menyeluruh.
Jul 7, 2020
Dok, papa saya kan ada hipertensi. Nah, dia tuh suka banget kalo disuruh minum obat. Ada pengobatan alternatif lain gak ya dok kayak jamu gt?
Sampai saat ini ada beberapa pengobatan herbal yang sudah terformularasi dan dijual sebagai kemasan obat tradisional di apotek. Namun, pengobatan hipertensi merupakan pengobatan yang harus dilakukan rutin dan spesifik terhadap masing-masing individu. Apabila dokter telah meresepkan obat hipertensi tersebut, maka dokter telah menimbang berbagai faktor lain yang ada pada tubuh penderita hipertensi, sehingga efek samping dan manfaatnya sudah dipertimbangkan. Sejauh ini, sebagian besar obat hipertensi tergolong aman untuk dikonsumsi dalam jangka panjang, artinya, selama tidak ada efek samping dari konsumsi obat hipertensi tersebut, penderita dapat terus melanjutkan pengobatan hipertensi secara rutin.