• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pemeriksaan EEG dan Brain Mapping pada Anak dengan ADHD dan Autis

Pemeriksaan EEG dan Brain Mapping pada Anak dengan ADHD dan Autis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Tes EEG digunakan untuk mengukur sinyal listrik di otak dan mencari anomali dalam pola gelombang otak yang mungkin mengindikasikan stroke atau cedera otak traumatis. Tidak hanya itu, menurut The Drake Institute, EEG dan brain mapping ternyata bisa juga dilakukan kepada anak untuk mengetahui gejala ADHD dan autis. 

Proses pemetaan otak akan mendeteksi jika ada area otak yang tidak berfungsi atau tidak teratur. Terkadang, gejala disebabkan oleh area otak yang kurang aktif. Ini ditunjukkan lewat gelombang otak yang melambat secara berlebihan, sehingga menyebabkan gangguan fungsi. Selengkapnya, pemeriksaan EEG dan brain mapping pada anak bisa di bawah ini.

Bagaimana Pemetaan Otak Bekerja?

19 sensor ditempatkan di permukaan kepala dan aktivitas gelombang otak dicatat di 19 area tersebut. Pemetaan otak bersifat noninvasif (tidak seperti pemindaian SPECT atau pemindaian PET) dan tidak menyakitkan. 

Mirip seperti termometer, pemeriksaan EEG hanya mencatat suhu, tetapi tidak memengaruhi suhu yang ada. Peta otak hanya mencatat aktivitas listrik otak untuk dianalisis dan tidak melakukan apa pun pada otak itu sendiri. 

Baca juga: 4 Jenis Autis yang Perlu Diketahui

Rekaman peta otak diproses melalui database normatif yang memungkinkan ahli medis untuk mengidentifikasi area abnormal yang memerlukan perhatian khusus selama perawatan. Otak terdiri dari banyak jaringan fungsional yang terdiri dari neuron atau sel otak yang bekerja bersama secara sinkron untuk melakukan fungsi khusus. 

Pemeriksaan EEG dapat melihat apakah berbagai jaringan fungsional di otak berfungsi dalam batas normal. Termasuk ketika otak menunjukkan gejala ADHD ataupun untuk Autism Spectrum Disorder.

Sebagai contoh, ada jaringan otak untuk mengatur perhatian, fungsi eksekutif (mengatur, memprioritaskan, manajemen waktu, dan lain-lain.), memori kerja, suasana hati, pemrosesan bahasa (ekspresif dan reseptif), dan memahami isyarat sosial non-verbal.

Jaringan yang berbeda ini berkomunikasi satu sama lain untuk berbagi informasi, sehingga otak dapat melakukan tugas-tugas kompleks secara optimal. Penelitian dalam ilmu saraf telah menunjukkan bahwa koneksi fungsional antara daerah otak adalah kunci untuk fungsi otak yang optimal. 

Analisis peta otak yang dilakukan EEG akan mengukur keselarasan antara area berbeda yang menunjukkan kesehatan atau normalitas komunikasi fungsional antara wilayah-wilayah otak ini. Karena itu, EEG dapat mengukur seberapa baik berbagai area otak berkomunikasi satu sama lain untuk melakukan tugas yang kompleks. 

Baca juga: Vaksin Sebabkan Autisme? Ini Faktanya

Misalnya, perlu ada konektivitas koherensi yang memadai antara perhatian, pemrosesan pendengaran, dan jaringan pemrosesan visual di otak untuk menjadi pembaca yang baik dengan pemahaman yang tepat.

Ingin tahu lebih banyak mengenai EEG dan brain mapping pada anak, tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orang tua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orang tua bisa kapan dan di mana saja memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Dalam ADHD dan Autism Spectrum Disorder, gejala sering kali merupakan hasil dari disregulasi dalam jaringan otak tertentu. Namun, ahli medis juga bisa melihat beberapa jaringan yang gagal bekerja sama untuk melakukan fungsi mental yang kompleks atau kontrol perilaku/emosi. 

Meskipun disregulasi dapat menjadi signifikan pada ADHD, ini biasanya lebih luas terjadi pada Autism Spectrum Disorder. Otak benar-benar berfungsi dalam kekacauan, kurang komunikasi yang efektif antara berbagai wilayah atau jaringan, membuat anak menjadi kewalahan, bahkan oleh tuntutan normal.

Referensi:

Drake Institute of Behavioral Medicine. Diakses pada 2019. Brain Mapping for ADHD & Autism Spectrum Disorder.
The Atlantic.com. Diakses pada 2019. A Map That Shows You Everything Wrong With Your Brain.