Pemeriksaan untuk Diagnosis Retardasi Mental

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Pemeriksaan untuk Diagnosis Retardasi Mental

Halodoc, Jakarta – Ibu, masa kehamilan tentunya momen yang penting untuk menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak dini. Banyak gangguan kesehatan yang dapat dicegah dengan mencukupi nutrisi saat masa kehamilan, salah satunya adalah retardasi mental.

Baca juga: Ini Fakta-Fakta Lengkap Mengenai Retardasi Mental

Kondisi retardasi mental adalah gangguan pada perkembangan otak yang ditandai dengan nilai IQ yang di bawah rata-rata orang normal. Gangguan perkembangan otak menyebabkan seseorang mengalami retardasi mental. Berikan dukungan baik mental maupun fisik pada pengidap retardasi mental agar mereka dapat beradaptasi dengan kondisinya.

Apakah Kondisi Ini Dapat Dicegah?

Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang mengalami kondisi retardasi mental, seperti cedera ketika melakukan olahraga, kelainan genetik, penyakit yang memengaruhi fungsi otak, kekurangan nutrisi serta gizi ketika masa kehamilan hingga gangguan pada proses persalinan, seperti kekurangan oksigen.

Namun, jangan khawatir, kondisi ini dapat dicegah sesuai dengan penyebabnya. Ketika seseorang mengalami retardasi mental akibat terganggunya perkembangan otak ketika dalam kandungan, sebaiknya ibu hamil lakukan pencegahan dengan menghindari paparan asap rokok secara langsung dan juga menghentikan kebiasaan merokok.

Selain itu, penuhi asupan nutrisi dan gizi selama ibu menjalani masa kehamilan. Sebaiknya ibu cukupi kebutuhan asam folat ketika masa kehamilan. Asam folat dibutuhkan untuk membantu pembentukan otak dan sumsum tulang belakang bayi dalam kandungan.

Sedangkan retardasi mental yang disebabkan karena cedera dicegah dengan berhati-hati saat melakukan aktivitas dan berolahraga. Gunakan peralatan yang lengkap dan menjaga keamanan ketika kamu berolahraga maupun beraktivitas di luar ruangan.

Baca juga: Kenali Gejala Munculnya Retardasi Mental

Lakukan Pemeriksaan Kondisi Retardasi Mental

Ketahui tingkat keparahan berdasarkan nilai IQ yang didapat. Seseorang dengan nilai IQ sekitar 50-69 dinyatakan ringan. Sedangkan seseorang dengan nilai IQ 35-49 dikategorikan sedang. Kategori berat jika pengidap memiliki nilai IQ 20-34. Sedangkan seseorang dinyatakan mengalami retardasi mental yang berat ketika seseorang memiliki nilai IQ di bawah 20.

Selain dilihat dari nilai IQ, retardasi mental dilihat dari gejala yang dialami oleh pengidap, seperti kesulitan dalam berbicara dan kurang cepat dalam mempelajari aktivitas sehari-hari seperti makan maupun menggunakan pakaian. Pengidap retardasi mental sulit untuk mengendalikan emosi, sehingga pengidap retardasi mental dapat ditemukan dengan perubahan suasana hati yang begitu cepat. 

Daya ingat yang buruk dan kesulitan untuk mengambil keputusan menjadi gejala yang muncul. Namun, tidak ada salahnya untuk lakukan pemeriksaan agar dokter dapat memastikan kondisi kesehatan yang dialami. Segera periksakan ke rumah sakit terdekat jika memiliki kerabat dengan gejala retardasi mental.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan observasi langsung pada pasien dan juga keluarganya. Observasi ini menggunakan teknik wawancara untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai riwayat kesehatan pengidap. Tes intelektual juga dijalani oleh pengidap retardasi mental agar tim medis melihat kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan penyebab seseorang mengalami retardasi mental, seperti:

  1. Tes darah;

  2. Tes urine;

  3. CT scan atau MRI;

  4. Pemeriksaan aktivitas listrik pada otak.

Baca juga: Ketahui 5 Hal yang Sebabkan Retardasi Mental

Jika kerabat sekitar kamu ada yang mengalami kondisi retardasi mental, berikan dukungan untuk membantu perkembangan kemampuannya. Biarkan pengidap retardasi mental mencoba sesuatu hal yang baru agar pengidap dapat menjadi seseorang yang lebih mandiri.