Penggunaan Zat Kontras Saat Fluoroskopi, Apa Risikonya?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Penggunaan Zat Kontras Saat Fluoroskopi, Apa Risikonya?

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar fluoroskopi? Ini merupakan prosedur pemeriksaan kesehatan yang menggunakan radiasi sinar-X untuk mendapatkan gambar kondisi berbagai organ tubuh secara langsung berupa video dalam bentuk sekuel. Meski serupa dengan CT-Scan dalam penggunaannya, pemeriksaan ini hanya menghasilkan gambar dari satu sudut pandang.

Fluoroskopi digunakan dalam banyak jenis pemeriksaan dan prosedur, seperti kateterisasi jantung, arteriografi, penempatan kateter intravena, dan biopsi. Kegunaan dari pemeriksaan ini adalah untuk menemukan keberadaan benda asing, vertebroplasty perkutan (prosedur invasif minimal yang digunakan untuk mengobati fraktur atau kompresi tulang belakang, mengarahkan kateter ke lokasi tertentu di dalam tubuh, dan masih banyak lagi.

Penggunaan Zat Kontras dalam Metode Fluoroskopi, Apakah Berbahaya?

Setiap prosedur medis memiliki risiko. Dalam kaitannya dengan fluoroskopi, digunakan zat kontras untuk membantu dokter lebih mudah dalam melakukan pengamatan terhadap organ di dalam tubuh. Salah satu zat kontras yang umum digunakan adalah barium, karena disinyalir membantu menghasilkan gambar yang lebih jelas ketika prosedur dilakukan.

Baca juga: Selama Fluoroskopi, Kenapa Harus Banyak Minum Air Putih?

Namun, apakah penggunaan zat kontras ini aman? Ternyata, tidak demikian. Pada beberapa kasus, zat kontras ini memunculkan reaksi alergi, terutama pada orang yang memang memiliki riwayat alergi.

Riwayat alergi ini juga termasuk pada alergi obat, yodium, atau lateks. Jika kamu adalah salah satunya, maka segera beritahukan dokter atau petugas yang melakukan prosedur ini, agar segera ditindaklanjuti.

Tidak hanya untuk orang yang rentan atau memiliki riwayat alergi, penggunaan zat kontras ini juga sebaiknya tidak digunakan jika pasien yang hendak melakukan pemeriksaan fluoroskopi memiliki riwayat gagal jantung, diabetes, gagal ginjal, anemia sel sabit, penyempitan pada katup jantung, dan multiple myeloma. Pengidap gangguan ginjal harus memberitahukan kondisi kesehatannya, karena zat kontras memberikan dampak yang cukup signifikan pada ginjal.

Baca juga: Banyak Manfaat, Siapa Saja yang Dianjurkan Fluoroskopi?

Risiko Pemeriksaan Fluoroskopi Lainnya

Peringatan lain yang perlu diperhatikan oleh ibu hamil. Bukan tanpa alasan, prosedur pemeriksaan ini pada umumnya setipe dengan CT-Scan yang menggunakan teknologi radiasi dan dapat membahayakan janin. Jadi, jika kamu dalam kondisi hamil dan hendak melakukan pemeriksaan medis ini, sebaiknya beritahukan pada dokter, karena fluoroskopi tidak dianjurkan untuk dilakukan ibu hamil.

Kondisi tertentu juga bisa mengganggu keakuratan prosedur pemeriksaan medis ini. Prosedur pemeriksaan X-ray menggunakan barium disinyalir memunculkan efek samping berupa gangguan pemaparan daerah perut atau punggung bagian bawah. Jadi, apa pun kondisi kesehatan tubuh kamu saat ini yang berpengaruh terhadap prosedur pemeriksaan nantinya, jangan ragu untuk berkomunikasi dan memberitahukan pada dokter.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Lakukan Tes Fluoroskopi

Pada dasarnya, pemeriksaan fluoroskopi yang sesuai anjuran medis mampu memberikan manfaat klinis yang lebih besar dibandingkan dengan risiko radiasi yang diterima selama selama prosedur dilaksanakan. Ketika dilakukan dengan tepat, pemeriksaan ini bisa memberi manfaat diagnostik substansial untuk membantu mengetahui perawatan lebih lanjut.

Kalau kamu masih kurang yakin, kamu bisa bertanya terlebih dahulu pada dokter, apakah benar fluoroskopi perlu dilakukan. Jika memungkinkan, kamu bisa meminta rekomendasi tempat pemeriksaan yang tepat dari dokter. Supaya lebih mudah, coba kamu download aplikasi Halodoc, jadi tanya jawab dengan dokter bisa kamu lakukan kapan saja. Tidak cukup sampai di situ, beli obat dan cek lab juga bisa dilakukan melalui Halodoc.