Pengidap Dermatitis Herpetiformis Jauhi 9 Makanan Ini

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Pengidap Dermatitis Herpetiformis Jauhi 9 Makanan Ini

Halodoc, Jakarta – Sebaiknya jangan sepelekan ketika kamu mengalami beberapa gangguan kesehatan pada kulit, seperti rasa gatal yang berlebihan pada kulit yang disertai munculnya kondisi kulit terbakar pada beberapa bagian tubuh seperti wajah, tangan, lutut, bahu maupun punggung.

Baca juga: Kulit Terbakar dan Melepuh, Ini Gejala Dermatitis Herpetiformis

Bisa jadi kamu mengalami gangguan kesehatan pada kulit, seperti dermatitis herpetiformis. Dermatitis herpetiformis adalah salah satu gangguan kulit yang sebenarnya jarang terjadi dan disebabkan oleh adanya penyakit autoimun yang berdampak pada kulit tubuh kamu.

Pengidap Dermatitis Herpetiformis, Sebaiknya Hindari Makanan Ini

Kondisi ruam dan gatal ini disebabkan adanya autoimun yang berkaitan dengan kondisi gluten sensitive enteropathy (GSE). Kondisi ini terjadi ketika kamu mengonsumsi makanan yang mengandung gluten sehingga menyebabkan sistem kekebalan imun bereaksi terhadap kondisi ini.

Hindari jenis makanan yang mengandung gluten untuk menghindari kondisi yang semakin memburuk. Gluten merupakan jenis protein yang dapat ditemukan pada padi-padian dan serelia. 

Ketahui jenis makanan yang mengandung gluten dan sebaiknya kamu hindari, di antaranya:

  1. Gandum.

  2. Gandum Hitam.

  3. Roti.

  4. Pasta.

  5. Sereal.

  6. Jagung.

  7. Quinoa.

  8. Tapioka.

  9. Sorgum.

Baca juga: Adakah Pencegahan untuk Penyakit Dermatitis Herpetiformis?

Tidak hanya makanan yang mengandung gluten, ada beberapa faktor yang meningkatkan seseorang mengalami kondisi dermatitis herpetiformis, seperti riwayat keluarga dengan kondisi yang serupa, memiliki penyakit diabetes, memiliki penyakit kelenjar tiroid dan kolitis.

Lakukan Pengobatan pada Dermatitis Herpetiformis

Kondisi dermatitis herpetiformis masih tergolong ringan. Namun, ketika kamu mengalami gejala yang disertai dengan diare, perubahan warna kulit menjadi pucat, dan gangguan pencernaan lebih dari dua minggu, segera periksa kesehatan kamu pada rumah sakit terdekat agar kondisi dapat diatasi dengan pengobatan yang tepat.

Pengobatan yang dilakukan juga disesuaikan dengan tingkat penyakit yang dialami. Pemberian obat-obatan dan diet gluten menjadi cara yang bisa dilakukan untuk pengobatan terhadap kondisi ini. Penggunaan obat menggunakan steroid, losion kalamina, dan sulfapyridine dapat mengurangi inflamasi yang diakibatkan adanya dermatitis herpetiformis.

Lalu, bagaimana untuk memulai diet gluten? Diet bebas gluten atau gluten free adalah pola makan ketika kamu tidak mengonsumsi protein gluten. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu makanan apa saja yang bebas gluten agar diet gluten kamu dapat berjalan dengan lancar.

Ada beberapa sumber makanan yang bisa dikonsumsi untuk kamu yang melakukan diet gluten, seperti daging, makanan laut, telur, buah-buahan, sayur-sayuran, jenis kacang, dan mentega.

Jika kamu memutuskan untuk mengonsumsi makanan di luar rumah, pastikan makanan yang dikonsumsi dengan memerhatikan label pada kemasan makanan. Selain itu, pastikan makanan yang dikonsumsi bebas gluten dengan bertanya pada staf restoran yang menjadi tempat kamu makan agar kondisi dermatitis herpetiformis tidak semakin memburuk.

Baca juga: Adakah Pengobatan Rumahan untuk Dermatitis Herpetiformis?

Selain memperhatikan makanan yang dikonsumsi, kamu bisa melakukan gaya hidup yang sehat untuk mencegah kondisi dermatitis herpetiformis menjadi lebih parah. Sebaiknya gunakan obat-obatan sesuai dengan anjuran dokter dan hindari aktivitas yang menyebabkan tubuh beraktivitas. Jangan lupa untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit agar tidak mudah mengalami infeksi. Rutin mengganti pakaian dan melakukan pemeriksaan pada dokter secara rutin untuk mencegah gejala dermatitis herpetiformis semakin berkembang.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Dermatitis Herpetiformis
Medical News Today. Diakses pada 2019. What Is Gluten?
Healthline. Diakses pada 2019. Gluten Intolerance Food List
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Nutrition and Healthy Eating