Adakah Pengobatan Rumahan untuk Dermatitis Herpetiformis?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Adakah Pengobatan Rumahan untuk Dermatitis Herpetiformis?

Halodoc, Jakarta – Gangguan autoimun ternyata juga bisa menyerang kulit. Kondisi ini dinamakan dermatitis herpetiformis, yaitu penyakit autoimun yang menyebabkan ruam kemerahan dan terasa gatal. Lantas, bisakah dermatitis herpetiformis diobati? Ini faktanya.

Baca Juga: 4 Jenis Penyakit Kulit yang Perlu Diwaspadai

Dermatitis Herpetiformis Bisa Diobati Secara Mandiri di Rumah

Pengobatan dermatitis herpetiformis tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Secara umum, ada hal yang bisa dilakukan di rumah untuk mengatasi gejala dermatitis herpetiformis, yaitu:

  • Rendam kulit ke dalam air dingin untuk meredakan bengkak dan gatal;

  • Lakukan diet gluten alias tidak konsumsi makanan sumber gluten seperti roti, kue kering, mie, sereal, dan makanan yang dipanggang.

  • Gunakan obat yang diresepkan dokter sesuai anjuran;

  • Hindari aktivitas yang membuat tubuh keringat berlebihan;

  • Bersihkan kulit untuk mengurangi risiko infeksi yang lebih parah;

  • Rutin mencuci pakaian, handuk, sprei, dan benda lain yang kontak langsung dengan kulit;

  • Rutin melakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami keluhan pada kulit.

Sebaiknya segera bicara pada dokter jika gejala dermatitis herpetiformis memburuk, bahkan setelah diobati. Tanpa harus antre, sekarang kamu bisa membuat janji dengan dokter secara online di rumah sakit pilihan di sini

Baca Juga: 4 Penyakit Autoimun yang Langka dan Berbahaya

Kenali Gejala dan Penyebab Dermatitis Herpetiformis

Gejala khas dermatitis herpetiformis adalah munculnya ruam kemerahan yang terasa gatal. Pada kasus yang parah, ruam terasa seperti kulit terbakar atau melepuh. Biasanya ruam muncul di area kulit kepala, wajah, siku, lengan bawah, lutut, bahu, punggung, dan bokong. Jangan ragu bicara pada dokter Halodoc lewat fitur Tanya Dokter jika tiba-tiba muncul ruam kemerahan di kulit.

Lantas, mengapa dermatitis herpetiformis terjadi? Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor. Secara umum, seseorang berisiko tinggi mengalami dermatitis herpetiformis jika ada riwayat keluarga dengan kondis serupa dan mengalami masalah kesehatan tertentu. Misalnya, diabetes tipe 1, sindrom down, sindrom turner, penyakit kelenjar tiroid, sindrom sjogren, dan kolitis.

Baca Juga: Kenali 4 Jenis Dermatitis dan Cara Mengatasinya

Beda Dermatitis Herpetiformis dan Jenis Lainnya

Selain dermatitis herpetiformis, ada beberapa jenis dermatitis lain yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Dermatitis atopik (eksim). Seringnya terjadi pada masa bayi akibat reaksi alergi. Kondisi  ini ditandai dengan ruam kemerahan yang terasa gatal, rentan muncul di siku, belakang lutut, atau area depan leher. Ketika tergores, ruam bisa mengeluarkan cairan dan mengeras.

  • Dermatitis kontak, disebabkan karena kontak langsung dengan zat tertentu. Jenis ini mirip dengan dermatitis atopik, karena terjadi akibat reaksi alergi. Gejalanya adalah ruam kemerahan yang terasa gatal, disertai dengan pembengkakan, kulit kering, bersisik, pecah-pecah, lecet, hingga melepuh.

  • Dermatitis seboroik, merupakan penyakit kulit yang rentan menyerang kulit kepala dan area tubuh berminyak. Misalnya, punggung, wajah, dahi, ketiak, pangkal paha, dan dada bagian atas. Kondisi ini ditandai dengan kulit terasa gatal atau seperti terbakar, kulit kepala berwarna kemerahan, ketombe, kulit mengelupas, kelopak mata menjadi kemerahan (blefaritis), serta kulit bersisik berwarna putih atau kuning.

  • Dermatitis statis, rentan terjadi pada orang dengan sirkulasi darah yang buruk. Biasanya terjadi di kaki bagian bawah, dengan gejala yang mirip dengan jenis dermatitis lainnya. Namun pada kasus yang parah, kondisi ini berpotensi membuat darah bocor dan menggenang di kaki.